Kim Jiwon berdiri termangu di depan gerbang besi tempa tinggi yang menjulang angkuh, menandai batas kediaman utama keluarga Kim. Struktur itu, dengan ornamen-ornamen rumit dan warnanya yang gelap, terasa kaku dan dingin, seperti kulit luar yang ia kenali dan takuti dari suaminya, Kim Soohyun. Jantungnya berdebar, bunyi ganjil yang bukan lagi murni karena rasa takut, melainkan perpaduan getir antara gejolak keputusasaan dan amarah yang belum terpecahkan.
Udara sore itu dingin, menusuk kulit tangannya yang memegang erat tas tangan. Jari-jarinya yang pucat dan gemetar menekan keras tombol interkom.
"Siapa?" Suara bariton formal terdengar dari speaker.
"Ini saya. Kim Jiwon."
Terdengar jeda yang panjang, seolah identitasnya harus diverifikasi dalam basis data penting. Kemudian, gerbang besi itu berderit pelan, sebuah bunyi panjang yang terasa seperti erangan. Begitu celah cukup besar, Jiwon melangkah masuk.
Seorang pelayan tua, Tuan Park, dengan wajah yang ramah namun penuh kehati-hatian, telah menunggu di depan pintu utama. Sorot matanya yang berpengalaman segera menangkap kekacauan tanpa suara di wajah Jiwon.
"Nyonya Besar ada di rumah, Tuan Park?" tanya Jiwon, suaranya parau dan serak, sebuah hasil brutal dari tangisan tertahan yang menjadi teman perjalanannya dari apartemen mereka.
Tuan Park mengangguk, matanya menunduk hormat. "Ada, Nyonya. Nyonya Besar sedang di ruang teh. Beliau tidak mengharapkan kunjungan, tetapi silakan, Nyonya." Ia memberi isyarat ke dalam.
Jiwon melangkah di atas lantai marmer mengilap yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal. Lorong itu sunyi, udara di sana teramat bersih, hanya menyisakan aroma samar perabot mahal dan kebekuan emosional. Ia berjalan menuju ruang teh, di mana keharuman teh melati premium beradu dengan wangi kemenyan mahal, menciptakan suasana kemewahan yang menenangkan sekaligus menyesakkan.
Di sana, Nyonya Kim, ibu mertuanya, duduk tegak di sofa beludru, menyesap teh dengan gerakan tangan yang anggun dan terukur. Ia mengenakan Hanbok modern berwarna krem keemasan yang berkelas, rambutnya tertata rapi.
Nyonya Kim mengangkat pandangannya dari cangkir porselennya, dan saat matanya bertemu dengan sosok Jiwon yang tampak berantakan, cangkir teh di tangannya nyaris terlepas. Ketenangan elegan itu runtuh dalam sekejap. Wajahnya seketika diliputi kekhawatiran yang nyata dan tulus.
"Jiwon-ah? Ya Tuhan, kenapa kau kemari tanpa memberitahu?" Nyonya Kim meletakkan cangkir dengan suara berdebam kecil, lalu dengan cepat ia bangkit dan berjalan cepat, bahkan hampir berlari, menghampiri menantunya.
Jiwon merasakan pelukan hangat yang tiba-tiba. Aroma parfum ibu mertuanya, campuran mawar Bulgaria dan cendana, terasa akrab dan mendamaikan.
"Ada apa? Apakah Soohyun melakukan sesuatu yang melukaimu? Kenapa kau terlihat.. begitu hancur?" Nyonya Kim memegang bahu Jiwon, matanya yang tua meneliti lingkaran hitam di bawah mata dan pipi sembab menantunya.
Pada titik itulah pertahanan terakhir Jiwon runtuh. Ia merasa seolah semua bebannya telah berpindah ke bahu sang ibu mertua. Ia jatuh tersungkur ke sofa terdekat, dan isak tangis yang tertahan selama berjam-jam pecah menjadi tangisan menyayat.
"Aku.. aku tidak tahu harus ke mana lagi, Ibu," bisiknya, suaranya tercekat oleh air mata di tenggorokan.
Nyonya Kim segera duduk di sampingnya, mendekap Jiwon. Ia memegang kedua tangan menantunya yang dingin dengan kehangatan yang mengalir. "Tenanglah, sayang. Shh.. Ambil napas dalam-dalam, hirup bau teh melati ini. Ceritakan padaku, pelan-pelan. Ada apa? Kau sangat terguncang."
Jiwon menarik napas yang dalam dan bergetar, berusaha mengumpulkan kepingan logikanya yang tersisa. "Ibu, aku.. aku tidak mengerti. Ada yang salah dengan Soohyun. Ia bisa berubah dalam sekejap, seperti.. membalik telapak tangan," ia memulai, suaranya sedikit lebih stabil.
