Hong Haein terbangun dengan perasaan sangat nyaman. Rasa dingin yang selalu menyelimutinya setelah interaksi dengan orang tuanya kini jauh berkurang, digantikan oleh kehangatan Baek Hyunwoo yang menyeluruh.
Ia menyadari bahwa ia tidur dalam posisi meringkuk yang dalam, kepalanya bersandar tepat di dada Hyunwoo, dan salah satu kaki Hyunwoo melingkari kakinya di bawah selimut. Pelukan ini bukan lagi ketidaksengajaan tidur; ini adalah hasil dari keinginannya sendiri untuk mencari kehangatan itu sebelum tertidur, dan pertanda kebutuhan yang nyata.
Haein mendongak, melihat wajah Hyunwoo yang masih tertidur. Wajah Hyunwoo saat tidur tampak tenang dan damai, jauh dari citra Wakil Presiden Direktur yang cerdas dan tegas.
Haein membiarkan dirinya menikmati momen itu. Ia mendengarkan detak jantung Hyunwoo yang stabil di bawah telinganya. Itu adalah suara keamanan, sebuah ritme yang menenangkan.
Tiba-tiba, Hyunwoo bergerak. Ia menghela napas, dan secara naluriah, ia mempererat pelukannya pada Haein, menariknya lebih dekat.
Haein tersenyum tipis. Tidak ada lagi rasa malu atau canggung. Hanya ada penerimaan yang mendalam. Ia bersandar lebih dalam, membiarkan Hyunwoo menjadi penyangganya.
Hyunwoo membuka matanya. Ia menatap Haein, yang kini menatapnya balik, mata Ratu Es itu kini lembut.
"Selamat pagi, istriku," bisik Hyunwoo, suaranya serak dan dalam. Ia tidak melepaskan pelukan itu.
"Selamat pagi," balas Haein, suaranya lembut. Ia tidak memprotes posisi intim mereka. Bahkan, ia merasa enggan untuk beranjak.
"Bagaimana perasaan Komet pagi ini?" tanya Hyunwoo, suaranya penuh perhatian.
Haein menggerakkan tangan Hyunwoo, yang masih berada di perutnya. "Dia tenang. Dia tahu perisainya ada di sini. Dia merasa nyaman."
Hyunwoo tertawa pelan. "Perisai tidak akan bergerak. Ini Hari Minggu. Kita akan menghabiskan hari ini persis seperti ini."
"Tidak," kata Haein, perlahan keluar dari pelukan Hyunwoo, tetapi ia segera meraih tangan Hyunwoo dan menggenggamnya. Energi chaebol kembali. "Kita akan ke ruang tamu. Aku akan membiarkanmu memilih satu film. Tapi setelah itu, kita harus mulai mempersiapkan rapat dewan. Aku tidak bisa membiarkan Ayahku mengambil alih kendali hanya karena dia merasa aku 'beristirahat'."
Hyunwoo melihat ada semangat baru di mata Haein. Semangat untuk melawan, didorong oleh kebutuhan untuk melindungi Komet-sebuah naluri yang kuat.
"Baiklah," kata Hyunwoo. Ia bangkit, meraih bathrobe-nya. "Film yang kusut. Rapat dewan yang dingin. Tapi kita akan menghadapinya bersama, sebagai tim. Aku akan memesan sarapan dan membuatkan teh. Aku yakin kau belum minum vitaminmu."
"Aku memang belum," kata Haein, tersenyum kecil, senyum yang disengaja. "Aku menunggu izin dari manajer keselamatanku, Tuan Baek. Aku tidak mau melanggar protokol."
Haein kini tidak hanya bergantung; ia menggodanya dengan ketergantungan itu. Ia telah sepenuhnya menerima Hyunwoo sebagai bagian penting dari hidupnya. Mereka tidak lagi hanya melawan satu sama lain, tetapi mereka bersatu, siap menghadapi dunia chaebol yang dingin demi keamanan Komet.
###
Baek Hyunwoo dan Hong Haein menghabiskan pagi itu di ruang tamu mansion. Hyunwoo telah mengatur sarapan yang lezat dan memastikan Haein minum vitaminnya. Setelah membahas beberapa poin strategis untuk rapat dewan minggu depan (sebagai pemanasan), mereka memutuskan untuk bersantai.
"Kau saja yang pilih filmnya," kata Hyunwoo, menyerahkan remote kepada Haein.
Haein, yang biasanya memilih film dokumenter serius tentang ekonomi global atau sejarah, hari ini memilih sesuatu yang berbeda. "Aku ingin sesuatu yang tidak perlu banyak berpikir. Komedi romantis klasik."
