Cahaya pagi menyusup lembut melalui jendela besar di apartemen mewah yang terletak di jantung kota Seoul. Di kamar utama yang hangat, aroma kopi samar beradu dengan wangi linen bersih. Di sanalah, di antara tumpukan selimut, Baek Hyunwoo perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia cari adalah wajah damai Hong Haein di sebelahnya. Ia tersenyum, menggeser lengan dengan hati-hati agar tidak membangunkan istrinya.
Namun, senyumnya sedikit memudar saat menyadari gurat lelah di sudut mata Haein dan kulitnya yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. Baek Hyunwoo tahu betul, hari-hari baik dan hari-hari sulit datang silih berganti bagi Haein. Penyakit kronis yang dideritanya, meskipun tidak selalu terlihat dari luar, seringkali menguras tenaganya.
"Sayang.. pagi," bisik Hyunwoo lembut, mengusap poni Haein dari dahinya.
Haein menggeliat pelan, matanya yang indah mengerjap terbuka. Senyum hangat langsung terukir di bibirnya saat melihat suaminya. "Pagi juga, Hyunwoo," jawabnya, suaranya sedikit serak namun penuh kasih sayang.
Hyunwoo mengecup keningnya. "Bagaimana perasaanmu hari ini? Ada yang sakit?" tanyanya penuh perhatian.
Haein menggeleng, meskipun Hyunwoo bisa melihat usahanya. "Tidak, aku baik-baik saja. Hanya.. sedikit lelah." Ia meraih tangan Hyunwoo, menggenggamnya erat. Genggaman itu terasa sedikit lemah, membuat Hyunwoo semakin khawatir.
"Kau tidak perlu memaksakan diri. Jika butuh istirahat lagi, katakan saja. Aku bisa membatalkan jadwalku," ujar Hyunwoo cepat.
Haein tersenyum kecil. "Tidak, tidak. Aku tidak selemah itu. Aku sudah lebih baik." Ia mencoba bangkit duduk, namun terhuyung sedikit. Hyunwoo sigap menahan bahunya.
"Lihat? Jangan memaksakan diri," tegur Hyunwoo lembut namun tegas. Ia mengambil segelas air dan pil obat dari nakas samping. "Minum obatmu dulu, ya?"
Haein menerima pil itu dengan senyum terima kasih. Ia tahu Hyunwoo selalu mengkhawatirkannya, kadang berlebihan, tetapi ia menghargai setiap perhatian kecil itu. Ia menelan obatnya, pandangannya beralih pada ranjang bayi di sudut ruangan.
"Soobin sudah bangun?" tanyanya, suaranya sedikit lebih hidup.
Seolah mendengar namanya, terdengar suara rengekan kecil disusul celotehan riang dari ranjang bayi. "Ah, dia sudah tidak sabar bertemu Eomma dan Appa," kata Hyunwoo, matanya berbinar. Ia beranjak menghampiri ranjang Soobin, mengangkat putri kecil mereka yang berusia sekitar delapan bulan itu dengan hati-hati.
"Putri Appa yang cantik!" seru Hyunwoo, menciumi pipi gembil Soobin. Soobin tertawa riang, menggapai-gapai wajah ayahnya.
Haein tersenyum hangat melihat interaksi ayah dan anak itu. Momen-momen seperti inilah yang memberinya kekuatan untuk terus berjuang menghadapi penyakitnya. Melihat Hyunwoo yang sangat mencintainya dan Soobin yang adalah buah cinta mereka, terasa seperti anugerah terbesar.
Saat ketiganya berbagi tawa dan kehangatan keluarga kecil mereka, interkom di dinding berbunyi. Hyunwoo beranjak untuk melihat siapa yang datang. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat nama di layar.
"Eommonim datang," gumamnya pada Haein. Ada nada sedikit tegang dalam suaranya.
Haein menegang sesaat, senyumnya sedikit memudar. Ia tahu, kunjungan ibu mertuanya, Jeon Bongae, seringkali diwarnai oleh ketegangan tak terlihat. Jeon Bongae, seorang wanita dari keluarga terpandang dengan standar tinggi, tidak pernah sepenuhnya menerima Haein. Bukan karena latar belakang Haein buruk, tetapi karena ia bukan dari lingkaran sosial yang diharapkan Nyonya Baek, dan yang terpenting, kondisi kesehatan Haein selalu menjadi sumber kekhawatiran dan kritik halus baginya.
Bel pintu berdering. Hyunwoo menghela napas pelan, lalu tersenyum pada Haein. "Tidak apa-apa. Aku di sini."
Hyunwoo membuka pintu. Di ambang pintu berdiri Jeon Bongae, mengenakan hanbok modern yang elegan, auranya dingin dan berwibawa. Di sampingnya, Tuan Baek, Baek Doogwan tersenyum lebih ramah.
