Impossible

923 81 8
                                        

Suara gemerincing sendok beradu dengan cangkir keramik, bisikan percakapan, dan aroma kopi hangat mengisi udara kafe yang ramai sore itu di distrik Hongdae. Haein memilih sudut terjauh, berharap sedikit ketenangan di tengah hiruk pikuk. Di hadapannya terhampar buku yang seharusnya ia baca, namun pandangannya mengembara tanpa tujuan pasti. Ia menghela napas pelan, berusaha mengusir perasaan hampa yang sering menghinggapinya belakangan ini.

Tiba-tiba, senyumnya yang tipis membeku. Matanya terpaku pada sepasang muda-mudi yang baru saja duduk di salah satu meja di tengah kafe. Sosok laki-laki itu begitu familiar, begitu melekat dalam setiap detak jantungnya. Itu Hyunwoo, adik laki-lakinya. Di sebelahnya duduk seorang gadis yang juga ia kenal – Hyejin, kekasih Hyunwoo.

Haein merasakan desiran dingin menjalari tulang punggungnya, kontras dengan kehangatan kafe. Ia menyaksikan Hyunwoo menarik kursi untuk Hyejin dengan sopan, senyum cerah mengembang di wajahnya. Senyum itu.. ah, senyum itu adalah senyum yang sama yang selalu membuat lutut Haein terasa lemas, senyum yang penuh kehangatan dan kebaikan yang hanya ia dapatkan sebagai seorang kakak, tidak pernah lebih.

Mereka memesan minuman, dan percakapan mengalir dengan mudah di antara mereka. Haein hanya bisa menangkap potongan-potongan kalimat, namun melihat bahasa tubuh mereka sudah lebih dari cukup untuk meremukkan hatinya. Hyunwoo mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Hyejin saat gadis itu berbicara, matanya berbinar penuh perhatian. Hyejin tertawa renyah pada sesuatu yang dikatakan Hyunwoo, dan Hyunwoo ikut tersenyum, tangannya meraih jemari Hyejin di atas meja dan menggenggamnya lembut.

Adegan itu, begitu sederhana, begitu normal bagi sepasang kekasih. Namun bagi Haein, itu adalah gambaran yang paling menyakitkan di dunia. Ia melihat masa depan yang tidak akan pernah menjadi miliknya terbentang di depan matanya – kebahagiaan Hyunwoo, cinta yang ia bagi, sentuhan lembut itu.

"Aku sudah bilang Ibu tentang kamu," suara Hyunwoo terdengar samar, tapi cukup jelas ditangkap telinga Haein. "Beliau senang sekali, ingin bertemu denganmu minggu depan."

Haein merasakan dunia di sekitarnya runtuh perlahan. Ibunya, ayahnya.. mereka sudah menerima Hyejin ke dalam lingkaran keluarga. Hyejin bukan lagi sekadar 'kekasih' Hyunwoo, ia sedang dalam proses menjadi bagian dari keluarga mereka. Keluarga di mana Haein juga berada.

Sebuah tawa bahagia keluar dari Hyejin, "Benarkah? Aku jadi gugup.. tapi juga tidak sabar."

Hyunwoo meremas tangan Hyejin, tatapan matanya begitu lembut, penuh afeksi yang tulus. "Jangan gugup, mereka pasti akan langsung menyukaimu. Sama sepertiku."

Kata-kata terakhir itu, diucapkan dengan nada penuh kasih sayang yang hanya ditujukan untuk Hyejin, menghantam Haein seperti gelombang dingin. Sama sepertiku. Ia mencintai Hyejin. Lebih dari sekadar suka, lebih dari sekadar perhatian. Itu adalah cinta yang diakui dan dibalas.

Haein menarik napas tajam, berusaha menahan air mata yang sudah mendesak di sudut matanya. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena harapan, melainkan karena rasa sakit yang akut. Perasaan yang selama bertahun-tahun ia coba ingkari, ia coba lupakan, kini berteriak keras dalam dadanya, mengingatkannya pada kebenaran yang menyedihkan, ia mencintai adik laki-lakinya sendiri, seseorang yang tak akan pernah bisa ia miliki, seseorang yang kini jelas-jelas telah menemukan cintanya pada orang lain.

Senyum di wajah Hyunwoo saat ia menatap Hyejin.. itu adalah senyum kebahagiaan yang membuat Haein merasa seperti penyusup, pengamat yang tidak berhak atas dunia yang dibagi dua orang di depannya. Ia merasa bodoh, konyol, dan sangat kesepian. Setiap tawa Hyejin, setiap sentuhan Hyunwoo, mengukir luka baru di hatinya. Ia tahu saat itu, dengan kepastian yang menusuk, bahwa perasaannya adalah kesalahan yang besar, dan ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan penderitaannya ini. Melihat mereka bersama, begitu serasi dan bahagia, adalah kenyataan pahit yang harus ia telan mentah-mentah, dan rasanya seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Di tengah kafe yang hangat, hati Haein terasa membeku, senyum di bibirnya – atau setidaknya potensi senyum itu – telah patah berkeping-keping.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang