Beyond the Boundary 7

498 82 16
                                        

​Baek Hyunwoo terbangun saat fajar, merasakan dirinya lebih segar dari biasanya. Genggaman tangan Haein semalam masih terasa nyata—sebuah bukti tak terbantahkan bahwa, meskipun Haein bersikap dingin dan canggung di siang hari, secara naluriah, wanita itu mulai bergantung padanya.

​Ia segera bangkit, memastikan dirinya sudah rapi, mengenakan kemeja dan celana bahan yang nyaman sebelum Haein bangun. Hyunwoo menuju dapur utama, yang mengejutkan Tuan Park dan kepala koki.

​"Tuan Baek, sarapan Nyonya Hong sudah hampir siap," lapor Tuan Park, bingung melihat Wakil Presiden Direktur KS Group berdiri di ambang dapur.

​"Aku tahu," kata Hyunwoo, suaranya kembali ke mode yang efisien. "Aku hanya ingin memastikan buburnya memiliki suhu yang tepat—tidak terlalu panas—dan supnya tidak terlalu asin. Dan siapkan segelas jus apel segar, yang baru diperas, bukan yang dingin. Nyonya Hong.. dia sensitif terhadap dingin pagi hari ini."

​Hyunwoo menyadari ia berbicara seperti suami yang sudah menikah selama bertahun-tahun, mengetahui setiap kebiasaan istrinya. Ia buru-buru menambahkan, "Ini untuk mempertahankan efisiensi bisnisnya, Tuan Park. Kondisi fisik yang prima adalah kunci kinerja Queens Group."

​Tuan Park, seorang profesional ulung, hanya membungkuk. "Tentu, Tuan Baek. Saya akan pastikan semuanya sesuai spesifikasi Anda."

​Setelah memastikan semuanya terkendali di dapur, Hyunwoo kembali ke kamar. Haein sudah bangun dan sedang merapikan rambutnya yang panjang di meja rias, wajahnya sedikit lebih lembut dari biasanya.

​"Pagi, Haein," sapa Hyunwoo.

​"Pagi, Hyunwoo," balas Haein. Ia menatap Hyunwoo melalui cermin, matanya tidak lagi menunjukkan kejutan atas kehadirannya.

​Hyunwoo berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di kursi kecil di samping meja rias. Haein menatapnya dengan curiga.

​"Apa yang kau lakukan? Kau tidak sedang memeriksa suhu tubuhku lagi, kan?" sindir Haein, mengacu pada insiden di Tokyo.

​Hyunwoo tersenyum tipis, menerima godaan itu. "Tidak. Aku hanya ingin memastikan kau tidak mengenakan pakaian yang terlalu ketat. Dokter bilang, pakaian harus nyaman selama trimester pertama. Dan juga, aku sudah menaruh vitaminmu di sebelah gelas tehmu. Jangan lupakan itu, Haein."

​Haein menghela napas, setengah jengkel, setengah lega karena ia tidak perlu memikirkan detail-detail itu.

​"Aku sudah memilih pakaian yang longgar, Hyunwoo. Kau tidak perlu khawatir," kata Haein, lalu ia menghela napas. "Terima kasih. Aku menghargai 'manajemen risiko' yang kau lakukan."

​Hyunwoo mengangguk. "Aku melakukan ini bukan hanya untukmu, Haein. Aku melakukan ini untuk 'plum' kita. Setiap detail adalah investasi krusial."

​Haein menoleh sepenuhnya, menatap Hyunwoo. Kali ini, ia tidak membantah, hanya menatapnya dengan kehangatan yang mendalam.

​"Aku tahu," balas Haein, suaranya pelan. "Dan aku menghargainya. Tapi jangan terlalu berlebihan di kantor. Hari ini ada pemegang saham Queens yang datang dari luar negeri. Mereka mencari kelemahan, dan kau tidak boleh terlihat.. lunak."

​"Jangan khawatir," kata Hyunwoo, berdiri. Ia mengulurkan tangan. "Ayo. Sarapan. Aku akan menjadi perisai di depan umum, Wakil Presdir yang kejam di kantor, dan suami yang merepotkan di balik pintu tertutup. Itu kesepakatan kita, kan? Peran ganda."

​Haein meletakkan tangannya di tangan Hyunwoo, membiarkan Hyunwoo membantunya berdiri. Sentuhan mereka kini terasa biasa, dan tatapan mata mereka semakin lama menyimpan pengakuan yang tulus.

###

​Baek Hyunwoo menggenggam tangan Hong Haein saat mereka berjalan keluar dari kamar utama. Ini sudah menjadi kebiasaan baru, sebuah kontak fisik yang disamarkan sebagai dukungan fisik untuk Haein, tetapi sebenarnya adalah cara Hyunwoo untuk merasakan kehadiran Haein dan bayi mereka.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang