Two Sides of the Same Heart 2/4

320 70 3
                                        

​Sejak kejadian di taman, kehidupan pernikahan Kim Jiwon dan Kim Soohyun menjelma menjadi sebuah rollercoaster emosi yang membingungkan. Setiap hari adalah tarian tak terduga antara kehangatan yang mendebarkan dan dinginnya keterasingan. Jiwon harus belajar menavigasi dua versi dari suaminya, yang terasa seperti dua orang berbeda yang berbagi satu tubuh.

​Pagi itu, Jiwon terbangun oleh sentuhan hangat matahari yang menyusup dari balik tirai. Ia mengerjap, menyadari kebahagiaan yang samar merayap di hatinya. Di sisi ranjang yang lain, ia melihat Soohyun sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Rambut hitamnya yang basah oleh sisa air mandi tampak berkilau. Pria itu tersenyum kecil pada pantulan dirinya, senyum yang begitu tulus hingga membuat hati Jiwon berdebar.

​"Selamat pagi, istriku," sapa Soohyun, suaranya terdengar lembut dan hangat, seperti melodi yang menenangkan. "Tidur nyenyak?"

​Jiwon merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Ini adalah Soohyun yang lembut dan penuh perhatian, yang membuatnya merasa seperti satu-satunya wanita di dunia. "Selamat pagi," jawabnya, suaranya sedikit bergetar, terkejut dan bahagia secara bersamaan.

​"Sini, aku buatkan sarapan," ajak Soohyun, menatapnya dari balik cermin dengan mata yang berbinar.

​Jiwon mengangguk, hatinya dipenuhi kehangatan. Sarapan mereka pagi itu adalah panekuk yang dibuat oleh tangan Soohyun sendiri, dihiasi dengan stroberi dan krim kocok. "Ini enak sekali, Hyun," puji Jiwon, matanya tak bisa lepas dari senyum tipis di bibir pria itu.

​Setelah sarapan, Soohyun mengantar Jiwon ke toko bahan makanan. Di dalam mobil, Soohyun meraih tangan Jiwon, menggenggamnya erat. Sesekali, ibu jarinya mengusap punggung tangan Jiwon dengan lembut. "Aku sudah memikirkan nama untuk anjing kita nanti," bisiknya, suaranya penuh antusiasme. "Bagaimana kalau Bonggu? Atau Ggongji?"

​Jiwon tertawa, kepalanya disandarkan di bahu Soohyun. "Kenapa bukan nama yang lebih keren?"

​"Tidak, nama-nama itu lucu. Seperti kita," Soohyun mengeratkan genggamannya. Ia juga berbicara tentang rencana mereka untuk menghabiskan akhir pekan di pedesaan, jauh dari hiruk pikuk kota. Jiwon merasa bahagia, merasa dicintai dan diperhatikan. Ia nyaris lupa akan dua versi Soohyun yang ia hadapi.

​Namun, saat mereka tiba di depan toko, sihir itu tiba-tiba pecah. Soohyun tiba-tiba melepas genggaman tangannya. Senyum di wajahnya menghilang, dan matanya kembali ke tatapan dingin dan kosong yang Jiwon hafal betul.

​"Jiwon, kau bisa berbelanja sendiri, kan?" tanyanya, suaranya kembali ke nada profesional yang kaku, bahkan terdengar sedikit tergesa-gesa. "Aku ada panggilan penting yang harus kujawab. Cepatlah, aku harus pergi."

​Jiwon merasa hatinya kembali remuk. Perubahan itu begitu cepat, begitu drastis. Ia seolah tersentak dari mimpi indah. "Tentu saja," jawabnya, suaranya serak. Ia turun dari mobil, dan Soohyun langsung tancap gas, meninggalkan Jiwon di sana, sendirian.

​Jiwon tidak mengerti. Bagaimana bisa seseorang berubah secepat itu? Bagaimana mungkin percakapan tentang anjing dan akhir pekan bisa seolah tak pernah ada?

​Di lain waktu, Jiwon sedang menonton film di ruang tengah, saat pintu depan terbuka dan Soohyun masuk. Wajahnya tampak lelah, garis rahangnya mengeras. Jiwon menyapanya, tetapi pria itu hanya mengangguk singkat. Soohyun duduk di sofa lain, sibuk dengan ponselnya. Ruangan yang tadinya hangat tiba-tiba terasa begitu asing dan dingin.

​Jiwon memberanikan diri. "Kau ingin nonton bersamaku?"

​Soohyun tidak menjawab. Ia hanya terus menatap layar ponselnya. Jemarinya sibuk mengetik, ekspresinya kaku dan tak terbaca. Jiwon merasa sakit hati. Ia mematikan televisi dan pergi ke kamar, menahan air mata yang sudah ingin tumpah.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang