Hujan dingin membasahi Kota Aetherium, ibu kota Kekaisaran Cheon. Hong Haein, seorang putri dari Kerajaan Silla yang kini menjadi tawanan perang, menatap keluar jendela menara tempat ia dikurung. Matanya kosong, tidak lagi menampakkan cahaya dari kehidupan yang penuh semangat. Ini adalah keenam kalinya ia menyaksikan pemandangan ini. Keenam kalinya ia merasakan kekalahan, kehancuran, dan kehampaan.
Dalam kehidupan pertamanya, ia adalah seorang putri yang penuh ambisi, mencoba mencegah perang. Ia gagal. Perang pecah, dan ia mati di tangan seorang pangeran berwajah dingin, Baek Hyunwoo.
Dalam kehidupan keduanya, ia memilih meninggalkan kerajaan dan menjadi seorang kesatria. Ia bersumpah akan menghentikan perang, bertarung dengan gagah berani, tetapi ia kembali bertemu Baek Hyunwoo. Di medan pertempuran, pedang Hyunwoo menembus jantungnya, mengakhiri perlawanan yang sia-sia.
Lima kali. Lima kali ia mati di tangan pria yang sama. Lima kali ia menyaksikan Kerajaan Silla, tanah kelahirannya, runtuh di bawah kekuatan Kekaisaran Cheon. Ia tidak mengerti. Ia tidak pernah bisa mengerti mengapa takdir terus-menerus mengikatnya pada pria yang ia benci, tetapi juga yang paling ia kagumi. Dalam kehidupan keenamnya, ia memilih jalan yang berbeda. Ia kembali meninggalkan kerajaan dan menjadi mata-mata, menyusup ke istana Kekaisaran Cheon, berniat membunuh Baek Hyunwoo sebelum perang dimulai. Ia hampir berhasil. Pedang beracunnya hanya kurang beberapa senti dari leher pria itu. Namun, Hyunwoo, yang telah menjadi Kaisar, memegang tangannya dengan kuat.
"Kau.. wanita dari Silla itu," gumam Hyunwoo, matanya yang tajam menatapnya tanpa ampun. "Aku melihatnya di matamu. Kebencian. Tapi mengapa kau tidak membunuhku?"
Haein terdiam. Di matanya, ia melihat seorang Kaisar tak terkalahkan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya. Tangannya gemetar.
"Sebab.. aku sudah lelah," bisik Haein, air mata mengalir dari matanya. "Aku lelah melihat kehancuran ini. Aku lelah bertarung.. dan aku lelah mati."
Hyunwoo melepaskan tangannya. Ia tidak membunuhnya, tetapi memenjarakannya. Dan di menara itu, Haein menyaksikan kehancuran Kerajaan Silla untuk keenam kalinya. Kematiannya datang dengan tenang, tidak di medan perang, melainkan di ranjang penjara. Ia hanya tidur, dan tak pernah bangun lagi.
Kehidupan Ketujuh
Ia terbangun. Nafasnya terengah-engah. Ia berada di kamarnya di istana Kerajaan Silla. Matahari pagi menyinari wajahnya. Ia masih muda, di usianya yang ke-18 tahun. Pakaiannya adalah gaun yang sama yang ia kenakan sebelum malam pesta dansa, malam sebelum semua kehancuran dimulai. Ini adalah kesempatan ketujuh. Dan mungkin kesempatan terakhirnya.
Haein bangkit, berjalan ke cermin dan menatap bayangannya sendiri. "Aku tidak akan lari. Aku tidak akan bersembunyi. Aku akan mengubahnya kali ini," gumamnya pada diri sendiri.
Ia tahu apa yang akan terjadi. Perang akan dimulai dalam tiga bulan. Sebuah perang yang akan memusnahkan negerinya dan seluruh penduduknya. Namun, kali ini, ia tahu penyebabnya, dan ia tahu cara menghentikannya.
Rencana awalnya sangat sederhana, bertarung, bertahan, dan berharap bisa menghentikan sang Pangeran dingin dari Kekaisaran Cheon. Namun, itu selalu gagal. Kali ini, ia tidak akan bertarung. Ia akan menyerah. Bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai calon pengantin.
Haein mengambil napas dalam-dalam, mengambil keputusan terberat dalam tujuh kehidupannya. Ia akan melamar Baek Hyunwoo. Bukan sebagai musuh, tetapi sebagai istrinya.
Ia membayangkan wajah Baek Hyunwoo. Wajah yang selalu dingin, mata yang selalu tajam. Di kehidupan sebelumnya, mata itu penuh dengan tekad untuk menaklukkan, untuk menghancurkan. Apakah di kehidupan ini, mata itu bisa melihat hal lain? Bisakah ia melihat kedamaian?
