Pagi itu, di apartemen kecil di atas Sweet Corner, suasana terasa berbeda. Tidak ada hiruk pikuk persiapan toko, karena hari itu adalah Sabtu minggu kedua, hari di mana Sweet Corner libur. Namun, bagi Kim Soohyun dan Kim Jiwon, hari libur itu justru menjadi awal dari kesibukan baru, persiapan untuk layanan pesan antar.
Gunwoo, yang sudah bangun dan ceria, kini berada dalam gendongan Soohyun. Bocah itu memeluk leher Soohyun erat, matanya berbinar menatap sekeliling. Soohyun sendiri sudah rapi dengan pakaian kasual, siap untuk memulai misi belanja mereka.
"Kau yakin semuanya sudah kita catat?" tanya Jiwon, memeriksa daftar belanjaan di ponselnya. "Kita tidak boleh ada yang terlewat."
Soohyun mengangguk, ia sendiri juga memegang daftar yang lebih detail di tangannya. "Sudah. Aku sudah membandingkan harga di beberapa tempat. Kita akan mulai dari pasar Dongdaemun untuk bahan baku kemasan, lalu ke pusat elektronik untuk perangkat pendukung, dan terakhir.. ke toko motor bekas."
Jiwon menatap Soohyun, tersenyum tipis. "Kau benar-benar serius, ya."
"Tentu saja," Soohyun tersenyum, menggendong Gunwoo sedikit lebih tinggi. "Ini proyek pertamaku sebagai 'pegawai' Sweet Corner."
Mereka bertiga keluar dari apartemen, Soohyun mengunci pintu dengan hati-hati. Di bawah, toko roti sudah tergembok. Mereka memutuskan untuk menggunakan taksi atau transportasi umum, karena Soohyun belum memiliki kendaraan sendiri.
Tujuan pertama mereka adalah pasar Dongdaemun. Hiruk pikuk pasar langsung menyambut mereka. Ribuan orang berlalu-lalang, suara tawar-menawar, dan aroma makanan kaki lima bercampur di udara. Jiwon sesekali melirik Soohyun, mengira pria itu akan merasa risih dengan keramaian seperti ini, jauh berbeda dengan lingkungan mewahnya dulu. Namun, Soohyun tampak nyaman, bahkan menikmati suasana itu. Ia menggendong Gunwoo, melindungi putranya dari kerumunan, sesekali menunjukkan pemandangan menarik kepada Gunwoo.
"Paman, itu ikan!" seru Gunwoo, menunjuk kios ikan yang ramai.
"Iya, jagoan. Banyak sekali ikan," Soohyun tersenyum, mengarahkan Gunwoo.
Mereka membeli berbagai jenis kotak kemasan ramah lingkungan, memesan tas kertas dengan logo toko, dan perekat khusus yang bisa menjaga suhu makanan. Jiwon memilih desain yang sederhana namun elegan, sementara Soohyun sibuk membandingkan harga dan kualitas.
"Yang ini lebih tebal, Jiwon," kata Soohyun, memegang sebuah kotak kemasan. "Akan lebih aman untuk kue-kue kita."
Jiwon mengangguk. "Kau benar. Kualitas itu penting."
Setelah beres dengan keperluan kemasan, mereka menuju ke pusat perbelanjaan elektronik. Di sana, mereka mencari perangkat GPS yang akurat untuk sepeda motor, serta ponsel cadangan yang bisa digunakan khusus untuk aplikasi pesan antar dan komunikasi dengan pelanggan.
"GPS ini punya fitur pelacakan real-time, Soohyun," kata Jiwon, membaca deskripsi sebuah perangkat.
"Bagus. Kita butuh yang akurat agar pelanggan bisa melacak pesanan mereka," balas Soohyun, sambil memeriksa spesifikasi baterai ponsel.
Terakhir, dan yang paling penting, adalah mencari sepeda motor bekas. Soohyun telah melakukan riset daring semalam, mencari beberapa tempat penjualan motor bekas yang memiliki reputasi baik. Mereka tiba di sebuah dealer motor bekas yang terletak di pinggir kota. Puluhan sepeda motor berjejer rapi, berbagai merek dan model.
Soohyun menurunkan Gunwoo dari gendongannya, membiarkan putranya memegang tangannya. Ia mulai berkeliling, memeriksa satu per satu sepeda motor. Ia mengecek kondisi mesin, bodi, ban, dan bahkan mencoba menyalakan beberapa di antaranya. Jiwon mengamati Soohyun. Pria itu tampak tahu apa yang ia lakukan, meskipun ia adalah mantan CEO.
