Nadir

737 84 14
                                        

Deru klakson bersahutan di tengah padatnya lalu lintas Seoul sore itu. Bunyinya bukan sekadar peringatan, melainkan simfoni frustrasi kolektif yang akrab di telinga Baek Hyunwoo. Bau asap knalpot yang pekat menyeruak masuk, menambah gerah suasana dalam mobilnya yang bergerak merayap. Hyunwoo melirik jam tangan di pergelangan kirinya lagi, angka digital merah menyala terang, terasa seperti lampu alarm di otaknya. Pukul 16:05. Alisnya bertaut cemas. Ia seharusnya sudah tiba di sekolah sepuluh menit yang lalu.

Rapat mendadak yang molor entah kenapa hari ini terasa lebih lama dan lebih melelahkan dari biasanya. Setiap menit yang terbuang di ruang konferensi mewah itu kini terasa seperti beban berat di pundaknya, menyeretnya menjauh dari dua alasan ia memacu dirinya setiap hari. Sial. Ia benci terlambat. Terutama untuk urusan ini.

Dengan gesit namun hati-hati, Hyunwoo menyelinap di antara mobil-mobil lain, mencari celah sekecil apa pun. Menginjak pedal gas perlahan, lalu rem, lalu gas lagi. Pandangannya tajam, fokus pada jalanan di depannya yang kacau balau. Pikirannya berkelebat cepat, daftar sisa pekerjaan di kantor, email yang belum dibalas, dan.. ketegangan halus yang belakangan ini menyelimuti apartemen mewahnya di Gangnam. Ketegangan yang dingin, tak terucapkan, namun terasa nyata seperti gumpalan es di dada.

"Ayo dong, sedikit lagi," gumamnya pada setir, jemarinya mencengkeram erat. Ia tahu persis betapa kecewanya kedua putrinya jika ia terlambat lagi. Wajah-wajah cemberut mereka, suara-suara protes mereka.. itu lebih sulit dihadapi daripada negosiasi bisnis paling alot sekalipun.

Akhirnya, setelah perjuangan yang terasa seperti berabad-abad, gerbang sekolah dasar dengan plakat Sekolah Dasar Eungwang itu terlihat. Warna kuning cerahnya tampak kontras di tengah abu-abunya bangunan lain di sekitarnya. Hyunwoo menarik napas lega, separuh. Ia memarkir mobilnya tergesa-gesa di tepi jalan, tepat saat dua sosok mungil yang sangat ia kenali berlari kecil menghampirinya dari pintu gerbang yang terbuka lebar.

Sora dan Areum. Putri kembarnya yang berusia delapan tahun. Seragam sekolah mereka sedikit kusut, ransel tergantung longgar di punggung kecil mereka. Dan ya, seperti yang ia duga, keduanya memasang wajah cemberut yang identik, melipat lengan mungil di dada. Mereka tampak seperti dua hakim kecil yang siap memberikan vonis.

"Ayah! Lama sekali!" seru Sora begitu tiba di sisi mobil, suaranya sedikit tinggi, penuh kekecewaan yang dibuat-buat. Ia langsung menunjuk jam tangan digital berwarna biru mudanya di pergelangan tangan kirinya dengan gestur dramatis. "Ayah terlambat lima menit dua puluh detik! Tadi kami sudah menunggu di depan gerbang!"

Areum mengangguk setuju, matanya yang bulat menatap Hyunwoo tajam. "Ya, lima menit dua puluh detik itu lama, Ayah. Jaemin pulang duluan," timpalnya dengan nada sok tahu, menambah daftar 'kerugian' akibat keterlambatan Hyunwoo.

Hyunwoo mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. Ia mencoba tersenyum, sedikit merapikan rambut Sora. "Oh ya? Tapi jam di pergelangan tangan Ayah baru menunjukkan pukul empat lewat lima, Sayang," Hyunwoo mencoba membela diri, menunjuk jamnya yang tengah ia pakai.

Sora mendengus kecil, hidungnya mengerut lucu. "Itu karena jam Ayah sudah tua!" katanya yakin.

Areum menambahkan dengan ekspresi serius, seolah ia adalah ahli teknologi. "Berarti jam tangan Sora lebih canggih. Jam Ayah mungkin sudah antik," ucapnya, membuat Hyunwoo tersenyum kecut. Antik. Benar juga. Jam tangan itu hadiah ulang tahun dari Hong Haein, istrinya. Hadiah yang diberikan beberapa tahun lalu, sebelum jarak tak terlihat itu mulai merayap di antara mereka.

"Oke, oke, Ayah kalah. Jam tangan Sora memang yang paling canggih," kata Hyunwoo, akhirnya menyerah sambil terkekeh pelan, meraih kedua putrinya untuk dipeluk sekilas. "Maaf ya, tadi ada rapat penting yang tidak bisa Ayah tinggalkan."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang