Cinta 2/2

818 88 9
                                        

"Noona," suara Baek Hyunwoo memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara napas teratur mereka. Ia sudah berbaring di ranjang, menghadap langit-langit kamar yang gelap. Hong Haein duduk di sebelahnya, bersandar pada kepala ranjang, dengan sebuah buku terbuka di tangannya. Haein menurunkan buku yang sedari tadi dibacanya, menoleh ke arah Hyunwoo yang tiba-tiba bertanya.

"Ya? Ada apa, Hyunwoo-ah?" tanyanya lembut.

Hyunwoo menggeser posisi berbaringnya, kini ia miring menghadap Haein, matanya menatap lekat wajah wanita itu dalam remang-remang. "Apa kau membenciku?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa ia sadari. Namun, rasa ingin tahu dan kegelisahan di dadanya sudah menumpuk terlalu lama.

Haein sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tersenyum tipis, senyum yang penuh pengertian namun juga sedikit getir. "Kenapa aku harus membencimu, Hyunwoo-ah?"

Hyunwoo menelan ludah. "Ada banyak alasan untuk itu, noona. Sikap burukku selama ini padamu, perkataan kasar yang sering kulontarkan, caraku menghindar.. Aku tahu aku sudah sangat menyebalkan." Ia mengakui semua itu, mengakui betapa kekanak-kanakannya ia bertindak selama ini.

Mendengar penuturan jujur dari Hyunwoo, senyum Haein melebar sedikit, sebuah senyum yang tulus. Ia tidak pernah membenci pemuda ini hanya karena itu. Ia tahu asal muasal semua sikap buruk itu.

"Tidak seperti itu, Hyunwoo-ah," jawab Haein dengan suara tenang. "Aku tidak pernah membencimu sedikitpun. Bahkan sedetik pun tidak." Ia mengulurkan tangan, menyentuh pelan pipi Hyunwoo. "Aku tahu kamu masih belum bisa menerima keadaan kita yang sekarang ini. Aku tahu ini sulit untukmu, sangat sulit. Dan aku.. aku mengerti akan hal itu."

Hyunwoo merasa seperti ada tembok dalam dirinya yang runtuh mendengar kata-kata Haein. Wanita ini.. bahkan setelah semua sikap dingin dan kasarnya, Haein masih bisa berkata seperti itu? Ia mencoba bangun dari posisi berbaringnya, kini ia duduk menyender pada kepala ranjang, bahu mereka bersentuhan.

"Maafkan aku," ucap Hyunwoo lagi, suaranya kini terdengar parau. Ia tahu, kata maaf saja tidak akan cukup untuk menebus semua hal buruk yang telah ia lakukan pada Haein. Meskipun wanita itu berkata baik-baik saja atau tidak membencinya, fakta bahwa ia sudah menyakiti perasaan Haein tidak akan pernah berubah. Dan kini, di tengah keheningan dan kejujuran ini, ia sadar betapa kekanak-kanakannya ia bersikap. Bukan hanya ia yang merasa tidak adil oleh takdir ini, Haein pun pasti merasa jauh lebih sakit, jauh lebih kehilangan. Hanya saja, wanita itu bersikap dewasa, menerima kenyataan pahit ini dengan ketenangan yang luar biasa, tak seperti dirinya yang malah melampiaskannya pada Haein dengan bersikap buruk.

"Tidak perlu meminta maaf, Hyunwoo-ah. Kamu tidak salah." Haein mengusap lembut lengan Hyunwoo. Ia terkejut ketika tiba-tiba Hyunwoo meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Genggaman itu terasa kuat, sedikit gemetar.

"Kenapa noona sangat baik padaku?" tanya Hyunwoo, tatapannya penuh keheranan dan sedikit rasa sakit. "Kalau saja noona bersikap acuh, atau bahkan balik marah padaku, mungkin.. mungkin aku tidak akan merasa sebersalah ini. Mungkin lebih mudah bagiku untuk terus membenci."

Mendengarnya, Haein malah tersenyum. "Karena Hyunwoo yang aku kenal sangatlah baik dan penuh perhatian," jawabnya tulus. Ia melepaskan genggaman Hyunwoo dari tangannya, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap lembut rambut Hyunwoo. "Hyunwoo yang dulu selalu ceria, yang peduli pada hyung-nya, yang rajin belajar.. Mana mungkin aku bisa balik marah atau bersikap acuh pada Hyunwoo yang seperti itu? Kamu hanya sedang terluka dan bingung sekarang."

Hyunwoo terheran mendengarnya. Apakah Haein benar-benar melihatnya seperti itu, bahkan setelah semua yang terjadi? "Noona sungguh berpikir seperti itu?"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang