Investigasi atas kecelakaan Baek Hyunwoo segera dilakukan oleh pihak kepolisian Seoul. Kejanggalan dalam kronologi kejadian, kesaksian beberapa pengendara yang melihat mobil sedan hitam memotong jalur Hyunwoo dengan agresif, serta temuan bekas pengereman yang tidak lazim, membuat polisi curiga bahwa ini bukanlah kecelakaan biasa.
Dalam waktu beberapa hari, berkat rekaman CCTV dari jalan tol dan petunjuk dari saksi mata, polisi berhasil mengidentifikasi dan menangkap salah satu orang suruhan Kim Minjoon. Pria itu, yang awalnya berusaha mengelak, akhirnya tidak berkutik di bawah tekanan interogasi yang intens. Dengan wajah tertunduk, ia mengakui bahwa ia dibayar oleh seseorang untuk menyebabkan kecelakaan pada mobil yang dikendarai oleh seorang pria bernama Baek Hyunwoo. Ia mengaku hanya menjalankan perintah dan tidak mengenal siapa targetnya secara pribadi. Ketika ditanya siapa dalang di balik semua ini, dengan suara gemetar, ia menyebut nama Kim Minjoon.
Polisi bergerak cepat. Mereka melacak keberadaan Kim Minjoon, yang ternyata masih berada di Seoul, bersembunyi di sebuah apartemen sewaan. Penangkapan Minjoon berlangsung tanpa perlawanan. Di kantor polisi, Minjoon yang terpojok dan tidak bisa menyangkal bukti-bukti yang ada, akhirnya mengakui perbuatannya. Obsesinya pada Hong Haein dan dendamnya karena ditolak telah membutakannya, mendorongnya untuk merencanakan tindakan nekat dan berbahaya tersebut.
Sementara itu, di rumah sakit, Hong Haein terus menunggu dengan hati hancur. Dokter akhirnya memberikan penjelasan rinci mengenai kondisi Baek Hyunwoo. Luka-luka dalamnya cukup parah, terutama di bagian kepala dan dada. Ada pendarahan internal yang berhasil dihentikan saat operasi, namun Hyunwoo masih dalam kondisi kritis dan belum sadarkan diri. Dokter tidak bisa memberikan kepastian kapan atau apakah ia akan sadar kembali.
Haein tidak beranjak dari sisi Hyunwoo. Ia duduk di kursi samping ranjang, menggenggam erat tangan pria yang dicintainya. Ia berbicara padanya setiap hari, menceritakan tentang hari yang ia lewati, tentang perasaannya, tentang janji mereka untuk memulai hidup baru bersama. Air mata sering kali membasahi pipinya saat ia menatap wajah Hyunwoo yang pucat dan terbaring tak bergerak. Ia memohon padanya untuk kembali, untuk membuka matanya dan melihat betapa ia sangat mencintainya.
###
Malam-malam di rumah sakit terasa begitu panjang dan sunyi. Haein sering kali tertidur di kursi, terbangun dengan jantung berdebar dan langsung memeriksa kondisi Hyunwoo. Ia merasa bersalah, ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Ia tahu Minjoon melakukan ini karena dendam padanya, karena ia telah memilih Hyunwoo.
Hari demi hari berlalu tanpa ada perubahan. Harapan Haein mulai menipis, namun ia tetap setia menemani Hyunwoo. Ia percaya, di suatu tempat di dalam kegelapan itu, Hyunwoo masih bisa mendengar suaranya, merasakan genggaman tangannya.
Hingga suatu pagi, saat Haein sedang duduk di samping ranjang Hyunwoo, membaca buku dengan suara pelan, ia merasakan jari Hyunwoo bergerak sedikit di dalam genggamannya. Jantung Haein berdegup kencang. Ia menatap wajah Hyunwoo dengan penuh harap.
Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata Hyunwoo bergerak. Kemudian, dengan susah payah, ia membukanya.
Pandangan Hyunwoo awalnya kosong dan linglung, namun kemudian perlahan fokus. Ia melihat wajah Haein yang menatapnya dengan air mata berlinang.
Haein bersuara dengan suara bergetar, hampir tidak percaya. "Hyunwoo Kamu.. kamu sadar?"
Haein terus memandangi wajah Hyunwoo, tidak ingin melewatkan satu pun gerakan kecil darinya. Hyunwoo tampak sangat lemah, namun matanya terbuka dan sesekali mengerjap.
Hyunwoo mencoba tersenyum, meskipun hanya berupa tarikan kecil di sudut bibirnya. Ia berusaha mengangkat tangannya yang bebas dan menyentuh pipi Haein dengan lemah.
"Jangan.. menangis.."
Haein mengusap air matanya dengan cepat. "Aku tidak menangis karena sedih, Hyunwoo. Aku menangis karena bahagia. Kamu kembali.. kamu benar-benar kembali."
