Jerat 19

345 64 9
                                        

Jungwoo menyetir mobilnya di tengah jalanan Gangnam Raya yang lengang. Hujan deras mengguyur Seoul, membuat pandangan di luar kaca mobilnya kabur. Pukul 2.30 pagi, detak jam di mobilnya terasa secepat detak jantungnya sendiri. Firasat buruk itu semakin kuat setelah panggilan telepon terakhirnya dengan Kim Soohyun. Suara desisan, benturan, dan kemudian keheningan yang tiba-tiba, membuat darahnya berdesir dingin. Ia mencoba menelepon lagi, tapi tidak ada jawaban. Tanpa pikir panjang, ia memutar arah mobilnya, menyusul Soohyun yang seharusnya sudah sampai di rumah.

​Lampu sorot mobilnya menembus tirai hujan, dan di depan sana, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Sebuah truk terparkir serong di tengah jalan, seperti jebakan yang sudah disiapkan. Di samping truk itu, mobil Soohyun ringsek di bagian depan. Dan di atas aspal yang basah, dua sosok bertopeng sedang menghajar Soohyun yang sudah tersungkur tak berdaya.

​"Brengsek!" Jungwoo menggeram. Kepanikan dan amarah campur aduk di dadanya. Tanpa berpikir panjang, ia menginjak gas, mengarahkan mobilnya lurus ke arah para penyerang. Ia membunyikan klakson panjang, memekakkan telinga, sebuah peringatan yang sengaja ia buat dramatis.

​Para preman itu terkejut. Mereka tidak menyangka akan ada yang datang. Dengan panik, mereka melepaskan Soohyun yang sudah tak sadarkan diri, melompat kembali ke truk mereka, dan melarikan diri dengan kecepatan tinggi, menghilang ditelan kegelapan malam dan hujan.

​Jungwoo segera keluar dari mobilnya, berlari menghampiri Soohyun yang tergeletak di aspal basah. Hujan masih turun dengan deras, membasahi wajah Soohyun yang pucat dan berlumuran darah. Ia melihat Soohyun bernapas tersengal, luka parah di kepala dan di sekujur tubuhnya. Pakaiannya robek dan kotor.

​"Tuan Kim! Tuan Kim! Bertahanlah!" Jungwoo berlutut, mencoba menahan pendarahan di kepala Soohyun dengan jaketnya. Panik melanda dirinya. "Sial! Aku butuh ambulans! Sekarang!" Ia merogoh ponselnya, jemarinya gemetar. "Gawat! Saya butuh ambulans! Sekarang! Di Jalan Gangnam Raya, dekat persimpangan Apgujeong. Ada kecelakaan parah dan penyerangan! Korban kritis!" Jungwoo berteriak pada operator darurat, suaranya tercekat. "Tolong cepat! Dia.. dia sekarat!"

​Kim Jiwon sedang tertidur pulas di apartemen mereka di Seoul. Perutnya yang membesar menjadi saksi bisu mimpi-mimpi indahnya tentang keluarga yang lengkap, tentang si kembar yang akan segera hadir. Pukul 2.50 pagi, suara dering ponsel yang nyaring menembus alam bawah sadarnya. Ia terbangun, hatinya langsung berdebar kencang. Itu nomor Jungwoo.

​"Jungwoo? Ada apa?" Jiwon bertanya, suaranya dipenuhi firasat buruk. Sebuah firasat yang terlalu familiar.

​Suara Jungwoo di seberang telepon terdengar putus asa, bercampur dengan isak tangis yang tertahan. "Nona Jiwon.. Tuan Kim.. dia.. dia kecelakaan. Dia diserang. Sekarang di rumah sakit. Dia kritis.."

​Dunia Jiwon runtuh seketika. Genggaman ponselnya melemah, tubuhnya bergetar hebat. "Apa?! Rumah sakit mana?! Aku akan ke sana sekarang!" Air mata langsung membanjiri wajahnya. Rasa takut yang amat sangat mencengkeramnya. Ketakutan yang sama yang menghantui masa lalunya kini kembali, lebih menakutkan karena kini ada dua kehidupan lagi di dalam rahimnya.

​Tanpa membuang waktu, Jiwon memaksakan diri bangun. Ia harus kuat, demi Soohyun dan bayi-bayinya. Ia menelepon pengawal yang berjaga di lantai bawah apartemen mereka, meminta mereka menyiapkan mobil.

​Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Jiwon terus berdoa. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Ia mengingat kembali wajah Soohyun yang tersenyum, sentuhan tangannya yang lembut, janjinya untuk selalu ada. "Soohyun, kau harus bertahan. Kau harus bertahan untuk kita. Untuk Sarang, untuk bayi-bayi kita.." Jiwon berbisik, memeluk perutnya erat.

​Setibanya di rumah sakit, ia melihat Jungwoo duduk di kursi ruang tunggu, pakaiannya basah kuyup dan wajahnya pucat.

​"Jungwoo!" Jiwon berlari menghampirinya, napasnya terengah. "Bagaimana keadaannya? Dimana Soohyun?"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang