Kehidupan Hong Haein dan Baek Hyunwoo di istana Kekaisaran Cheon telah menemukan ritme baru. Keduanya menghabiskan hari-hari mereka bersama, terkadang berdiskusi tentang urusan kerajaan yang rumit, terkadang hanya duduk dalam keheningan nyaman di taman paviliun. Namun, kedamaian yang baru saja mereka bangun harus diuji.
Suatu pagi, ketenangan istana pecah oleh langkah tergesa-gesa seorang utusan. Laporan mendesak tiba di meja Baek Hyunwoo, dibungkus dalam gulungan kulit berlumuran debu. "Yang Mulia," lapor utusan itu, suaranya terengah-engah. "Laporan dari perbatasan timur! Kerajaan Jinseong telah menyerang!"
Hyunwoo segera memanggil para penasihatnya. Ruang kerja dipenuhi aura ketegangan yang pekat. Seorang penasihat senior, Jenderal Park, menggebrak meja dengan kepalan tangannya. "Ini jelas provokasi! Kerajaan Jinseong adalah sekutu kecil dari Kerajaan Liyuan, yang baru saja menandatangani perjanjian damai! Mereka mencoba menguji kita! Kita harus mengirim pasukan dan menghancurkan mereka sebagai peringatan!"
Hyunwoo tidak langsung mengambil keputusan. Matanya yang tajam menatap Haein, yang berdiri di sudut ruangan. Ia melihat kecemasan yang mendalam di mata Haein, seperti melihat pantulan dari kenangan pahit.
"Tunggu," kata Haein, suaranya memecah keheningan. Semua mata beralih padanya. "Jangan mengirim pasukan."
Para penasihat terkejut. "Putri, ini adalah penghinaan! Kita tidak bisa membiarkan ini begitu saja!" seru Jenderal Park, nadanya tidak hormat.
Haein tetap tenang. "Ini bukan soal harga diri, Jenderal," jawabnya. "Ini adalah strategi. Kerajaan Jinseong tidak akan menyerang tanpa perintah dari Kerajaan Liyuan. Jenderal Gwon pasti ingin melihat apakah kita bisa terpancing. Jika kita mengirim pasukan, kita akan melanggar perjanjian damai yang baru saja kita sepakati, dan itu akan memberikan Liyuan alasan untuk mengkhianati kita."
Hyunwoo mengangguk, menyadari kebenaran di balik kata-kata Haein. Ia telah belajar untuk memercayai insting wanita ini lebih dari laporan intelijen terbaik sekalipun. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya, menatap Haein.
Haein melangkah maju, mengambil peta dan menunjuk ke sebuah sungai yang membelah Kekaisaran Cheon dan Kerajaan Jinseong. "Sungai ini adalah sumber air utama bagi Kerajaan Jinseong. Alih-alih mengirim pasukan, kirimlah tim logistik. Bangun bendungan di bagian hulu sungai, tetapi biarkan air mengalir perlahan. Kirimkan pesan ke Raja Jinseong. Katakan padanya bahwa jika dia tidak menghentikan serangannya, air tidak akan mengalir ke negerinya."
Para penasihat menatapnya dengan takjub. Strategi itu brilian. Itu akan melumpuhkan musuh tanpa pertumpahan darah.
Namun, Hyunwoo melihat sesuatu yang lain di mata Haein. Ia melihat kepedihan yang mendalam. "Tapi, para penduduk desa itu.. mereka membutuhkan bantuan sekarang."
Haein menatapnya. Ia tidak ingin penduduk desa menderita. Ia telah melihat penderitaan mereka di kehidupan sebelumnya. "Pangeran," katanya, suaranya sedikit bergetar, "kirimkan bantuan medis dan makanan ke desa-desa yang diserang. Bantu mereka membangun kembali. Beri mereka benih-benih baru. Tunjukkan pada mereka bahwa Kekaisaran ini tidak hanya kuat, tetapi juga peduli."
Hyunwoo terdiam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Ia selalu berpikir tentang bagaimana memenangkan perang, bukan bagaimana merawat mereka yang terluka.
"Aku akan pergi sendiri," kata Haein. "Aku akan mengawasi pembangunan bendungan dan mengirimkan bantuan."
Hyunwoo menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak. Itu terlalu berbahaya. Mereka mungkin akan mencoba menangkapmu."
"Aku tidak takut," jawab Haein. "Aku akan berada di sana. Jika mereka menyerangku, mereka akan tahu bahwa Kekaisaran Cheon akan membalas dengan kekuatan penuh. Aku adalah jaminan bahwa mereka tidak akan main-main."
