Jerat 15

479 71 7
                                        

Pagi menyambut dengan sinar matahari keemasan yang lembut, menembus celah gorden tebal dan membelai wajah damai Kim Jiwon yang masih terlelap. Di sampingnya, Kim Soohyun telah terjaga lebih dulu. Ia tak langsung bangkit. Sebaliknya, ia memilih berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan, dan membiarkan pandangannya jatuh pada Jiwon. Sebuah senyum tipis, penuh kekaguman, merekah di bibirnya.

Soohyun mengamati setiap lekuk wajah Jiwon, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sedikit terbuka mengembuskan napas teratur. Gelombang kehangatan yang luar biasa menyapu hatinya, seolah seluruh jagat raya terangkum dalam dekapan wanita ini. Rasanya, Jiwon adalah seluruh dunia baginya.

Perlahan, jemari Soohyun terulur, membelai lembut helai rambut Jiwon yang tersebar di bantal sutra. Sentuhannya ringan, nyaris tak terasa, selembut embusan napas. Jiwon menggeliat pelan, matanya mengerjap, perlahan terbuka. Iris cokelatnya yang indah menatap Soohyun, masih diselimuti sisa-sisa kantuk.

"Pagi, Sayang," Soohyun berbisik, suaranya serak, namun penuh kehangatan. "Tidurmu nyenyak?"

Jiwon tersenyum tipis, matanya masih setengah terpejam. "Mmm.. sangat nyenyak," jawabnya, suaranya parau oleh kantuk. Ia mengeratkan tubuhnya, bergerak lebih dekat ke arah Soohyun, mencari kehangatan yang familiar. "Kenapa kau sudah bangun sepagi ini?"

"Aku hanya.. mengagumi istriku," Soohyun menjawab jujur, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ia membungkuk, mengecup kening Jiwon dengan lembut, sentuhan bibirnya terasa seperti bulu. "Dan memikirkan tentang rencana kita."

Jiwon terkekeh pelan, rona merah tipis menjalar di pipinya. Ia tahu betul rencana apa yang dimaksud Soohyun. "Rencana apa? Rencana sarapan? Aku memang sudah lapar."

Soohyun tertawa kecil, suara tawanya yang dalam mengisi ruangan. "Itu juga bagian dari rencana, tentu saja." Ia mencubit gemas hidung Jiwon. "Tapi aku sedang memikirkan tentang.. adik untuk Sarang. Bukankah kita sudah sepakat?"

Mata Jiwon langsung terbuka sepenuhnya, memancarkan kegembiraan dan sedikit rasa haru yang tak terbendung. Ia menatap Soohyun dengan tatapan penuh arti, seolah mencari kepastian. "Kau benar-benar serius, Soohyun?" tanyanya, meskipun ia tahu jawabannya sudah terpahat jelas di mata suaminya yang penuh tekad.

Soohyun mengangguk mantap, sorot matanya teguh. "Sangat serius, Sayang. Serius sekali." Ia meraih tangan Jiwon, menggenggamnya erat. "Aku ingin kita segera bisa mewujudkannya. Sarang pasti senang."

Perhatian Soohyun di pagi itu tak hanya berhenti pada percakapan manis di ranjang. Setelah Jiwon dan Sarang bangun, dan Sarang disiapkan untuk sekolah oleh Nyonya Kang, Soohyun segera sibuk di dapur. Ia berubah menjadi seorang koki pribadi yang cekatan, memastikan Jiwon mengonsumsi sarapan yang tak hanya lezat, tetapi juga kaya nutrisi yang diyakininya baik untuk kesuburan. Ada buah-buahan segar yang diiris rapi, sereal gandum dengan campuran kacang-kacangan, dan yang paling mencolok, segelas jus berwarna hijau pekat atau merah cerah yang selalu berbeda setiap harinya.

"Ini ada jus buah beri campuran," Soohyun berkata suatu pagi, meletakkan segelas jus berwarna ungu pekat di depan Jiwon saat mereka sarapan bersama Sarang. "Aku baca, ini bagus untuk kesuburan. Penuh antioksidan."

Jiwon menatapnya heran, mengangkat alisnya yang rapi. Ia berusaha menahan senyum geli yang ingin muncul di bibirnya. "Kau.. membaca buku kesuburan, Soohyun?"

Soohyun tersenyum malu, pipinya sedikit memerah. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tentu saja. Aku ingin kita mempersiapkan semuanya dengan baik."

Sarang, yang sedang sibuk mengaduk sereal gandumnya, mendongak. "Ayah, kalau aku minum jus itu, aku juga bisa punya adik?" tanyanya polos, membuat Jiwon dan Soohyun saling pandang dan tersenyum.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang