Malam itu, Grand Ballroom Hotel Shilla berkilauan di bawah pancaran lampu kristal, memantulkan kemewahan yang memesona. Suara denting gelas anggur berpadu dengan bisik-bisik tawa dan musik jazz yang mengalun lembut, menciptakan simfoni khas dunia kelas atas. Pesta peluncuran proyek Metropolitan Oasis, sebuah megaprojek properti yang akan mengubah lanskap kota, menjadi panggung bagi para hiu bisnis dan sosialita papan atas. Aroma parfum mahal dan cerutu Kuba memenuhi udara, bercampur dengan ambisi yang kental.
Di tengah kerumunan yang gemerlap itu, Kim Soohyun berdiri, bak patung marmer yang diukir sempurna. Setelan jas hitam rancangan desainer ternama membalut tubuh atletisnya, sementara dasi sutra gelap menambahkan sentuhan elegan. Wajahnya yang tampan terbingkai rahang tegas dan mata setajam elang, memindai seisi ruangan dengan tatapan angkuh yang tak terbantahkan. Dia adalah sosok yang mendominasi, bahkan tanpa harus mengucap sepatah kata pun. Para wanita, dengan gaun malam yang mewah dan senyum yang terlalu lebar, berkerumun di sekelilingnya seperti ngengat yang tertarik pada api. Mereka berusaha menarik perhatiannya, melontarkan pujian atau menawarkan kartu nama, berharap setidaknya mendapat lirikan dari pria yang dikenal sebagai raja Midas di dunia bisnis ini.
"Tuan Kim, proyek Anda sungguh luar biasa," terdengar suara nyaring seorang sosialita paruh baya, mencoba mendekat. "Selera Anda memang tidak tertandingi."
Soohyun hanya menanggapi dengan senyum tipis yang terasa dingin, nyaris tidak menyentuh matanya. Dia mengangkat gelas champagne-nya, seolah sedang bersulang untuk dirinya sendiri, bukan untuk pujian yang terlontar. "Terima kasih," katanya singkat, suaranya dalam dan berwibawa, tetapi nyaris tanpa intonasi. Fokusnya tidak pada mereka. Dia tidak mencari kekaguman, karena dia sudah memilikinya berlimpah. Dia mencari sesuatu yang lain, sesuatu yang belum dia tahu apa itu.
Matanya terus bergerak, meluncur dari satu wajah ke wajah lain, mencari sesuatu yang bisa menarik minatnya. Selama ini, wanita hanyalah alat baginya, penaklukannya mudah, dan kebosanannya cepat datang. Tapi malam ini, ada firasat aneh yang merayapi benaknya, seolah ada magnet tak kasat mata yang akan menariknya ke arah yang tak terduga.
Tiba-tiba, pandangannya membeku. Di ambang pintu ballroom, sebuah sosok muncul, seolah melangkah keluar dari lukisan. Itu adalah Kim Jiwon. Dia tidak mengenakan gaun yang gemerlap atau perhiasan yang mencolok seperti wanita-wanita lain. Gaun malamnya sederhana, berwarna navy, dengan potongan elegan yang membalut tubuh rampingnya. Rambut hitamnya ditata rapi, membingkai wajahnya yang natural, tanpa riasan berlebihan. Ada pancaran kecerdasan dan ketenangan dari matanya yang besar, memancarkan aura berbeda dari gemerlap palsu di sekelilingnya. Dia berjalan dengan anggun, sesekali tersenyum ramah pada beberapa kolega yang menyapanya, namun senyumnya tulus, bukan senyum yang dilatih untuk menarik perhatian.
Soohyun merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah sentakan di dadanya, seperti gelombang listrik halus yang menjalari tubuhnya. Ini bukan sekadar ketertarikan fisik biasa yang sering ia rasakan. Ini lebih dalam, lebih kuat, dan sedikit mengganggu. Jiwon memancarkan aura yang berbeda, sebuah kemurnian yang jarang ia temukan di dunia yang penuh intrik ini. Dia terlihat.. asli.
"Siapa wanita itu?" Soohyun bertanya, suaranya sedikit lebih tajam dari biasanya, berhasil menarik perhatian asisten setianya, Lee Jungwoo, yang berdiri di belakangnya.
Jungwoo, seorang pria cekatan yang selalu siap sedia, segera mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Soohyun. "Nona Kim Jiwon, Tuan Kim. Dia adalah kepala arsitek dari D&C Architects. Mereka baru saja memenangkan tender proyek pembangunan ulang distrik tua."
Soohyun tidak mengedipkan mata. Nama itu, posisi itu, langsung memicu kalkulasi dalam benaknya. "D&C Architects, katamu? Menarik," ujarnya, kini senyum tipis yang berbeda terukir di bibirnya. Bukan senyum angkuh, melainkan senyum seorang predator yang telah menemukan mangsanya. "Aku ingin semua informasi tentang dia. Riwayat karier, latar belakang pendidikan, bahkan.. status pribadinya. Detil. Dan aku ingin itu di mejaku besok pagi."
