Tadinya mau post besok, tapi mau besok atau sekarang sama aja kan ya wkwkwk
Dilarang minta double update, karena bener² belum saya kerjain🤣
~~~
Beberapa minggu telah terlewati. Kim Soohyun berusaha keras menahan diri. Ia menuruti keinginan Kim Jiwon untuk melupakan malam intim mereka, menjaga jarak profesional yang Jiwon inginkan. Ia tidak lagi mengunjungi apartemennya, tidak ada sentuhan tak terduga, tidak ada ajakan makan malam di luar jam kantor. Soohyun bahkan terkejut dengan dirinya sendiri, betapa ia bisa bersabar. Namun, setiap kali Jiwon berada di dekatnya, setiap kali ia melihat wanita itu, gejolak di dalam dirinya tak pernah padam, hanya terpendam.
Siang itu, setelah makan siang di luar bersama Kim Dahyun, Soohyun dan adiknya kembali ke kantor. Saat mereka menunggu lift menuju lantai eksekutif, sebuah pemandangan di area lift lantai bawah membuat Soohyun membeku.
Di sana, ia melihat Kim Jiwon. Wanita itu sedang tertawa lepas, kepalanya mendongak, menatap seorang pria di depannya. Tawa Jiwon begitu renyah, begitu alami, sebuah ekspresi yang belum pernah ia lihat selama ini, terutama bukan saat bersamanya. Pria itu, yang ternyata adalah Minjun, karyawan dari tim pemasaran, mencondongkan tubuh sedikit ke arah Jiwon, berbisik sesuatu yang membuat Jiwon tertawa lagi, bahkan menyentuh lengan Minjun dengan gesture akrab. Pemandangan itu bagai pukulan telak bagi Soohyun. Gejolak yang selama ini ia tahan, kini meledak. Api cemburu yang terpendam membakar habis kesabarannya. Bagaimana bisa Jiwon bersikap seakrab itu dengan pria lain, sementara ia sendiri, Soohyun, harus menahan diri mati-matian?
"Ada apa, Oppa?" Dahyun bertanya, menyadari perubahan ekspresi kakaknya. Soohyun tidak menjawab, matanya masih terpaku pada Jiwon dan Minjun yang kini sedang melangkah masuk ke dalam lift mereka sendiri.
Begitu tiba di ruangannya, Soohyun langsung merasakan darahnya mendidih. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Dengan cepat, ia meraih telepon interkom.
"Nona Kim, ke ruanganku, sekarang," Soohyun berkata, suaranya dingin dan tegas, tidak memberi ruang untuk bantahan.
Hanya dalam beberapa detik, ketukan pelan terdengar di pintu. Jiwon masuk, wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Kim?" Jiwon bertanya, nada suaranya profesional seperti biasa. Ia tidak menyadari badai yang akan datang.
Soohyun bangkit dari duduknya, melangkah perlahan mengelilingi mejanya, mendekati Jiwon. Matanya yang gelap menatapnya menyelidik, menembus Jiwon seolah ia bisa membaca setiap pikirannya. Jiwon merasakan ketegangan di udara, aura dingin Soohyun yang begitu familiar, namun kali ini terasa lebih mengancam.
"Kau terlihat senang tadi," Soohyun memulai, suaranya rendah dan penuh tuduhan. "Dengan pria, saat di lobi."
Jiwon mengernyitkan dahi. Kenapa Soohyun bersikap seperti ini lagi? Rasa frustrasi yang familiar mulai merayapi dirinya. Pria ini tidak bisa diprediksi.
"Saya hanya berbicara dengan Minjun dari tim pemasaran, Tuan Kim," Jiwon menjawab, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. "Dia bertanya tentang proyek baru."
"Begitu akrab?" Soohyun melanjutkan, mengabaikan penjelasan Jiwon. Nadanya berubah tajam. "Siapa dia bagimu, Jiwon? Mengapa kau begitu akrab dengannya?"
Jiwon menatap Soohyun, matanya memancarkan kebingungan dan sedikit kemarahan. "Dia hanya rekan kerja saya, Tuan Kim! Kami tidak punya hubungan lain. Kenapa Anda bertanya seperti itu?"
Soohyun tidak puas dengan jawaban Jiwon. Ekspresinya semakin mengeras. Ia melangkah maju, mendorong Jiwon mundur hingga punggungnya membentur dinding dengan bunyi gedebuk pelan. Jiwon terperangkap di antara tubuh Soohyun dan dinding dingin. Aroma maskulin Soohyun langsung menyerbu indranya, memicu memori malam intim mereka.
