Apartemen penthouse mereka di jantung kota disinari cahaya pagi yang lembut, namun suasana di dalamnya terasa jauh dari kata damai.
Kim Soohyun, yang pagi itu mengenakan kaus oversized rumahan, sedang membalik panekuk yang wanginya memikat di atas kompor induction. Ia adalah seorang arsitek andal yang kini lebih banyak bekerja dari rumah, sebuah pilihan yang ia ambil demi mengimbangi kesibukan luar biasa sang istri. Di meja makan, kopi arabika favorit Jiwon sudah mengepul, ditemani jus jeruk segar. Ia telah berusaha keras menciptakan suasana sarapan yang santai.
Namun, semua upaya itu terasa sia-sia ketika ia mendengar suara hak tinggi Jiwon yang berdentum cepat dari kamar ganti.
Kim Jiwon muncul dari balik pintu, ia tampak memukau, tetapi aura lelah tak bisa disembunyikan. Ia mengenakan power suit biru tua yang pas badan, rambutnya diikat ekor kuda yang rapi, dan wajahnya sudah dipoles makeup tipis. Ia bahkan belum sempat duduk.
"Astaga, sudah jam segini?" Jiwon meraih jam tangannya di nakas.
Soohyun mematikan kompor, menoleh dengan senyum yang dipaksakan. "Selamat pagi, Nyonya Kim yang sibuk. Aku sudah buatkan buttermilk pancake dengan maple syrup—kesukaanmu. Ayo, duduk sebentar. Setidaknya habiskan kopimu dalam keadaan tenang."
Jiwon berjalan cepat menuju meja makan, tetapi bukan untuk duduk. Ia hanya meraih cangkir kopinya dan meneguknya buru-buru—terlalu panas. Ia meringis kecil.
"Aku tidak bisa, Sayang. Rapatku dengan tim Asia harus dimulai tepat pukul sembilan. Ada isu serius dengan penawaran merger yang baru. Kamu tahu, ini sangat sensitif," jelas Jiwon sambil memegang tas kulit mahalnya, yang terasa berat oleh dokumen.
Soohyun berjalan mendekat, mengambil cangkir kopi dari tangan Jiwon dan meletakkannya kembali di meja. Ia meraih bahu istrinya, mencoba membuatnya berhenti sebentar.
"Jiwon, ini hanya sepuluh menit. Cuma butuh sepuluh menit untuk duduk di kursi yang sudah kusiapkan, makan dua gigitan, dan melihat wajah suamimu ini sebelum kamu kembali menyelamatkan dunia korporat," suara Soohyun terdengar lembut, tapi ada nada memohon di dalamnya.
Jiwon menatap mata Soohyun. Ada kerutan khawatir di sudut mata suaminya yang membuat Jiwon merasa bersalah. Ia berusaha mencairkan suasana dengan sebuah ciuman cepat.
"Aku janji, malam ini aku pulang tepat waktu. Aku akan memesan makanan Thailand favoritmu. Oke?" Jiwon mencium bibir Soohyun sekilas, bahkan tanpa sempat menikmatinya. "Aku benar-benar harus pergi sekarang."
Soohyun membiarkan tangan Jiwon terlepas dari genggamannya. Ia mundur selangkah, menatap Jiwon yang sudah berjalan menuju pintu depan. Ada kepahitan samar dalam suaranya saat ia mengajukan pertanyaan yang sudah sering ia ucapkan akhir-akhir ini.
"Rapatmu lebih penting daripada sarapan bersamaku?"
Langkah Jiwon terhenti tepat di depan pintu. Ia menghela napas, lalu berbalik. Ia tahu Soohyun terluka, tetapi ia merasa tertekan dan tidak punya pilihan lain.
"Soohyun, jangan mulai lagi. Ini bukan soal prioritas, ini soal tanggung jawab," balas Jiwon, senyumnya terasa dingin dan dipaksakan. "Jika aku tidak berada di sana tepat waktu, puluhan juta dolar bisa melayang. Aku tidak sedang bermain-main, aku sedang membangun masa depan kita!"
Soohyun mengangkat bahu, nada suaranya berubah sarkastik. "Tentu. Dan aku? Aku hanya seorang arsitek yang self-employed dan bebas. Tidak ada tanggung jawab besar. Maaf sudah menghalangi ambisi karir bisnismu ini dengan permintaan sarapan yang konyol."
Jiwon mendekat lagi, tatapannya melembut. "Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku akan meneleponmu saat makan siang, ya?" Ia mencium pipi Soohyun sekali lagi, lebih lama.
