Staging a wedding 1/6

771 74 0
                                        

Cahaya matahari sore menembus jendela-jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit kantor pusat The Wedding Architect. Ruangan itu adalah sebuah mahakarya desain modern, dominasi warna putih dan emas, sentuhan tanaman hijau yang elegan, dan tata cahaya yang sempurna menciptakan atmosfer kemewahan dan kesempurnaan. Di dinding terpampang foto-foto pernikahan megah yang pernah ditangani perusahaan ini, menampilkan senyum bahagia para pengantin dan detail-detail pernikahan yang memukau.

Suara ketikan keyboard dan percakapan telepon yang teredam mengisi udara, namun ada satu ruangan yang terasa lebih sunyi dan intens, ruang kerja Hong Haein.

Pintu kayu mahoni yang kokoh terbuka perlahan, menampilkan sosok Hong Haein yang duduk di balik meja kerjanya yang besar dan bersih. Wanita itu tampak anggun dan berwibawa dalam balutan setelan jas berwarna abu-abu yang pas di tubuhnya. Rambutnya yang hitam legam ditata rapi, dan tatapan matanya yang tajam fokus pada layar komputer di depannya.

Di depannya berdiri Lee Minji, kepala divisi pemasaran perusahaan, seorang wanita enerjik dengan ekspresi sedikit tegang di wajahnya. Di tangannya tergenggam sebuah laporan tebal.

Dengan nada hati-hati Minji bersuara. "Sajangnim, ini laporan kuartal terakhir. Seperti yang Anda lihat, angka kita masih memimpin pasar."

Haein mengalihkan pandangannya dari layar komputer, menatap Minji dengan tatapan dingin namun penuh perhitungan. Ia mengambil laporan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman demi halaman dengan cepat dan teliti.

"Memimpin pasar saja tidak cukup, Minji-ssi. Kita harus mendominasi. Klien-klien kita datang ke sini bukan hanya untuk pernikahan yang bagus, tapi untuk pernikahan impian. Pernikahan yang akan menjadi standar bagi semua orang."

Minji menelan ludah, merasa sedikit terintimidasi dengan aura bosnya. "Tentu, Sajangnim. Kita sudah melakukan yang terbaik dengan kampanye iklan terbaru dan kerjasama dengan influencer ternama."

Haein meletakkan laporan itu di meja dengan sedikit kasar, menimbulkan bunyi yang cukup keras di ruangan sunyi itu.

"Terbaik? Apa yang kita tunjukkan pada mereka sebagai bukti konkret bahwa kita bisa mewujudkan pernikahan impian itu? Foto-foto klien lain? Testimoni yang sudah diedit sedemikian rupa? Itu semua bisa dilakukan oleh perusahaan lain, Minji-ssi."

Haein berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela, menatap pemandangan kota Seoul yang terbentang di bawah sana. Cahaya matahari sore membingkai siluet tubuhnya yang tegap.

Haein melanjutkan, lebih kepada dirinya sendiri. "Mereka butuh bukti. Bukti yang tak terbantahkan. Sesuatu yang bisa mereka lihat, rasakan, dan iri-kan."

Minji hanya bisa terdiam, menunggu Haein melanjutkan pemikirannya. Ia tahu, ketika bosnya sudah seperti ini, ide-ide gila biasanya akan muncul.
Haein berbalik, tatapannya kembali fokus dan intens.

"Minji-ssi, pernahkah Anda berpikir mengapa orang-orang begitu terobsesi dengan pernikahan para selebriti atau tokoh-tokoh terkenal?"

Minji Berpikir sejenak. "Mungkin karena mereka melihatnya sebagai puncak kesuksesan dan kebahagiaan?"

"Tepat sekali. Dan apa yang kurang dari kita? Kita adalah perencana pernikahan. Kita menciptakan keindahan dan kebahagiaan untuk orang lain. Tapi, di mana bukti bahwa kita sendiri bisa mewujudkan pernikahan impian itu? Di mana ikon dari kesempurnaan pernikahan ala The Wedding Architect?"

Haein berjalan kembali ke mejanya dan mengambil sebuah bingkai foto kecil yang tersembunyi di antara tumpukan dokumen. Itu adalah foto dirinya sendiri, beberapa tahun yang lalu, saat ia baru memulai perusahaan ini. Ia terlihat lebih muda, namun tatapan ambisinya sudah terpancar jelas.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang