Beyond the Boundary 18

421 74 15
                                        

​Hari Minggu pagi tiba, membawa ketenangan yang selalu dinantikan Hong Haein dan Baek Hyunwoo. Hari itu tidak ada video conference atau dokumen mendesak. Hari itu didedikasikan sepenuhnya untuk anggota keluarga termuda mereka: Komet.

​Setelah sarapan, Tuan Choi (Arsitek) dan Nona Lee (Desainer Interior) tiba di kamar mereka. Hyunwoo sudah menyiapkan area duduk yang nyaman, memastikan Haein tidak perlu beranjak jauh dari sofa terdekat, tempat ia bisa bersandar dengan santai.

​Haein, dengan buku sketsa di tangannya, menunjukkan antusiasme yang jarang ia tunjukkan dalam rapat bisnis. Hyunwoo duduk di sampingnya.

​"Terima kasih sudah datang," sapa Haein. "Maaf kami harus meminta Anda ke sini, tapi kami harus memastikan setiap detail kamar Komet sempurna."

​Tuan Choi tersenyum kaku. "Tentu, Nyonya Baek. Kami telah menyiapkan beberapa konsep yang sesuai dengan tema 'benteng' yang Tuan Baek minta."

​Hyunwoo segera memotong. "Bukan benteng dalam artian militer, Tuan Choi. Kami ingin ruang itu terasa seperti surga paling damai. Perlindungan yang lembut."

​Nona Lee membuka papan presentasi. "Kami memahami. Kami mengusulkan dinding dicat dengan warna-warna lembut. Nyonya Baek, Anda menyebutkan nada hijau mint?"

​"Ya," kata Haein, matanya bersinar. "Bukan mint yang terang, Nona Lee. Saya ingin warna mint tea yang lembut. Sedikit seperti warna yang menenangkan dan tidak terlalu mencolok. Warna yang mengingatkan pada kedamaian yang kita temukan. Tidak ada emas, tidak ada marmer berlebihan. Hanya kelembutan."

​"Warna mint teh," ulang Hyunwoo. "Kami setuju. Itu adalah warna ketenangan, dan itu akan selaras dengan crib kayu kenari yang sudah kami pasang."

​Mereka kemudian beralih ke tata letak. Arsitek Choi menunjuk ke jendela kamar yang luas, yang menghadap langsung ke taman belakang mansion.

​"Kami mengusulkan jendela ini diperbesar secara maksimal," jelas Tuan Choi. "Sehingga Komet bisa mendapatkan cahaya alami sebanyak mungkin, dan pemandangan taman yang indah."

​"Sempurna," kata Hyunwoo, menyetujui. "Jendela harus lebar, menghadap langsung ke taman. Komet harus tumbuh melihat alam dan kedamaian, bukan hanya atap gedung. Tirainya harus otomatis, dengan lapisan ganda untuk memblokir cahaya saat tidur siang. Itu harus bisa diatur hanya dengan sentuhan tombol dari ranjang kami."

​​Diskusi berjalan lancar hingga tiba pada detail struktur ruangan. Hyunwoo mencondongkan tubuh ke depan, menunjukkan titik di dinding yang bersebelahan langsung dengan kamar tidur utama mereka.

​"Sekarang, ini adalah permintaan yang paling penting," kata Hyunwoo, nadanya berubah menjadi sangat serius, seperti saat membahas perjanjian rahasia.

​"Kami membutuhkan pintu rahasia," tegas Hyunwoo.

​Nona Lee tampak bingung. "Pintu rahasia, Tuan Baek? Maksud Anda pintu tersembunyi?"

​"Ya," Hyunwoo mengangguk. "Sebuah pintu yang sepenuhnya tersamar di dalam desain dinding—mungkin tersamarkan sebagai rak buku atau panel kayu—yang akan langsung menghubungkan kamar kami ke kamar Komet."

​Haein menyeringai, tahu persis ke mana arah pembicaraan ini.

​"Ini bukan masalah gaya, Tuan Choi," jelas Hyunwoo. "Ini adalah masalah efisiensi Ayah. Saya tidak bisa membuang waktu berjalan melalui koridor panjang mansion saat Komet menangis pada pukul tiga pagi. Saya perlu akses instan. Saya perlu sistem Code Red yang efisien."

​"Dan tentu saja," tambah Haein, menggoda. "Jika Komet rewel, ayahnya bisa meluncur cepat untuk menenangkan, tanpa membangunkan ibunya yang sedang istirahat mutlak."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang