Ignited Touch 23

726 89 33
                                        

Pernikahan Kim Jiwon dan Kim Soohyun tinggal seminggu lagi. Minggu ini adalah puncak kesibukan Soohyun. Ia ingin membereskan semua pekerjaannya agar saat pernikahan nanti, ia bisa mengambil cuti lebih lama tanpa gangguan. Semua proyek besar, kontrak, dan rapat dewan direksi harus diselesaikan.

Kim Soohyun duduk di ujung meja, memimpin rapat penting. Di sampingnya, Kim Jiwon duduk sebagai asistennya, mencatat poin-poin penting. Rapat kali ini berbeda. Ada seorang wanita cantik berambut pirang dengan mata biru, mengenakan setelan bisnis yang elegan. Dia adalah Freya Klum, seorang teman lama Soohyun di Jerman dan kini menjadi investor di perusahaan mereka.

Freya terus menatap Soohyun dengan senyum hangat, tatapannya penuh arti. Di setiap kesempatan, ia akan menanyakan pendapat Soohyun, terkadang diselingi tawa dan lelucon pribadi yang hanya mereka berdua pahami. Soohyun, meskipun berusaha bersikap profesional, tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat berinteraksi dengan Freya.

Jiwon memperhatikan setiap interaksi mereka. Ia mencoba menenangkan hatinya, berpikir bahwa mereka hanya teman lama. Namun, di mata Jiwon, mereka begitu akrab. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan yang ia rasakan. Perasaan cemburu mulai menggerogoti hatinya.

Rapat selesai. Soohyun berjalan kembali ke ruangannya, diikuti oleh Jiwon. Ia merasa lelah, namun puas. Rapat berjalan lancar, dan semua urusan hampir selesai. Ia melihat ke arah Jiwon, yang tampak lebih pendiam dari biasanya.

"Ada apa, sayang?" Soohyun bertanya, melingkarkan tangannya di pinggang Jiwon. "Kau terlihat lelah. Kau ingin aku memesankan makanan untukmu?"

Jiwon menggeleng. Ia mencoba menutupi cemburunya, tetapi tidak bisa. Hatinya terasa berat. Ia kemudian memberanikan diri untuk berbicara.

"Freya Klum.. dia teman yang sangat baik, ya?" Jiwon memulai, suaranya pelan.

Soohyun tersenyum. "Ya, kami sudah berteman sejak di Jerman. Dia banyak membantuku saat itu."

"Aku melihat dia.. sangat akrab denganmu," Jiwon melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Bahkan.. sepertinya wanita itu memiliki perasaan lebih padamu."

Soohyun menghentikan langkahnya, menatap Jiwon. Ia menangkup wajah Jiwon, membelainya dengan lembut. "Apa kau cemburu?" tanyanya, suaranya dipenuhi kelembutan.

Jiwon menunduk, tidak berani menatap mata Soohyun. Ia merasa malu. "Tidak," bisiknya. "Aku hanya.. aku hanya tidak terbiasa melihatmu begitu dekat dengan orang lain."

Soohyun mengangkat dagu Jiwon, memaksanya menatap matanya. "Dengarkan aku, Jiwon," Soohyun berkata, suaranya serius. "Aku tahu Freya adalah teman lamaku. Tapi kami hanya teman. Dan aku hanya mencintaimu. Hanya kau, calon istriku, calon ibu dari anakku."

Jiwon terdiam. Ia ingin percaya, tetapi ada satu hal yang mengganjal di hatinya. "Tapi.. kalau hanya teman," Jiwon berkata, suaranya masih ragu, "kenapa harus sampai mencium pipi?"

Soohyun terkejut. Ia ingat saat rapat usai, Freya mencium pipinya, sebuah kebiasaan di Jerman. Soohyun tidak menganggapnya serius, namun ia tahu Jiwon melihatnya. Soohyun mencoba menjelaskan dengan nada menggodanya, "Oh, itu.. di luar negeri, itu adalah hal biasa yang dilakukan seorang teman. Itu hanya sapaan, sayang."

Jiwon menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan tangan Soohyun dari wajahnya. "Tapi di sini bukan luar negeri," kata Jiwon, lalu ia berlalu dari hadapan Soohyun.

Soohyun menatap bingung saat Jiwon berlalu dari hadapannya. Ia tidak menyangka Jiwon akan bereaksi seperti itu. Ia tahu Jiwon cemburu, tapi ia tidak menyangka cemburunya akan sebesar ini. Ia melangkah cepat, mengejar Jiwon yang sudah duduk di mejanya, berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.

Soohyun berhenti di depan meja Jiwon. "Jiwon," katanya, suaranya lembut. "Tunggu dulu, sayang. Kita belum selesai berbicara."

Jiwon tidak mengangkat kepalanya. Ia terus mengetik di komputernya. "Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, Oppa. Kau juga."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang