Ignited Touch 35

475 84 14
                                        

​Kim Soohyun duduk tegak di barisan kursi terdepan ruang sidang, aura dingin dan tak tergoyahkan menguar dari setiap inchi setelan jasnya yang gelap. Di sebelahnya, Tuan Hwang, pengacaranya yang terkenal tenang, tampak memegang map tebal dengan jemari yang stabil. Dinginnya marmer dan formalitas yang menyesakkan dari ruangan itu seolah merangkum konflik pahit yang telah merenggut begitu banyak kedamaian dalam hidupnya.

​Di hadapan mereka, Kim Dohoon duduk di kursi terdakwa. Wajahnya yang biasa arogan kini tampak kuyu, dilingkari kantung mata gelap yang menceritakan berminggu-minggu penahanan. Matanya yang cekung dan penuh keputusasaan mencari Soohyun, melemparkan tatapan kebencian yang masih membara, nyaris seperti bara api terakhir dari dendam yang sebentar lagi akan padam.

​Soohyun hanya datang sendiri. Ia menolak dengan tegas permintaan istrinya, Kim Jiwon, untuk hadir.

​"Jangan, Sayang. Jangan datang," kata Soohyun padanya malam sebelumnya, saat Jiwon merengek ingin mendampingi. Ia membelai lembut perut Jiwon yang membuncit. "Ini adalah akhir yang pahit, dan aku tidak ingin kau atau anak kita menyaksikan drama keluarga ini. Sudah cukup kau menanggung semua penderitaan karena rencana keji Paman. Ini adalah urusanku, dan aku harus menyelesaikannya sendiri."

​Di ruang sidang, Hakim Ketua mulai membacakan ringkasan kasus dengan suara berat dan tanpa emosi. Setiap kata yang diucapkan terasa seperti palu yang tidak terlihat, memukul keras dinding kekuasaan Kim Dohoon yang selama ini ia bangun.

​"Setelah mempertimbangkan semua bukti yang diajukan pihak penggugat, termasuk pengakuan saksi kunci, rekaman CCTV yang menunjukkan transaksi ilegal, dan bukti transfer dana, serta mempertimbangkan fakta bahwa Terdakwa, Kim Dohoon, telah merencanakan tindakan yang dapat membahayakan nyawa orang lain—khususnya seorang wanita yang tengah hamil—dengan tuduhan pencemaran nama baik dan percobaan pembunuhan..."

​Mendengar kata "percobaan pembunuhan," Soohyun tanpa sadar mengepalkan tangannya. Ia mengingat saat Jiwon harus dilarikan ke rumah sakit dan fitnah yang dilancarkan pamannya. Matanya mengeras.

​Kim Dohoon, yang selama ini diam, mencoba membantah dengan gelengan kepala panik dan tatapan memohon pada pengacaranya. Pengacara itu hanya bisa menunduk, mengakui kekalahan yang tak terhindarkan dari tim hukum Soohyun.

​Akhirnya, Hakim Ketua mengangkat palu kayu itu tinggi-tinggi.

BRAK!

​Suara palu itu bergema, nyaring, dingin, dan tegas, menandai akhir mutlak dari kekuasaan dan kebebasan Kim Dohoon.

​"Pengadilan menyatakan Terdakwa, Kim Dohoon, bersalah atas semua tuduhan yang diajukan."

​Hakim melanjutkan, membacakan putusan hukuman. Angka tahun penjara yang disebutkan terasa sangat panjang, mematikan. Wajah Kim Dohoon langsung memucat, berubah total menjadi ekspresi keputusasaan yang mengerikan.

​"INI TIDAK ADIL! KIM SOOHYUN, KAU—KAU MENJEBAKKU! KAU MENGAMBIL SEMUANYA!" Dohoon mulai berteriak, suaranya parau. Ia menuduh keponakannya dengan mata liar, tetapi teriakan putus asanya segera diredam oleh penjaga pengadilan yang sigap menariknya keluar dari ruangan.

​Soohyun bangkit berdiri. Ia tidak merasakan manisnya kemenangan atau kegembiraan yang meluap-luap. Yang ia rasakan hanyalah kelelahan yang mendalam dan kelegaan yang dingin, seperti es. Perjuangan itu sudah berakhir. Keadilan telah ditegakkan.

###

Kim ​Soohyun berjalan keluar dari gedung pengadilan. Angin sore yang dingin dan bersih menerpa wajahnya. Ia berhenti sejenak, memejamkan mata, membiarkan semua ketegangan yang menumpuk luruh dari bahunya. Ia merasakan beban berat yang sudah lama ia pikul terangkat sepenuhnya.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang