Penebusan 4

413 74 4
                                        

Setelah Jiwon membawa Gunwoo pergi, menghilang ke balik pintu dapur, Kim Soohyun masih berdiri terpaku di tengah toko roti yang mulai sepi. Aroma manis roti yang baru dipanggang kini terasa pahit di hidungnya, bercampur dengan bau debu dan kekecewaan. Rasa sakit hati dan amarah Jiwon, yang ia lihat begitu jelas di mata wanita itu, menghantamnya telak. Ia adalah ayah dari Gunwoo, putra yang tak ia ketahui keberadaannya selama empat tahun ini. Empat tahun! Soohyun merasa seperti orang bodoh yang paling malang di dunia.

Karyawan Jiwon yang menyaksikan adegan itu mulai berbisik-bisik. Soohyun bisa merasakan tatapan penasaran dan mungkin iba dari mereka. Ia merasa malu, hancur, namun ia tidak bisa pergi. Ada sesuatu yang menahannya, sebuah kebutuhan mendesak untuk bicara dengan Jiwon, untuk menjelaskan semuanya, untuk memohon pengampunan.

Minjun, kasir Jiwon, mendekat dengan canggung. "Maaf, Tuan. Toko akan segera tutup."

Soohyun hanya mengangguk, tanpa beranjak. "Saya akan menunggu. Saya perlu bicara dengan Nona Kim."

Minjun terlihat ragu, namun tak berani membantah. Ia tahu betapa keras kepala bosnya itu. "Baik, Tuan. Tapi.. Nona Kim mungkin tidak akan keluar."

"Tidak apa-apa," jawab Soohyun, suaranya mantap. "Saya akan menunggu."

Minjun menghela napas, menyerah.

Waktu berlalu. Pelanggan terakhir pergi. Minjun dan Hana pamit pulang, meninggalkan Soohyun sendirian di depan pintu kaca toko yang kini sudah dikunci. Lampu-lampu di dalam toko mulai dipadamkan satu per satu, meninggalkan kegelapan yang pekat. Soohyun berdiri di sana, seperti patung, di bawah terangnya lampu jalanan. Ia menatap ke arah jendela-jendela di lantai atas, tempat Jiwon dan Gunwoo tinggal, berharap bisa melihat secuil cahaya.

Angin malam mulai berembus, membawa hawa dingin yang menusuk. Namun, ia tidak peduli. Dinginnya udara tidak sebanding dengan dinginnya penolakan Jiwon. Ia tahu ia pantas mendapatkannya. Tapi ia tidak akan pergi. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia akan menunggu sampai Jiwon mau menemuinya, bahkan jika ia harus menunggu sampai matahari terbit.

Di lantai atas, tempat tinggalnya, Jiwon baru saja selesai menidurkan Gunwoo. Ia menyelimuti putranya dengan lembut, mencium keningnya yang hangat. Air mata kembali mengalir di pipinya, membasahi bantal di samping Gunwoo. Mengapa Soohyun harus muncul lagi? Setelah semua yang ia bangun, semua kedamaian yang ia temukan bersama putranya? Mengapa masa lalu harus kembali menghantuinya dengan cara sekejam ini?

Ia melangkah gontai ke dapur, membuat secangkir teh herbal hangat untuk menenangkan diri. Namun, pikirannya terus melayang ke bawah. Ia penasaran. Apakah Soohyun sudah pergi? Ia memang marah, teramat marah, namun ia tidak ingin Soohyun melakukan hal bodoh atau jatuh sakit karena menunggu di luar. Rasa kemanusiaan, atau mungkin sisa-sisa perasaan lama, masih menggelitik hatinya.

Dengan ragu, Jiwon melangkah ke jendela yang menghadap langsung ke jalan. Tirai tipis menutupi sebagian, namun ia bisa mengintip dari celah kecil. Jantungnya berdebar kencang saat melihatnya. Soohyun. Pria itu masih berdiri di sana, di depan toko rotinya, membelakangi lampu jalanan. Siluetnya terlihat jelas, tak bergerak, seolah-olah berakar ke tanah. Jaketnya sedikit berkibar diterpa angin, menunjukkan betapa dinginnya udara di luar.

Jiwon menghela napas panjang, mengeluarkan uap tipis dari bibirnya. Ia tahu Soohyun tidak akan pergi sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan ia tahu apa yang Soohyun inginkan, penjelasan, pengakuan, dan mungkin, maaf. Jiwon merasakan campur aduk emosi. Ada kemarahan yang masih membara, sakit hati yang belum sembuh, namun juga secuil rasa lelah yang mendalam. Lelah dengan konflik ini, lelah dengan masa lalu yang terus menghantuinya. Dan jauh di lubuk hatinya, ada sedikit rasa prihatin melihat pria itu berdiri kedinginan seperti patung.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang