Restu

576 72 4
                                        

Malam telah larut di Seoul, namun di salah satu gedung pencakar langit yang menjulang di kawasan elit, lampu di kantor Hong Haein masih menyala terang. Dari jendela kaca raksasa, Haein bisa melihat gemerlap kota yang tak pernah tidur terbentang di bawahnya—lautan cahaya yang mewakili kekuasaan, ambisi, dan kesuksesan yang telah ia raih dengan kedua tangannya. Di usianya yang relatif muda, ia telah memegang posisi penting, namanya dikenal, dan keputusannya dihargai di dunia bisnis yang keras. Ruangan kerjanya mencerminkan statusnya, minimalis, mewah, penuh dengan teknologi canggih, dan meja kerja yang selalu rapi, mencerminkan ketelitian dan kontrol yang ia miliki atas hidupnya.

Namun, malam ini, kontrol itu terasa goyah. Hong Haein duduk di kursinya, bukan dengan postur tegak dan penuh keyakinan seperti biasa, melainkan sedikit membungkuk, jemarinya memijat pelipis yang terasa berdenyut. Di hadapannya terhampar laporan proyek penting yang membutuhkan fokus penuh, tetapi matanya hanya membaca baris-baris tanpa memahami artinya. Pikirannya terperosok ke dalam labirin kecemasan yang anehnya tak terkait dengan persaingan bisnis sengit atau target finansial yang menantang. Sumber kegalauan ini memiliki nama, Jeon Bongae. Ibu dari Baek Hyunwoo, pria yang ia cintai, pria yang membuat hatinya—benteng kokoh yang ia bangun bertahun-tahun—akhirnya luluh. Mencintai Hyunwoo adalah hal termudah yang pernah ia lakukan, dan berhadapan dengan ibunya adalah hal tersulit, sebuah rintangan yang jauh lebih menakutkan daripada rapat dengan direksi paling garang sekalipun.

Haein menghela napas panjang, suara hembusannya terdengar memecah keheningan dingin ruangan itu. Ia meraih ponselnya, jemarinya ragu-ragu menekan kontak "Hyunwoo♥". Layar menyala, menampilkan foto profil Hyunwoo dengan senyum polosnya yang selalu berhasil meluluhkan hati Haein. Kontras dengan rasa gentar yang kini mencengkeramnya.

Ia teringat percakapan mereka tadi sore. Hyunwoo mencoba menghiburnya setelah Haein mengeluhkan betapa kaku dan tidak nyamannya ia setiap kali nama Jeon Bongae disebut.

"Mama itu tidak seburuk yang kamu pikirkan, Sayang," ujar Hyunwoo dengan nada lembut di telepon, suara itu terdengar seperti melodi penenang di tengah badai dalam benak Haein. "Dia hanya sedikit.. berhati-hati dengan orang baru."

Haein mendengus pelan. "Berhati-hati? Hyunwoo, tatapannya seolah aku ini penipu yang siap mencuri semua yang kalian miliki. Aku merasa seperti sedang diaudit setiap kali dia menatapku."

"Itu hanya perasaanmu, Haein. Mungkin kamu terlalu tegang?"

Kalimat itu—'kamu terlalu tegang'—membuat Haein sedikit kesal. "Tegang? Tentu saja aku tegang! Aku bisa berdiri di depan ratusan orang dan memberikan presentasi tanpa gemetar, tapi satu jam bersamanya membuat telapak tanganku dingin dan lidahku kelu. Dia tidak menyukaiku, Hyunwoo. Aku bisa merasakannya."

Ada keheningan singkat di ujung sana. Hyunwoo sepertinya sedang memikirkan cara merespons. "Mama hanya.. punya harapan tertentu. Mungkin dia hanya ingin memastikan kamu bisa membuatku bahagia. Kamu tahu, Mama berasal dari keluarga sederhana, dia bekerja sangat keras seumur hidupnya. Dia mungkin melihat duniamu berbeda dan sedikit khawatir."

Haein menutup mata, mencoba menahan gelombang frustrasi. "Khawatir aku tidak cukup baik? Atau khawatir aku terlalu 'berbeda' dari standar menantu idealnya? Aku sudah berusaha, Hyunwoo. Aku mencoba bersikap sopan, ramah, tapi rasanya semua usahaku mental begitu saja di hadapannya."

"Mama hanya butuh waktu untuk mengenalmu, Haein. Dan kamu juga butuh waktu untuk memahaminya. Kita akan melewatinya bersama. Aku akan membantumu."

"Bagaimana? Kamu bahkan terlihat tidak nyaman setiap kali dia mulai menginterogasiku! Aku merasa sendirian menghadapinya." Suara Haein meninggi, kekecewaan terasa begitu nyata. Ia tahu Hyunwoo mencintainya, tapi sikap pasif Hyunwoo di depan ibunya melukai hati Haein lebih dalam daripada sikap dingin Jeon Bongae itu sendiri.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang