Jerat 9

442 86 25
                                        

Setelah percakapan yang menguras emosi di ruang besuk, Kim Jiwon kembali ke apartemen mewah Kim Soohyun.

Malam itu, Jiwon tidak bisa memejamkan mata. Ia berbaring di tempat tidur king-size yang terasa terlalu kosong, seolah luasnya kasur itu ikut menelan sisa-sisa kehangatan. Jemarinya perlahan membelai perutnya yang semakin membesar, merasakan gerakan lembut dari janin yang mulai merespons. Rasa rindu pada Soohyun, yang belakangan ini menjadi pelindung tak terduga dalam hidupnya, kini terasa begitu menyesakkan. Ia merindukan senyum tipisnya yang jarang terlihat namun selalu menenangkan, tatapan lembutnya saat mengamati Jiwon makan dengan lahap, bahkan obrolan singkat mereka di pagi hari yang kini terasa begitu berharga. Kehangatan yang baru saja tumbuh di antara mereka kini terenggut paksa, meninggalkan Jiwon dalam kesendirian yang pahit.

Keesokan harinya, Jiwon memutuskan untuk memulai pencariannya. Ia harus menemukan bukti yang akan membebaskan Soohyun dan membuktikan bahwa tuduhan Lee Hanjoon adalah kebohongan keji. Langkah pertamanya adalah mencoba mengakses kembali rekaman CCTV yang mungkin ada di sekitar bar, atau di hotel tempat malam nahas itu terjadi. Namun, segera ia menyadari, dirinya tak memiliki akses apa pun ke sana. Soohyun telah memastikan semua jejak aman darinya.

Ia mencoba menghubungi Jungwoo, asisten setia Soohyun, namun Jungwoo tampak sangat sibuk dan sulit dihubungi, seolah-olah semua kontak dengan Jiwon diminimalisir atas perintah Soohyun. Jiwon merasa terisolasi, seolah dinding tak kasat mata memisahkan dirinya dari dunia luar. "Jungwoo? Ini aku, Jiwon. Apa kau bisa membantuku mencari rekaman CCTV di sekitar bar? Atau di hotel tempat.. kejadian itu?" suara Jiwon terdengar penuh harap. "Aku tahu ini sulit, tapi aku harus menemukan kebenaran."

Ada jeda sesaat, lalu suara Jungwoo terdengar ragu. "Maaf, Nona Jiwon. Tuan Kim.. ia telah memberikan instruksi untuk tidak melibatkan Anda lebih jauh. Semua akses telah diblokir. Saya tidak bisa membantu Anda." Nada suaranya penuh penyesalan, namun tetap tegas.

"Kenapa? Bukankah dia sudah setuju aku membantu?" Jiwon mendengar Jungwoo menghela napasnya.

"Anda pasti tahu kenapa, Nona Jiwon. Saya benar-benar minta maaf." Telepon ditutup, meninggalkan Jiwon dengan keputusasaan yang semakin dalam.

Ia kemudian mencoba menelepon beberapa teman lamanya, berharap bisa mendapatkan petunjuk tentang pergerakan Hanjoon di masa lalu atau informasi apa pun yang bisa membantunya. Namun, sebagian besar dari mereka menghindar. Reputasi Soohyun yang hancur, dan kasus yang menimpanya, membuat semua orang takut terlibat. Jiwon merasakan pahitnya kenyataan bahwa ketika kekuasaan seseorang runtuh, semua orang akan menjauh, seolah ia adalah wabah.

"Halo, Jiwon?" Suara seorang teman lamanya, Hyejin, terdengar ragu dan penuh kehati-hatian di telepon.

"Hyejin, aku butuh bantuanmu," Jiwon berkata, suaranya sedikit putus asa, napasnya memburu. "Aku ingin tahu apakah kau pernah mendengar sesuatu tentang Hanjoon, atau tentang proyek lamanya, terutama yang berkaitan dengan aku. Apa pun, Hyejin, apa pun yang bisa kau ingat."

Ada keheningan panjang di seberang sana, hanya terdengar suara napas Hyejin yang tertahan. "Jiwon, aku.. aku tidak bisa. Maafkan aku. Aku tidak ingin terlibat. Ini terlalu berbahaya. Kau tahu, keluarga kami.. aku tidak bisa mengambil risiko." Suara Hyejin terdengar seperti bisikan, penuh ketakutan.

Hyejin segera menutup telepon, meninggalkan Jiwon dengan perasaan hampa yang menusuk. Ia merasakan dirinya sendirian, benar-benar sendirian dalam perjuangan ini. Kehilangan Soohyun yang kini berada di tahanan, dan penolakan dari orang-orang di sekitarnya, membuat Jiwon merasa begitu kecil dan tak berdaya. Ia merasa seperti berada di tengah gurun, tanpa air dan tanpa arah.

Malam itu, Jiwon duduk di ruang kerja Soohyun, di depan komputer besar yang kini terasa dingin dan tak bernyawa. Ia membuka file-file yang mungkin berisi petunjuk. Namun, semua yang ia temukan hanyalah dokumen-dokumen bisnis dan laporan keuangan yang rumit, penuh angka dan grafik yang tak berarti baginya. Tidak ada yang berhubungan dengan kasus Soohyun, atau dengan Hanjoon. Soohyun telah menyembunyikan semua jejak yang berhubungan dengan dirinya, dengan kejamnya malam itu, demi melindungi Jiwon.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang