Finding Truth in Lies 10

390 71 4
                                        

Sore itu, keheningan mencekam di apartemen Haein terasa bagai tirai tebal yang perlahan menyelimuti, memperburuk kegelisahannya yang sudah beberapa hari terakhir diteror kejadian aneh. Hyunwoo, suaminya, belum pulang dari kantor, dan setiap detak jam dinding seolah memperkeras detak jantungnya sendiri. Ia baru saja selesai menyeduh teh herbal, aroma melati yang seharusnya menenangkan justru terasa hambar di lidahnya, ketika matanya menangkap sesuatu yang asing. Sebuah amplop cokelat polos tergeletak persis di depan pintu. Ia tak ingat ada kurir yang datang, tak ada suara bel, tak ada ketukan. Sebuah firasat buruk merayap, mencengkeram ulu hatinya.

Dengan napas tertahan, Haein melangkah ragu. Jari-jarinya gemetar saat ia membungkuk, mengambil amplop itu. Dingin dan tak beridentitas. Tak ada nama pengirim, tak ada alamat kembali. Hanya kegelapan dan misteri. Jantungnya kini berdetak lebih cepat, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ia merobek amplop itu, gerakannya tergesa-gesa namun canggung.

Isinya menghantamnya bagai palu, hanya beberapa lembar foto. Bukan foto biasa, melainkan foto-foto dirinya. Foto-foto yang diambil secara diam-diam, dari jarak jauh, menangkap setiap gerakannya tanpa ia sadari. Ada foto saat ia berjalan santai di sekitar kompleks apartemen, siluetnya samar di antara pepohonan. Ada foto saat ia berbelanja di supermarket, fokusnya hanya pada deretan buah-buahan segar. Bahkan, ada foto dirinya yang sedang duduk sendirian di taman, membaca buku, punggungnya menghadap kamera. Setiap foto adalah invasi, sebuah pelanggaran privasi yang menjijikkan.

Di balik setiap foto, tertera tulisan tangan yang sama, seolah digores dengan niat jahat, menggunakan tinta merah yang tampak mengancam, seperti tetesan darah kering. Kata-katanya singkat, namun sangat menusuk, bagai pisau yang menghunus langsung ke jantungnya: "Tinggalkan dia. Dia milikku."

Dunia Haein seolah runtuh. Ia terkesiap, napasnya tercekat di tenggorokan. Rasa dingin menjalar dari tulang punggungnya hingga ke ujung jari-jarinya. Teror ini, yang selama ini hanya berupa telepon bisu dan bunga tanpa nama, kini menjadi nyata, personal, dan sangat mengerikan. Di sudut bawah setiap foto, terukir samar inisial kecil. "KYH."

"KYH..?" gumam Haein, suaranya nyaris tak terdengar. Ia tidak mengenal siapapun dengan inisial itu. Pikirannya berpacu, mencoba mengingat-ingat, mencari celah, apakah itu Yunho?

Ia membalikkan salah satu foto lagi, berharap menemukan petunjuk, atau setidaknya, penjelasan. Dan kali ini, ada kalimat yang lebih panjang, lebih menusuk, meracuni benaknya dengan keraguan. "Hyunwoo tidak pernah benar-benar berusaha untuk mencintaimu. Dia hanya bersamamu karena terpaksa. Pergilah, Haein. Biarkan dia bersamaku. Kita akan bahagia bersama."

Kalimat itu bagai panah beracun yang menancap tepat di hatinya. Air mata mulai mengalir deras di pipi Haein, tak terbendung. Ketakutan yang selama ini ia tekan kini menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan. Seseorang mengawasinya, mengancamnya, dan menginginkan Hyunwoo untuk dirinya sendiri. Semua teka-teki itu kini menyatu, telepon-telepon bisu, bunga tanpa nama, dan sekarang, foto-foto ini. Semuanya mengarah pada satu orang.

Tapi siapa "KYH" ini? Siapa yang berani-beraninya mengklaim suaminya?
Apakah benar ini Yunho? Dengan tangan gemetar, Haein meraih ponselnya. Jari-jarinya menari di atas layar, mencari nama Hyunwoo. Nada sambung berdering berulang kali, setiap dering seperti memukul gendang telinganya, hingga akhirnya suara Hyunwoo yang lelah namun familiar terdengar, "Halo, Sayang? Ada apa?"

"Hyunwoo.. kamu harus pulang sekarang juga!" seru Haein, suaranya pecah, nyaris histeris. Ia berusaha mengontrol isakannya, namun gagal. "Ada.. ada foto-foto.. dan pesan.."

Di seberang sana, Hyunwoo langsung panik. Nada suaranya berubah drastis, dari lelah menjadi tegang. "Foto? Pesan apa? Haein, ada apa? Apa kamu baik-baik saja?"

"Tidak! Aku tidak baik-baik saja!" isak Haein, napasnya tersengal. "Cepat pulang, Hyunwoo! Aku takut! Aku benar-benar takut!"

"Tunggu, Sayang, tenanglah sedikit," Hyunwoo mencoba menenangkan, namun suaranya juga mulai bergetar. "Apa yang terjadi? Beri tahu aku detailnya."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang