Finding Truth in Lies 6

337 74 0
                                        

Setelah beberapa hari tinggal di rumah orang tuanya, Haein dan Hyunwoo memutuskan untuk kembali ke Seoul. Hyunwoo sudah membuat janji dengan seorang psikolog dan ingin segera memulai terapinya. Haein juga merasa lebih tenang setelah mendengar penjelasan Hyunwoo dan memberikan kesempatan kedua untuk pernikahan mereka.

Pagi itu, setelah sarapan, mereka berpamitan kepada Hong Beomjun dan Kim Seonhwa.

"Kami pamit ya, Ayah, Ibu," kata Haein sambil memeluk kedua orang tuanya bergantian.

"Hati-hati di jalan ya, Nak," pesan Hong Beomjun. "Jangan ngebut-ngebut, Hyunwoo."

"Baik, Ayah," jawab Hyunwoo sopan.

Kim Seonhwa memeluk Haein sekali lagi dengan erat. "Kamu baik-baik ya di sana, Sayang. Jangan lupa sering-sering kabari Ibu."

"Pasti, Ibu," jawab Haein sambil tersenyum tipis.

Kim Seonhwa kemudian menatap Hyunwoo dengan senyum lega. "Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Ibu sempat khawatir kemarin Haein tiba-tiba datang sendiri."

Hyunwoo tersenyum canggung. "Tidak ada masalah serius kok, Ibu. Haein hanya rindu rumah. Sekarang semuanya sudah baik."

Kim Seonhwa mengangguk, merasa sedikit lega mendengar penjelasan Hyunwoo. Ia berharap dugaannya salah dan memang tidak ada masalah besar di antara anak dan menantunya. Ia hanya ingin melihat Haein bahagia.

"Ya sudah, sana berangkat," kata Kim Seonhwa sambil melambaikan tangan. "Hati-hati ya."

Haein dan Hyunwoo membungkuk hormat sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, keheningan yang tadinya terasa berat perlahan mulai mencair. Hyunwoo sesekali melirik Haein yang duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan. Ia merasa gugup untuk memulai percakapan, namun ia tahu ia harus mencoba.

"Haein," panggil Hyunwoo pelan.

Haein menoleh sedikit, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Ya?" jawabnya singkat.

"Bagaimana perasaanmu hari ini? Apakah kamu tidur nyenyak semalam?" tanya Hyunwoo, mencoba memulai dengan pertanyaan sederhana.

"Lumayan," jawab Haein singkat lagi.

Hyunwoo menghela napas dalam-dalam. Ia tahu ini tidak akan mudah. "Kamu.. kamu suka lagu yang sedang diputar?" tanyanya, menunjuk radio yang sedang memainkan sebuah lagu pop Korea.

Haein mendengarkan sejenak. "Biasa saja," jawabnya tanpa ekspresi.

Hyunwoo tidak menyerah. Ia mencoba lagi. "Cuaca hari ini cukup cerah ya. Semoga di Seoul juga begitu."

"Hm," gumam Haein.

Meskipun jawaban Haein singkat dan tidak antusias, Hyunwoo tidak berkecil hati. Ia tahu ia telah menyakiti Haein dengan sangat dalam, dan ia tidak bisa mengharapkan semuanya kembali normal dalam sekejap. Ia akan terus berusaha, perlahan tapi pasti, untuk mendapatkan kembali kepercayaan Haein.

"Apa kamu ingin berhenti di rest area sebentar? Mungkin kamu ingin minum kopi atau ke toilet?" tanya Hyunwoo setelah beberapa saat keheningan kembali menyelimuti mereka.

Haein berpikir sejenak. "Boleh," jawabnya akhirnya. "Aku ingin minum kopi."

Hyunwoo merasa sedikit lega. Setidaknya Haein tidak menolak ajakannya. Mereka berhenti di rest area terdekat dan keluar dari mobil. Mereka berjalan berdampingan menuju kedai kopi, tanpa ada percakapan yang berarti.

Saat mereka sedang mengantre kopi, Hyunwoo memberanikan diri untuk bertanya lagi. "Apa yang ingin kamu lakukan setelah kita sampai di Seoul? Apakah kamu ingin langsung pulang atau ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang