Suatu sore, ketenangan yang mendalam menyelimuti kamar utama apartemen mereka. Cahaya senja yang keemasan menyaring masuk, menciptakan suasana damai yang sangat dibutuhkan. Kim Jiwon, yang energinya terkuras habis karena beratnya kehamilan kembar dan tugas tak terhindarkannya merawat suaminya yang sakit, terlelap di ranjang king size mereka. Napasnya teratur, lembut dan dalam, dan tangannya diletakkan protektif di atas perutnya yang membuncit, seolah menjaga permata kembar di dalamnya.
Kim Soohyun baru saja menyelesaikan sesi latihan fisiknya yang melelahkan, dan ia merasa cukup kuat untuk melakukan misi rahasia yang sudah ia rencanakan sejak pagi. Ia bangkit perlahan dari ranjang—meskipun masih harus menggunakan tongkat, gerakannya jauh lebih mantap dan terkontrol—dan berjalan pelan menuju balkon. Ia menahan napas, tidak ingin melewatkan momen istirahat Jiwon yang berharga.
Setelah memastikan pintu balkon tertutup rapat, ia meraih ponselnya, mencari kontak Jungwoo. Panggilan tersambung setelah deringan pertama.
"Jungwoo? Apakah kau sedang sibuk memilah-milah laporan spreadsheet yang membosankan?" tanya Soohyun dengan suara berbisik dan nada rahasia, melirik ke dalam kamar, ke arah Jiwon yang damai.
Jungwoo di seberang telepon tertawa kecil, suara tawa yang berusaha ditahan. "Tuan Kim, saya sedang mengerjakan spreadsheet yang berisi rencana menu makanan Tuan dan Nona Jiwon selama seminggu ke depan. Ini lebih penting dari laporan keuangan kuartal. Nyonya Park sangat teliti."
"Bagus," bisik Soohyun. "Tinggalkan spreadsheet menu itu sebentar. Aku punya misi yang jauh lebih penting dan jauh lebih rahasia."
"Misi apa, Tuan? Apakah ini terkait keamanan atau pemantauan aset lagi?" tanya Jungwoo, nadanya langsung siaga.
Soohyun tersenyum tipis. "Ya, sangat terkait keamanan.. keamanan hatiku," canda Soohyun. "Aku ingin memberikan kejutan untuk Jiwon malam ini. Aku ingin kita merayakan kepulanganku, merayakan cinta kita, secara resmi. Kita berutang satu kencan mewah setelah semua drama ini."
Soohyun kemudian memberikan instruksi dengan detail yang presisi khas seorang CEO yang sedang merencanakan pengambilalihan perusahaan.
"Dengarkan baik-baik. Aku ingin kau melakukan tiga hal dengan presisi militer: Pertama, bawakan satu buket besar mawar merah muda—bukan merah! Merah muda! Jiwon suka yang lembut. Pastikan bunganya segar, seperti baru dipetik dari taman dewa-dewi. Jangan sampai ada satu pun kelopak yang layu."
"Mawar merah muda premium, Tuan, dicatat!" balas Jungwoo, terdengar sedang mengetik di keyboard.
"Kedua, siapkan mobil—bukan mobil perusahaan yang besar, ya. Gunakan mobil yang lebih sederhana, yang biasa-biasa saja, agar kita tidak menarik perhatian media atau paparazzi yang masih mengintai. Aku ingin reservasi di restoran Italia 'La Stella' dekat Sungai Han. Tempatnya harus tenang, jauh dari keramaian lobby. Minta meja di sudut, yang privat, ya?"
"Restoran Italia La Stella, tempat favorit Nona Jiwon. Meja VIP tersembunyi. Siap, Tuan Kim. Akan saya hubungi manager-nya."
"Bagus. Dan yang terakhir, yang paling penting," bisik Soohyun, nadanya melembut penuh perhatian, "Pastikan Sarang sudah diurus. Suruh Nyonya Park menjaganya semalaman. Aku tidak mau dia bangun dan mencari kami. Kita butuh malam romantis, hanya kami berdua. Pastikan dia memiliki semua mainan dan makanan ringan yang dia mau."
"Siap laksanakan, Tuan Kim! Wajah Anda terdengar sangat ceria. Saya mengerti. Ini adalah 'Misi Romansa Terbaik'!" Jungwoo berkata, wajahnya di seberang telepon pasti berseri-seri, meskipun ia berusaha menjaga nada profesional.
Soohyun tersenyum, melirik ke arah Jiwon yang masih tidur nyenyak. "Bagus, Jungwoo. Datanglah sekitar jam enam. Beritahu Jiwon bahwa kita akan ada rapat penting, rapat dewan yang mendadak, agar dia tidak curiga. Jangan sampai kau keceplosan tentang 'mawar merah muda' ini, atau aku akan memaksamu untuk merakit semua furnitur bayi yang tersisa."
