Pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional Gimpo. Kim Soohyun dan Kim Jiwon segera bergegas keluar. Soohyun mengeluarkan ponselnya, menghubungi sopirnya. "Jemput di pintu kedatangan domestik segera. Aku butuh mobil secepatnya ke kantor."
Di tengah keramaian bandara, Soohyun melirik Jiwon yang tampak sedikit cemas. Ia meraih tangan Jiwon, menggenggamnya erat, seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun ia sendiri merasakan tekanan yang luar biasa. Jiwon membalas genggaman itu, merasakan kekuatan dari sentuhan Soohyun.
Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan mereka. Sopir dengan sigap membukakan pintu. Soohyun dan Jiwon segera masuk. Sepanjang perjalanan menuju kantor Kim Pharmaceutical, Soohyun terus memeriksa dokumen di tabletnya, mempersiapkan diri untuk rapat mendadak itu. Wajahnya kembali tegang, aura dominan yang dingin memancar kuat. Jiwon duduk diam di sampingnya, mengamati perubahan pada pria itu.
Saat mobil berhenti di lobi utama Kim Pharmaceutical. Soohyun segera turun, diikuti Jiwon. Saat mereka melangkah masuk, suasana kantor terasa sangat berbeda dari biasanya. Terlihat beberapa karyawan yang berlalu-lalang dengan wajah tegang, dan bisik-bisik yang terdengar di sana-sini. Dahyun sudah menunggu di dekat lift, wajahnya pucat namun lega melihat Soohyun.
"Oppa! Syukurlah kau sudah sampai!" Dahyun berseru, segera menghampiri mereka. Ia melirik Jiwon sesaat, sedikit terkejut, namun segera mengalihkan perhatiannya kembali pada Soohyun. "Paman Dohon sudah di ruang rapat. Dia bersikeras untuk memulai dalam lima menit."
Soohyun mengangguk. Matanya menyapu lobi, lalu beralih pada Jiwon. Ia tahu ia tidak bisa membawa Jiwon langsung ke ruang rapat. Ini adalah pertarungan bisnis yang sengit, dan ia tidak ingin Jiwon terlibat langsung dalam tekanan seperti itu.
"Jiwon," Soohyun berkata, suaranya tenang namun tegas. "Tunggu di ruanganku." Ia menunjuk ke arah koridor menuju area CEO. "Dahyun akan mengantarmu. Jangan keluar sampai aku datang menemuimu."
Jiwon mengangguk, memahami instruksi Soohyun. Ia tahu Soohyun ingin melindunginya. "Baik, Oppa. Hati-hati."
Soohyun mengangguk cepat. Ia menoleh pada Dahyun. "Dahyun, antarkan Jiwon ke ruanganku. Pastikan dia nyaman. Setelah itu, kau ikut aku ke ruang rapat. Beri aku semua informasi terbaru."
"Siap, Oppa!" Dahyun menjawab, lalu menoleh pada Jiwon. "Mari, Nona Jiwon."
Dahyun menuntun Jiwon menuju kantor Soohyun, sementara Soohyun melangkah memasuki ruang rapat utama Kim Pharmaceutical. Suasana di dalam terasa tegang. Beberapa investor duduk di meja panjang, menatapnya dengan berbagai ekspresi—penasaran, skeptis, dan sedikit tidak sabar. Di ujung meja, duduklah Kim Dohon, dengan seringai puas di bibirnya.
Dohon bangkit berdiri. "Ah, CEO Kim Soohyun. Syukurlah kau akhirnya tiba. Kami hampir saja memulai tanpa kehadiranmu." Nada suaranya penuh sarkasme.
Soohyun mengabaikan pamannya. Matanya menyapu ruangan, mengunci pandangan dengan setiap investor. Ia berjalan menuju kursinya di kepala meja, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Ini adalah medan perangnya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mendiktenya.
"Selamat siang, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat," Soohyun memulai, suaranya tenang namun jelas dan berwibawa. "Terima kasih atas kehadiran Anda semua." Ia duduk, meletakkan tabletnya di meja.
Kemudian, tatapannya beralih pada Dohon, sorot matanya setajam pedang. "Sebelum kita memulai rapat ini," Soohyun berkata, nadanya penuh ketegasan, "saya ingin menyatakan keberatan saya terhadap prosedur rapat yang menyalahi aturan ini."
Beberapa investor terlihat sedikit terkejut, saling pandang. Dohon mencibir. "Apa maksudmu, CEO Kim? Ini hanya percepatan jadwal untuk efisiensi."
"Efisiensi?" Soohyun mendengus. "Pemberitahuan rapat proyek baru yang mendadak ini, hanya beberapa jam sebelum dimulai, jelas menyalahi prosedur yang sudah ditetapkan. Rapat ini sudah dijadwalkan secara resmi minggu depan untuk memberi waktu bagi semua pihak, termasuk investor, untuk mempersiapkan diri dan meninjau proposal dengan saksama."
