Langit Seoul di senja hari selalu memancarkan cahaya keemasan yang menyentuh gedung-gedung pencakar langit, menciptakan pemandangan yang begitu khas, begitu megah, persis seperti dunia tempat Hong Haein bernaung. Baek Hyunwoo seringkali mengamati dunia itu dari kejauhan, dari balik jendela kantornya yang tidak seeksklusif kantor di distrik Gangnam. Dia hanya seorang pria yang bekerja keras, jujur, dengan perasaan yang telah lama berakar, perasaan yang dia tahu tidak akan pernah memiliki tempat di dunia Haein yang berkilauan.
Baek Hyunwoo pertama kali bertemu Hong Haein di sebuah acara amal beberapa tahun lalu. Dia ada di sana sebagai perwakilan firma hukum kecilnya, sementara Haein sudah menjadi pusat perhatian, pewaris dari salah satu grup konglomerat terbesar di Korea Selatan. Senyumnya yang jarang, tatapan matanya yang tajam namun entah mengapa menyimpan jejak kesepian, dan caranya berbicara yang lugas—semua itu langsung menawan hati Hyunwoo. Dia tidak pernah berani melangkah lebih jauh dari sekadar percakapan profesional yang sopan. Perbedaan dunia mereka terlalu nyata, terlalu lebar untuk dijembatani.
Hong Haein, di mata publik dan di mata Hyunwoo, adalah simbol kesuksesan, kecantikan, dan kekuasaan. Dia jarang menunjukkan emosi, selalu terkontrol, selalu sempurna. Kini, sorotan media tertuju padanya lebih dari biasanya. Alasannya, pertunangannya dengan Kang Jihoon.
Kang Jihoon. Nama itu adalah nama yang identik dengan kesempurnaan di lingkaran sosial mereka. Pewaris dari grup bisnis rival, tampan, cerdas, dengan latar belakang keluarga yang setara dengan Haein. Bersama-sama, mereka adalah pasangan impian bagi para pengusaha dan media. Foto-foto mereka memenuhi halaman depan majalah, senyum mereka—terutama senyum Jihoon—tampak begitu serasi, begitu meyakinkan.
Hyunwoo melihat foto-foto itu di layar ponselnya, saat sedang sendirian di apartemennya yang sederhana. Gambar Haein tertawa lepas saat Jihoon membisikkan sesuatu di telinganya. Sebuah tusukan tajam terasa di dadanya, rasa sakit yang sudah menjadi teman lamanya. Dia menutup ponselnya, menarik napas dalam-dalam. "Bahagialah, Haein-ssi," bisiknya pada udara kosong. "Asal kau bahagia.."
###
Suatu sore, saat sedang mengerjakan berkas di kantor, sebuah amplop tebal berwarna putih gading dengan ukiran minimalis namun mewah tergeletak di mejanya. Undangan pernikahan. Atas nama Hong Haein dan Kang Jihoon. Hatinya mencelos, meskipun dia sudah tahu ini akan datang. Jemarinya gemetar saat membuka lipatannya. Tanggal, waktu, lokasi.. semua detail dari hari yang paling dia takuti sekaligus yang paling dia harapkan—karena itu berarti Haein bahagia—tertera jelas di sana.
"Hyunwoo-ya, kau mau pergi?" tanya rekan kerjanya, Yoon Seri, melihat amplop itu. "Pernikahan Hong Haein? Wah, pasti megah sekali! Tamunya orang-orang penting semua, ya?"
Hyun-woo hanya mengangguk kaku. "Ya.. undangan."
"Kau diundang? Hebat sekali! Jarang lho orang luar lingkaran mereka bisa dapat undangan langsung begitu!" Seri terdengar antusias.
Hyunwoo hanya bisa tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku.. kenal sedikit dengan keluarga mereka."
"Oh, begitu? Mau pergi bareng? Pasti seru melihat langsung acara seperti itu!" Hyunwoo menggeleng. "Kurasa tidak. Aku.. akan pergi sendiri. Jika aku pergi." Keraguan dalam suaranya jelas, tetapi Seri tampaknya tidak menyadarinya.
Malam itu, Hyunwoo duduk di sofa, memandangi undangan itu lagi. Pergi atau tidak? Setiap serat tubuhnya menjerit untuk tidak pergi, untuk tidak melihatnya dengan pria lain, untuk tidak menyaksikan akhir dari harapan tipis yang tak pernah diungkapkannya. Namun, bagian lain dari dirinya merasa berkewajiban, dan yang lebih penting, ingin melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Haein benar-benar mendapatkan kebahagiaannya. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri di awal—kebahagiaannya adalah prioritas.
