Where the Heart Leads 2

394 79 15
                                        

Ruang operasi kembali menjadi medan pertempuran yang sunyi namun penuh tekanan. Hari ini, Baek Hyunwoo memimpin operasi reseksi tumor paru-paru yang cukup rumit. Hong Haein bertugas sebagai asisten kedua, berdiri di sisi Hyunwoo, berusaha mengikuti setiap gerakannya dan mengantisipasi kebutuhannya. Ia merasa sedikit lebih percaya diri hari ini, setelah mendapatkan kepercayaan Hyunwoo untuk ikut serta dalam penanganan kasus Kim Minjun.

Operasi berjalan dengan lancar di sebagian besar waktu. Hyunwoo dengan tenang dan metodis memisahkan jaringan tumor dari paru-paru pasien. Haein bertugas untuk memberikan retraksi dan membantu menjaga area operasi tetap bersih dari darah. Namun, saat Hyunwoo meminta Haein untuk melakukan hemostasis pada sebuah pembuluh darah kecil yang berdarah aktif, Haein melakukan kesalahan kecil namun berpotensi berbahaya.

Dengan sedikit terburu-buru dan kurang hati-hati, Haein menjepit pembuluh darah tersebut terlalu kuat, menyebabkan robekan kecil pada dinding pembuluh darah yang lebih besar di dekatnya. Tiba-tiba, darah memancar lebih deras dari sebelumnya, membasahi area operasi.

Suasana di ruang operasi langsung menegang. Perawat instrumen terkejut, dan asisten pertama, Dokter Park Sungjoon, menoleh dengan cemas. Hyunwoo, yang tadinya fokus pada tumor, langsung mengangkat kepalanya. Ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan, tapi matanya memancarkan ketegasan yang menusuk.

"Dokter Hong!" seru Hyunwoo dengan nada rendah namun penuh otoritas. "Apa yang terjadi?"

Wajah Haein memucat. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang. "Maaf, Dokter Baek. Saya.. saya tidak sengaja.."

Tanpa membuang waktu, Hyunwoo dengan cepat mengambil alih situasi. "Suster Kim, berikan saya klip vaskular mikro. Dokter Park, tolong bantu retraksi di area ini."

Dengan gerakan cepat dan terampil, Hyunwoo berhasil mengendalikan perdarahan. Ia menjepit pembuluh darah yang robek dengan klip kecil, menghentikan aliran darah yang mengkhawatirkan itu. Setelah situasi kembali terkendali, Hyunwoo kembali fokus pada reseksi tumor, seolah tidak ada kejadian apa pun. Namun, Haein bisa merasakan tatapan tajam Hyunwoo sesekali mengarah padanya.

Sisa operasi berjalan tanpa insiden lebih lanjut, namun Haein merasa sangat bersalah dan malu. Ia tahu ia telah melakukan kesalahan yang bisa membahayakan nyawa pasien. Ia terus berusaha fokus pada tugasnya, namun pikirannya terus dihantui oleh kejadian tadi.

Setelah operasi selesai dan pasien dipindahkan ke ruang pemulihan, Hyunwoo meminta Haein untuk menemuinya di ruang kerjanya. Haein berjalan menuju ruangan itu dengan perasaan campur aduk antara takut dan cemas.

Hyunwoo sudah duduk di mejanya ketika Haein masuk. Ia menatap Haein dengan tatapan yang serius namun tidak marah.

"Dokter Hong, silakan duduk," kata Hyunwoo dengan nada datar.

Haein duduk di kursi di hadapan meja Hyunwoo, menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Dokter Baek. Saya benar-benar menyesal atas kesalahan tadi. Saya tidak akan mengulanginya lagi."

Hyunwoo menghela napas pelan. "Kesalahan bisa terjadi, Dokter Hong. Terutama bagi residen yang baru belajar. Tapi di ruang operasi, kesalahan sekecil apapun bisa berakibat fatal. Kita tidak punya ruang untuk kesalahan yang ceroboh."

"Saya mengerti, Dokter Baek," jawab Haein lirih.

"Saya tidak memarahi kamu di depan tim tadi," lanjut Hyunwoo, "karena itu tidak akan membantu siapa pun. Tapi saya harap kamu menyadari betapa seriusnya situasi tadi. Kamu hampir menyebabkan perdarahan yang hebat pada pasien."

Haein mengangguk, air mata hampir menetes di matanya. "Saya tahu, Dokter Baek. Saya sangat menyesal."

Hyunwoo menatap Haein dengan intens. "Saya tahu kamu memiliki potensi, Dokter Hong. Kamu cerdas dan cepat belajar. Tapi kamu harus lebih hati-hati dan teliti, terutama dalam hal-hal yang sekecil apapun. Jangan terburu-buru dan selalu perhatikan detailnya. Nyawa pasien ada di tangan kita."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang