Malam ini, Haein masih terjaga. Pikirannya dipenuhi oleh kejadian-kejadian beberapa hari terakhir, terutama tatapan khawatir Hyunwoo yang sempat ia lihat sekilas. Ia mencoba mengingat kembali setiap kata yang Hyunwoo ucapkan saat mereka bertengkar. Nada suaranya yang penuh kepasrahan, "Terserah kamu mau melakukan apa saja," terus terngiang di telinganya.
Haein memejamkan matanya, mencoba merangkai kembali semua kepingan-kepingan sikap Hyunwoo. Di satu sisi, ia bersikap dingin dan menjaga jarak. Namun di sisi lain, ada perhatian-perhatian kecil yang tidak bisa ia abaikan. Gelas air yang tiba-tiba ada di mejanya saat ia batuk, pecahan kaca yang sudah bersih sebelum ia sempat melihatnya, bahkan tatapan khawatir yang begitu cepat disembunyikannya. Semua itu terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.
Ia kembali mengingat kata-kata Hyunwoo saat mereka bertengkar hebat. "Aku hanya takut, Haein! Aku takut kehilangan kalian berdua!" Nada frustrasi dan ketakutan dalam suara Hyunwoo kembali terngiang di benaknya. Saat itu, ia terlalu marah dan merasa diremehkan hingga mengabaikan ketulusan di balik kata-kata itu.
Haein menghela napas panjang. Ia mulai menyadari bahwa mungkin ia terlalu fokus pada dirinya sendiri dan pekerjaannya hingga tidak melihat betapa besar kekhawatiran Hyunwoo. Ia selalu merasa mampu mengatasi semuanya sendiri, bahwa ia adalah seorang dokter yang kuat dan profesional. Namun, kejadian hampir keguguran beberapa waktu lalu telah membuktikan bahwa ia tidak sekuat yang ia kira. Tubuhnya memberikan sinyal yang jelas bahwa ia membutuhkan istirahat.
Ia merenungkan kembali betapa keras kepalanya ia saat itu. Hyunwoo hanya ingin melindunginya dan bayi mereka, tapi ia justru menolak dan bersikap defensif. Ia bahkan merasa marah karena Hyunwoo seolah meragukan kemampuannya sebagai seorang dokter. Namun, sekarang, dalam kesunyian malam, Haein mulai melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin Hyunwoo tidak meragukan kemampuannya, tapi ia hanya sangat mencintainya dan takut akan kehilangan.
Rasa bersalah mulai menghantuinya. Ia telah bersikap egois dan tidak mempedulikan perasaan Hyunwoo. Ia telah memprioritaskan pekerjaannya di atas kesehatannya sendiri dan kesehatan bayi yang sedang dikandungnya. Ia membayangkan betapa cemasnya Hyunwoo setiap kali ia pergi bekerja, betapa takutnya ia jika sesuatu yang buruk terjadi.
Haein membalikkan tubuhnya dan menatap punggung Hyunwoo yang memunggunginya. Ia bisa merasakan dinginnya jarak yang tercipta di antara mereka. Ia merindukan kehangatan pelukan Hyunwoo, sentuhan lembutnya, dan kata-kata cintanya. Ia menyadari betapa berharganya Hyunwoo baginya, bukan hanya sebagai seorang suami, tapi juga sebagai seseorang yang selalu ada untuknya, yang selalu melindunginya.
Dalam kegelapan malam, Haein mengakui dalam hatinya bahwa Hyunwoo benar. Ia seharusnya mengambil cuti. Ia seharusnya lebih mendengarkan kekhawatiran suaminya. Ia seharusnya tidak bersikap begitu keras kepala. Rasa penyesalan yang mendalam menyelimuti hatinya. Ia ingin memperbaiki semuanya. Ia ingin kembali merasakan kehangatan cinta Hyunwoo. Ia ingin mereka kembali menjadi pasangan yang saling mendukung dan menyayangi.
Dengan tekad yang bulat, Haein memutuskan bahwa ia harus berbicara dengan Hyunwoo. Ia harus meminta maaf dan menjelaskan perasaannya. Ia harus mengakui kesalahannya dan berjanji untuk lebih memperhatikan kesehatannya dan bayi mereka. Ia berharap Hyunwoo akan mendengarkannya dan memaafkannya. Malam itu, dalam kesunyian kamar, Haein berjanji pada dirinya sendiri bahwa besok, ia akan memulai semuanya dari awal.
###
Keesokan harinya, Haein menunggu hingga Hyunwoo selesai dengan sarapannya dan bersiap untuk berangkat kerja. Ia melihat suaminya itu meraih tas kerjanya di meja makan, siap untuk melangkah keluar pintu seperti biasa. Dengan jantung berdebar, Haein memberanikan diri untuk menghampirinya.
"Hyunwoo," panggil Haein pelan, suaranya sedikit bergetar.
Hyunwoo yang sudah hampir mencapai pintu, menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia menatap Haein dengan tatapan yang sulit dibaca, seolah menunggu apa yang akan ia katakan.
