Where the Heart Leads 5 (End)

505 80 5
                                        

Pagi keberangkatan Haein terasa suram, seolah langit Seoul ikut merasakan kesedihan yang menyelimuti mereka. Hyunwoo mengemudikan mobil dengan tenang, namun Haein bisa merasakan ketegangan yang tersembunyi di balik rahangnya yang mengeras. Di sampingnya, Haein menatap keluar jendela, berusaha merekam setiap sudut kota yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.

Sepanjang perjalanan ke bandara, keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh sesekali helaan napas panjang. Akhirnya, Hyunwoo memecah keheningan dengan suara pelan, "Kamu yakin sudah membawa semua yang kamu butuhkan?"

Haein menoleh dan tersenyum tipis. "Sudah, Hyunwoo. Jangan khawatir. Aku sudah mengeceknya berkali-kali."

"Baiklah," jawab Hyunwoo singkat, namun Haein bisa melihat kekhawatiran di matanya.

Sesampainya di bandara, suasana ramai dan hiruk pikuk terasa kontras dengan kesedihan yang mereka rasakan. Hyunwoo membantu Haein mengeluarkan kopernya dari bagasi. Mereka berjalan berdampingan menuju konter check-in, tanpa melepaskan genggaman tangan masing-masing.

Di depan konter, Haein menghentikan langkahnya dan menatap Hyunwoo. Air mata mulai menggenang di matanya. "Aku akan merindukanmu," bisiknya dengan suara tercekat.

Hyunwoo menarik Haein ke dalam pelukan erat. "Aku juga akan sangat merindukanmu, Haein. Jaga dirimu baik-baik di sana. Belajar yang rajin, tapi jangan lupakan aku."

Haein memeluk Hyunwoo semakin erat, menyembunyikan wajahnya di dadanya. "Aku tidak akan pernah melupakanmu, Hyunwoo. Kamu akan selalu ada di hatiku."

Setelah check-in dan melewati bagian imigrasi, tibalah saat perpisahan yang sebenarnya di depan gerbang keberangkatan. Air mata Haein sudah tidak terbendung lagi. Ia memeluk Hyunwoo sekali lagi, kali ini dengan lebih erat dan lebih lama.

"Telepon aku kalau sudah sampai," kata Hyunwoo dengan suara bergetar, mengusap air mata di pipi Haein. "Kita akan terus berkomunikasi setiap hari. Video call juga."

"Janji?" tanya Haein dengan nada serak.

"Janji," jawab Hyunwoo dengan senyum pahit. Ia mencium kening Haein dengan lembut. "Selamat jalan, Haein. Kejar impianmu."

Haein mengangguk, berusaha tersenyum meskipun air mata terus mengalir. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu keberangkatan, sesekali menoleh ke belakang untuk melihat Hyunwoo yang masih berdiri di tempatnya, menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan kesedihan. Semakin jauh ia melangkah, semakin berat pula hatinya.

###

Setibanya di Baltimore, Haein langsung disibukkan dengan rutinitas barunya sebagai residen di Johns Hopkins. Jadwalnya sangat padat, dengan jam kerja yang panjang dan tuntutan belajar yang tinggi. Namun, di sela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri untuk memberi kabar kepada Hyunwoo.

Perbedaan waktu yang cukup signifikan antara Baltimore dan Seoul menjadi tantangan tersendiri. Mereka seringkali harus mengatur waktu dengan susah payah untuk bisa berbicara melalui telepon atau video call. Biasanya, Haein akan menelepon Hyunwoo saat ia sedang istirahat makan siang atau setelah selesai dengan semua tugasnya di malam hari, yang berarti Hyunwoo harus bangun lebih awal atau tidur lebih larut.

"Bagaimana harimu?" tanya Haein suatu malam melalui video call, terlihat lelah namun tetap bersemangat.

Hyunwoo, yang tampak baru bangun tidur, tersenyum melihat wajah Haein di layar ponselnya. "Melelahkan seperti biasa. Ada beberapa operasi yang cukup rumit hari ini. Kamu sendiri bagaimana? Sudah mulai terbiasa dengan rutinitas di sana?"

"Masih beradaptasi," jawab Haein sambil menghela napas. "Lingkungannya sangat berbeda, dan tekanannya juga lebih tinggi. Tapi semua orang di sini sangat profesional dan kompeten. Aku banyak belajar."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang