Kabar bahwa Kim Jiwon mengandung bayi kembar – satu perempuan dan satu laki-laki – bagaikan riak air yang menyebar, mengubah tenang menjadi gelombang antusiasme dalam hidup Kim Soohyun dan Jiwon. Setelah keterkejutan awal, kebahagiaan murni meluap, diikuti dengan kesadaran akan skala persiapan yang kini dua kali lipat. Apartemen mewah mereka di Seoul, yang sebelumnya terasa luas untuk mereka bertiga, kini harus dirombak total.
Kim Sarang adalah orang yang paling antusias. Setiap pagi, ia akan berlari ke arah perut Jiwon, menciumnya, dan berbicara kepada "Adik Bayi Cewek" dan "Adik Bayi Cowok" dengan suara cempreng yang menggemaskan.
"Ibu, nanti kalau Adik bayi sudah besar, Sarang mau ajak main masak-masakan!" Sarang menceloteh suatu sore, sambil mengusap perut Jiwon dengan tangan kecilnya. "Sarang juga mau ajak Adik Cowok main mobil-mobilan Ayah! Tapi Adik Cewek harus pakai gaun peri, ya Bu!"
Jiwon dan Soohyun hanya bisa tersenyum melihat tingkah polos Sarang. Soohyun mengacak rambut Sarang dengan sayang. "Tentu saja, sayang. Adik Bayi Cewekmu pasti akan cantik dengan gaun peri."
Sore harinya, saat Sarang sudah terlelap, Jiwon dan Soohyun duduk di ruang keluarga, memandangi kamar Sarang yang kini terlihat begitu kecil untuk tiga anak. Jiwon menyentuh perutnya yang mulai membuncit, merasakan gerakan lembut di dalamnya.
"Kita harus segera mulai mempersiapkan kamar bayi," Jiwon berkata, suaranya dipenuhi campuran kegembiraan dan sedikit kecemasan. "Dua ranjang bayi, dua lemari, dua stroller, persediaan popok ganda.. Ini akan jadi tantangan besar, Soohyun."
Soohyun mengangguk, matanya sudah berkilat penuh rencana, mencerminkan efisiensi seorang CEO yang terbiasa mengatasi masalah besar. Ia memegang tangan Jiwon, mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Jangan khawatir, sayang. Aku akan mengurusnya. Kita bisa memperluas kamar Sarang agar lebih besar dan punya dua sisi, atau mungkin mengubah salah satu ruang tamu menjadi kamar bayi. Apa pun yang kau inginkan, aku akan pastikan semuanya sempurna."
Soohyun, dengan segala efisiensinya, segera melibatkan Jungwoo dalam "proyek" persiapan bayi kembar ini.
"Jungwoo, aku butuh bantuanmu secara eksklusif selama beberapa bulan ke depan," Soohyun berkata suatu pagi di kantor, memanggil Jungwoo ke ruang kerjanya. Wajahnya berseri-seri, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kita akan punya anak kembar."
Mata Jungwoo membelalak lebar, ekspresi terkejutnya yang lucu membuat Soohyun terkekeh pelan. "Kembar, Tuan Kim?! Sungguh?! Selamat, Tuan Kim! Selamat, Nona Jiwon! Ini berita yang luar biasa! Anugerah yang tiada tara!" Ia segera berdiri, membungkuk dalam-dalam, saking gembiranya.
"Terima kasih, Jungwoo," Soohyun berkata, tawa kecil keluar dari mulutnya. "Tapi ini juga berarti dua kali lipat pekerjaan. Aku ingin kau membantu Jiwon mencari desain interior kamar bayi, memesan perabotan yang tepat, dan semua perlengkapan bayi yang dibutuhkan. Dari baby monitor sampai car seat."
Jungwoo mengangguk antusias, semangatnya meluap-luap. "Siap, Tuan Kim! Saya akan segera menghubungi beberapa desainer interior ternama, mencari daftar perlengkapan bayi kembar terlengkap, dan menyiapkan jadwal kunjungan ke toko perlengkapan bayi. Ini akan jadi proyek paling menyenangkan yang pernah saya tangani!"
Benar saja, Jungwoo dengan sigap membantu Jiwon. Ia datang membawa katalog desain kamar bayi yang tebal, daftar kebutuhan bayi kembar yang sangat panjang, dan bahkan menemani Jiwon ke toko perlengkapan bayi, menjadi penasihat yang sangat teliti. Jiwon yang awalnya merasa kewalahan, kini merasa sangat terbantu dengan kehadiran Jungwoo.
"Jungwoo, apakah kita benar-benar butuh dua alat steril botol?" Jiwon bertanya suatu sore di toko perlengkapan bayi, menatap Jungwoo yang dengan serius membandingkan dua jenis sterilizer terbaru.
