More than love 1/2

831 98 16
                                        

Langit pagi Seoul masih diselimuti kabut tipis saat percakapan itu dimulai. Di sebuah apartemen yang elegan dan minimalis, Kim Soohyun menyesap kopi hitamnya sambil membaca koran digital. Di seberangnya, Kim Jiwon dengan cermat menyuapkan sarapannya, mata tertuju pada ponsel, jemarinya sesekali menari di atas layar.

​"Oppa," suara Jiwon memecah keheningan yang nyaman, "apakah aku boleh menumpang mobilmu untuk pergi ke studio?"

​Soohyun, yang tenggelam dalam berita ekonomi, mengangkat pandangannya. Ekspresi wajahnya yang tenang beralih pada Jiwon. Matanya meneliti wajah Jiwon yang sedang mengunyah, bibir yang sesekali mengerucut lucu.

​"Bukankah biasanya Seongho yang selalu mengantarmu?" Soohyun balik bertanya, bukan karena ia keberatan, tetapi karena rutinitas itu sudah menjadi hal yang biasa. Setiap pagi, mobil Seongho akan berhenti di depan lobi, menunggu Jiwon.

​Jiwon menelan makanannya, menghela napas panjang seolah-olah harus menjelaskan sesuatu yang rumit. "Untuk beberapa hari ke depan, Seongho tidak bisa mengantarku. Dia sedang ke luar kota untuk urusan pekerjaan." Jeda sejenak, Jiwon menatap Soohyun dengan tatapan memohon yang khas. "Jadi, apakah Oppa bisa memberiku tumpangan?"

​Soohyun meletakkan ponselnya dan mengangguk perlahan. "Ya, aku tidak keberatan, hanya saja aku juga harus menjemput Hyena terlebih dahulu. Apa kamu tak masalah dengan itu?"

​Senyum Jiwon memudar. Ia menunduk, mengaduk-aduk sisa sereal di mangkuknya dengan sendok. "Jika seperti itu, aku lebih baik pergi sendiri saja. Aku tidak mau mengganggu kalian," katanya, nada suaranya terdengar lesu.

​Soohyun tersenyum tipis. Ia sudah hafal betul sifat Jiwon yang terlalu sungkan dan tidak ingin merepotkan orang lain, terutama Hyena, kekasihnya. "Sudah kubilang aku tidak keberatan," tegas Soohyun. "Kamu bisa pergi bersama kami. Asal kamu tidak apa-apa aku menjemput Hyena dulu."

​Jiwon mengangkat kepalanya, binar harapan kembali di matanya. "Aku tidak masalah, Oppa. Tapi, bagaimana dengan eonni?" tanyanya, merujuk pada Hyena dengan panggilan yang sopan.

​"Dia pasti tidak mempermasalahkannya, kamu tenang saja," jawab Soohyun, suaranya meyakinkan.

​"Baiklah, karena Oppa bilang begitu, aku jadi ikut bersamamu," putus Jiwon. Senyumnya kini merekah.

​Soohyun mengangguk puas. "Ya sudah, habiskan dulu sarapanmu. Kita berangkat sebentar lagi," perintahnya. Jiwon segera kembali melahap sarapannya dengan semangat, suasana di meja makan kembali dipenuhi kehangatan persaudaraan yang mereka miliki.

###

​Kim Soohyun dan Kim Jiwon, dua nama yang terikat dalam sebuah pernikahan tanpa cinta. Pernikahan mereka adalah sebuah ironi—dua insan yang terjebak dalam bahtera yang seharusnya penuh romansa, namun bagi mereka, kapal itu hanyalah sebuah perahu kosong yang didorong oleh kehendak orang tua. Sejak kecil, Jiwon melihat Soohyun sebagai figur kakak laki-laki yang ia dambakan, begitu pula Soohyun yang sudah menganggap Jiwon seperti adik perempuannya sendiri. Hubungan mereka adalah cerminan dari sebuah ikatan keluarga, bukan sepasang kekasih. Jadi, jika ada yang berharap mereka akan bertingkah romantis, mereka akan kecewa.

Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, Soohyun mengemudi dengan tenang, matanya lurus ke jalan, namun sesekali ia melirik spion tengah, mencuri pandang ke arah Jiwon. Jiwon di kursi belakang terlihat fokus pada ponselnya, jemarinya lincah mengetik. Namun, dari raut wajahnya, Soohyun tahu ada yang tidak beres. Jiwon tampak gelisah, sesekali menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada pesan singkat dari Seongho pagi itu. "Maaf, aku sangat sibuk." Perasaan kecewa kembali merayap di hatinya, membuat perutnya terasa kosong.

​Hening di dalam mobil terasa begitu pekat, hanya diisi oleh suara radio yang menyiarkan berita pagi. Jiwon mematikan ponselnya, menyandarkan kepala ke sandaran kursi, dan memejamkan mata. Ia mencoba mengusir bayangan Seongho yang sibuk dengan pekerjaannya, mengusir rasa cemburu yang tak beralasan. Ia seharusnya terbiasa dengan ini. Seongho adalah pria ambisius yang selalu memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya, bahkan di atas hubungan mereka. Tapi, mengapa setiap kali itu terjadi, rasanya selalu sama—menyakitkan?

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang