Kim Soohyun melangkah keluar dari lift pribadi, aura dinginnya seperti biasa menyelimuti lobi lantai eksekutif yang mewah. Meskipun baru saja menghabiskan malam yang penuh gairah dan kurang tidur, tidak ada sedikit pun tanda kelelahan di wajahnya yang tampan. Jas mahalnya terpasang rapi, dasinya sedikit longgar, namun tetap memberikan kesan berkuasa. Pikirannya masih melayang pada Kim Jiwon, yang kini mungkin masih tertidur lelap di penthousenya.
Begitu ia mencapai pintu ruang kerjanya, sebuah suara menghentikannya.
"CEO Kim!"
Soohyun menoleh. Itu adalah Sekretaris Choi, wanita paruh baya yang selalu efisien dan teliti, kini berdiri dengan wajah sedikit panik.
"Ada apa?" Soohyun bertanya, nadanya datar.
Sekretaris Choi buru-buru mendekat, membungkuk sedikit. "Maafkan saya, CEO Kim. Saya sudah mencoba menghubungi Anda sejak tadi, tapi ponsel Anda tidak aktif."
Soohyun melirik ponselnya yang memang sengaja ia matikan semalaman. Ia tidak ingin diganggu. "Langsung saja ke intinya."
"Rapat Dewan Eksekutif, CEO Kim!" Sekretaris Choi berkata, suaranya sedikit bergetar. "Seharusnya dimulai pukul sembilan pagi ini, dan Anda sudah terlambat lima belas menit!"
Mata Soohyun melebar sedikit, terkejut. Rapat Dewan Eksekutif? Ia sepenuhnya melupakan itu. Semalam, pikirannya hanya terfokus pada Jiwon. Ia bahkan tidak memedulikan jadwalnya yang padat. Sial.
"Baik," Soohyun berkata singkat, segera menyesuaikan diri. "Aku akan ke sana sekarang."
Ia berbalik, melangkah cepat menuju ruang rapat. Sekretaris Choi mengikutinya di belakang, membawa tablet yang berisi notulensi rapat.
Soohyun membuka pintu ruang rapat dan melangkah masuk. Semua mata langsung tertuju padanya. Suasana yang tadinya sedikit tegang karena keterlambatannya, kini menjadi hening. Ia bisa merasakan tatapan menilai dari para petinggi perusahaan, para direktur, dan pemegang saham besar yang duduk mengelilingi meja oval panjang.
Yang pertama kali terlihat oleh Soohyun adalah pamannya, Kim Dohon, yang menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO). Kim Dohon, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di pelipisnya, menatap Soohyun dengan tatapan yang sudah sangat dikenal Soohyun, tatapan penuh perhitungan, kecurigaan, dan sedikit kepuasan tersembunyi setiap kali Soohyun melakukan kesalahan.
Soohyun sudah tak asing dengan tatapan itu. Ia tahu pamannya selalu mencari celah untuk menjatuhkannya, untuk menunjukkan bahwa Soohyun tidak pantas berada di posisi teratas. Soohyun hanya tersenyum simpul sebagai bentuk balasan, sebuah senyum tipis yang penuh percaya diri, seolah berkata, Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi itu tidak akan menggangguku.
"Maaf atas keterlambatan saya," Soohyun berkata dengan suara tenang dan berwibawa, mengambil tempat di kepala meja. "Ada sedikit masalah yang harus saya tangani secara pribadi." Ia melirik sekilas ke arah Dohon, seolah menegaskan bahwa masalah pribadinya pun lebih penting dari rapat ini.
Rapat dimulai. Sepanjang jalannya rapat, Dohon tak henti-hentinya menyerangnya. Ia mengangkat isu-isu kecil yang seharusnya tidak menjadi fokus utama rapat, mencoba menemukan kekurangan dalam setiap proposal Soohyun, dan bahkan sesekali melemparkan sindiran pribadi.
"CEO Kim," Dohon berkata, nadanya manis namun penuh racun, ketika membahas rencana ekspansi bisnis. "Saya harap Anda tidak terlalu sibuk dengan urusan pribadi hingga melupakan tanggung jawab besar Anda sebagai pemimpin perusahaan ini. Apalagi, umur Anda sebentar lagi memasuki angka tiga puluh lima. Sesuai wasiat, sudah seharusnya Anda memikirkan kelangsungan garis keturunan keluarga, bukan?"
Beberapa anggota dewan saling pandang, ada yang menahan senyum, ada pula yang terlihat tidak nyaman. Mereka tahu wasiat mendiang Kakek Kim yang mengharuskan Soohyun menikah dan memiliki keturunan di usia 35 tahun, atau sebagian besar warisan dan kendali perusahaan akan dialihkan. Soohyun tetap tenang, senyum tipisnya tidak luntur. Ia menghadapi serangan itu dengan penuh kesabaran, wajahnya datar, tidak menunjukkan emosi. "Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan Kim," Soohyun menjawab, suaranya tenang dan terkontrol. "Saya yakin Anda tahu bahwa masalah pribadi tidak akan pernah mengganggu kinerja profesional saya. Perusahaan ini adalah prioritas utama saya."
