Dinding kantor ruangan CEO terasa bergetar, bukan karena gempa, melainkan karena amarah yang meluap-luap dari dalam diri Kim Jungah. Setelah Kim Soohyun melenggang pergi, mengucapkan kata-kata yang begitu berani dan penuh penolakan, Jungah berdiri terpaku, napasnya memburu.
Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonjol. Ia tidak percaya. Putranya, darah dagingnya sendiri, baru saja menantangnya, menolak semua yang telah ia bangun, dan memilih jalan yang ia anggap hina.
"Berani-beraninya dia!" Jungah menggeram, suaranya parau. Ia meraih vas bunga kristal di meja, hendak membantingnya, namun tangannya bergetar terlalu hebat. "Berani-beraninya Soohyun melakukan ini padaku!"
Ia melangkah mondar-mandir di ruangan yang luas, pikirannya kalut. Bertahun-tahun ia telah merencanakan hidup Soohyun, membentuknya menjadi pewaris sempurna K-Group. Ia telah melakukan segalanya, bahkan menyingkirkan Jiwon dan menyembunyikan Gunwoo, demi masa depan putranya. Dan kini, Soohyun membuang semua itu begitu saja, seolah tidak berarti apa-apa.
"Wanita itu.. wanita itu meracuni pikirannya!" Jungah membanting tangannya ke meja. "Dia menghancurkan anakku! Dia menghancurkan semua rencanaku!" Jungah menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Wajahnya yang tadinya diliputi amarah kini berubah dingin, digantikan oleh ekspresi tekad yang kejam. Ia tidak akan membiarkan ini. Ia tidak akan membiarkan Soohyun hidup bahagia di luar kendalinya, apalagi dengan Jiwon dan anak itu.
Ia meraih interkom di mejanya. "Sekretaris Kang! Masuk sekarang!" perintahnya, suaranya tajam dan tidak sabar.
Sekretaris Kang, yang tampak tegang dan pucat, segera masuk. Ia membungkuk hormat, menghindari tatapan Jungah yang menusuk. Ia tahu badai baru saja berlalu, dan kini ia berada di tengah badai yang lain.
"Duduk," perintah Jungah, menunjuk kursi di hadapannya. "Aku ada tugas penting untukmu."
Sekretaris Kang duduk dengan cemas, menunggu.
"Soohyun.. dia sudah gila," Jungah memulai, suaranya bergetar karena menahan amarah yang membara. "Dia sudah menyerahkan posisi CEO. Dia pikir dia bisa hidup bebas, sesukanya, tanpa uang dan koneksi." Ia mendengus sinis. "Aku akan tunjukkan padanya betapa salahnya dia."
Jungah mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap Sekretaris Kang dengan tajam. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Aku ingin kau mengikuti Soohyun."
Sekretaris Kang sedikit terkejut. "Mengikuti Tuan Kim, Nyonya?"
"Ya. Ikuti setiap geraknya," tegas Jungah. "Aku ingin tahu ke mana dia pergi. Dengan siapa dia bertemu. Apa yang dia lakukan. Setiap detailnya."
"Tapi, Nyonya.. Tuan Kim sudah tidak lagi berada di perusahaan," Sekretaris Kang mencoba beralasan, merasa tidak nyaman dengan perintah ini.
"Kau pikir aku peduli?! Ini adalah perintah!" Jungah membentak, matanya berkilat berbahaya. "Kau adalah sekretaris pribadiku sekarang. Dan tugasku adalah memastikan masa depan anakku tidak hancur di tangan wanita dan anak itu!"
Jungah bersandar di kursinya, menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Aku ingin kau melaporkan semuanya padaku. Apa yang dia makan. Di mana dia tidur. Pekerjaan apa yang dia lakukan. Aku ingin tahu setiap detail yang memalukan yang akan dia alami." Senyum sinis terukir di bibirnya. "Dia pikir dia bisa hidup tanpa aku? Aku akan tunjukkan betapa susahnya hidup itu tanpaku."
"Baik, Nyonya," Sekretaris Kang akhirnya mengangguk, pasrah. Ia tahu tidak ada gunanya membantah Jungah saat ini.
"Dan jangan sampai dia tahu kau mengikutinya," Jungah menambahkan. "Jika dia tahu, kau akan tahu konsekuensinya." Ada ancaman tersirat dalam suaranya.
"Siap, Nyonya," Sekretaris Kang membungkuk lagi. Ia berdiri, lalu melangkah keluar dari ruangan Jungah, merasakan beban berat di pundaknya. Ia harus mengikuti mantan CEO-nya, yang kini menjadi orang biasa, dan melaporkan setiap gerak-geriknya kepada ibunya yang kejam. Ia tahu ini akan menjadi tugas yang sulit.
