Beberapa hari setelah insiden dengan Sekretaris Kang, suasana di Sweet Corner kembali dipenuhi semangat dan kehangatan. Layanan pesan antar berjalan lancar, dan Kim Soohyun menikmati setiap detiknya, mengantar roti dan kue dengan senyum tulus. Kehadiran Jiwon dan Gunwoo di sisinya adalah motivasi terbesarnya. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di pikiran Soohyun, sesuatu yang ia ingin segera wujudkan.
Malam itu, setelah toko tutup dan Gunwoo sudah terlelap di kamarnya, Jiwon dan Soohyun duduk di ruang tamu apartemen. Soohyun meletakkan tabletnya di meja, dan menatap Jiwon yang sedang menyesap teh hangatnya.
"Jiwon," Soohyun memulai, suaranya lembut. "Tentang yang waktu itu.. tentang pernikahan kita."
Jiwon mendongak, matanya sedikit membelalak. Ia tahu ini akan dibicarakan lagi, tapi ia tidak menyangka secepat ini.
"Aku serius, Jiwon," lanjut Soohyun, meraih tangan Jiwon dan menggenggamnya erat. "Aku ingin segera meresmikan hubungan kita. Aku ingin kau menjadi istriku lagi, secara sah. Aku ingin Gunwoo memiliki keluarga yang utuh dengan kita berdua sebagai orang tuanya yang sah."
Jiwon merasakan pipinya memanas. Hatinya menghangat mendengar tekad Soohyun. Ia juga menginginkan hal itu, lebih dari apa pun. Namun, bayangan Kim Jungah masih menghantuinya.
"Aku juga ingin, Soohyun," kata Jiwon pelan. "Tapi.. bagaimana dengan ibumu? Dia pasti tidak akan setuju."
Soohyun menghela napas. "Biarkan saja, Jiwon. Kali ini, tidak ada lagi yang bisa menghentikanku. Kini aku sudah menemukan kembali kebahagiaan yang sesungguhnya di sini, bersamamu dan Gunwoo. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya lagi, termasuk ibuku." Ia menatap Jiwon dengan penuh keyakinan. "Jadi, mari kita persiapkan semuanya."
Jiwon tersenyum tipis. Ada rasa lega yang luar biasa. "Baiklah. Kalau begitu.. aku punya ide."
"Apa itu?" tanya Soohyun antusias.
"Bagaimana kalau kita adakan pernikahan yang sederhana saja?" Jiwon mengusulkan, matanya menatap Soohyun penuh harap. "Di gereja kecil. Hanya kita berdua, Gunwoo, dan beberapa orang terdekat kita saja. Minjun, Hana, mungkin beberapa pelanggan tetap kita dan teman dekatku." Jiwon menambahkan, "Tidak perlu pesta besar atau undangan mewah. Yang penting adalah janji suci kita di hadapan Tuhan."
Mendengar itu, ekspresi Soohyun berubah. Alisnya sedikit berkerut. "Sederhana? Jiwon, aku masih mampu membuat pesta yang mewah dan meriah. Kau pantas mendapatkan yang terbaik. Aku ingin menebus semua yang sudah kulakukan padamu. Aku ingin semua orang tahu bahwa kau kembali menjadi istriku!"
Jiwon menggelengkan kepalanya. Ia tahu maksud Soohyun baik, namun ia tidak menginginkan kemewahan yang dulu justru menjadi sumber masalah mereka. Ia tidak ingin pernikahan mereka kembali menjadi panggung bagi ambisi dan kekuasaan.
"Tidak, Soohyun," Jiwon bersikeras, meraih tangan Soohyun lagi. "Aku tidak butuh pesta mewah. Aku tidak butuh semua itu lagi. Yang aku butuhkan hanyalah kau, di sisiku, sebagai suamiku. Dan kita, sebagai keluarga yang utuh bersama Gunwoo." Ia menatap Soohyun dengan tatapan memohon. "Pesta mewah hanya akan menarik perhatian ibumu. Aku tidak ingin dia mengganggu kita lagi. Aku hanya ingin pernikahan yang tenang, damai, dan penuh cinta. Janji suci yang tulus."
Soohyun menatap Jiwon, melihat ketulusan di mata wanita itu. Ia menghela napas panjang. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Jiwon, menebus semua kesalahannya. Tapi Jiwon hanya menginginkan kesederhanaan, kedamaian, dan cinta.
"Tapi.." Soohyun masih ragu.
"Kumohon, Soohyun," Jiwon memohon lagi. "Ini yang kuinginkan. Ini yang terbaik untuk kita, untuk Gunwoo. Kita bisa fokus pada kebahagiaan kita, bukan pada pandangan orang lain."
