Jerat 17

340 67 8
                                        

​Akhir pekan di apartemen mewah keluarga Kim di Seoul seharusnya menjadi sebuah jeda yang menenangkan. Apartemen dengan jendela-jendela tinggi yang menghadap ke lanskap kota yang berkilauan ini adalah surga bagi keluarga kecil Kim. Namun, bagi Kim Jiwon, arsitek genius yang kini tengah hamil, akhir pekan itu adalah medan perang. Ia duduk di meja makan yang kini berfungsi sebagai pusat komando, dikelilingi oleh sketsa yang berantakan, laptop yang menyala terang, dan tumpukan blueprint.

​Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh menutupi dahinya yang berkerut dalam. Napasnya terdengar berat, sebuah erangan frustrasi yang berulang kali keluar dari bibirnya. Proyek besar yang seharusnya menjadi mahkota kariernya, gedung kantor pusat Grup Hanmi, kini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.

​"Ibu, ayo main boneka!" Suara cempreng Kim Sarang, putri kecil mereka yang berusia empat tahun, memecah keheningan. Sarang, mengenakan gaun pink menggemaskan, menarik-narik ujung daster Jiwon.

​Jiwon tersentak, tetapi matanya tetap terpaku pada layar. "Nanti ya, Sayang," jawabnya tanpa menoleh, nada suaranya lelah. "Ibu masih.. banyak kerjaan."

​Kim Soohyun, sang suami sekaligus CEO Kim Engineering & Construction, mengamati adegan itu dari sofa ruang keluarga. Ia baru saja menyingkirkan mainan-mainan yang berserakan, dan kini duduk memangku Sarang yang merengek. Ia melihat tumpukan kertas berserakan, kekacauan yang tak biasa, dan ekspresi frustrasi yang tergambar jelas di wajah istrinya. Ia tahu betapa Jiwon memaksakan diri di tengah kehamilannya.

​Soohyun menghela napas, menepuk punggung Sarang pelan. "Sarang, biarkan Ibu bekerja dulu, ya? Ayah dan Sarang main di sini saja." Ia bangkit, menggendong Sarang, lalu mendekati meja makan. "Ada apa, Jiwon? Kelihatannya tegang sekali."

​Jiwon menyisir rambutnya ke belakang, matanya berkaca-kaca karena kelelahan. Ia menunjuk layar laptopnya. "Ini.. proyek Hanmi. Klien meminta perubahan total pada fasad dan interior. Mendadak, dengan tenggat waktu yang sangat mepet." Suaranya bergetar. "Aku sudah mencoba berbagai konsep. Kubisme, sustainable design, bahkan deconstructivism.. tapi tidak ada yang terasa 'hidup'. Aku buntu, Soohyun. Rasanya seperti menemui jalan buntu yang gelap."

​Soohyun meletakkan Sarang di kursi tinggi, lalu menoleh ke layar laptop Jiwon. Sebagai CEO perusahaan konstruksi, ia sangat familiar dengan seluk-beluk desain. Matanya yang tajam memindai sketsa-sketsa yang berantakan, lalu berhenti pada blueprint asli. Ia merasakan kegelisahan Jiwon, tapi juga melihat potensi yang belum tergali.

​"Hmm," gumamnya, lalu mengambil pena dari tangan Jiwon. "Biar kulihat." Ia memutar laptop agar menghadapnya. "Klien menginginkan kesan apa? Lebih modern? Lebih ramah lingkungan? Atau.. 'ikonik' seperti yang mereka bilang?"

​"Mereka ingin sesuatu yang 'ikonik', tapi tetap fungsional dan merepresentasikan citra 'visioner'," Jiwon menjelaskan, suaranya pasrah. "Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ide-ideku terasa basi."

​Tanpa berkata apa-apa, Soohyun mengambil selembar kertas kosong. Tangannya bergerak lincah, menggambar dengan tangan bebas. Garis-garis presisi muncul di atas kertas, memadukan bentuk geometris yang tegas dengan lengkungan alami yang lembut. Ia menambahkan detail-detail kecil, sketsa yang terlihat seperti panel-panel kaca dan tumbuhan yang menjuntai.

​"Bagaimana kalau kita coba perpaduan antara minimalisme organik dan struktur kinetik?" ucap Soohyun, matanya masih fokus pada sketsanya. "Fasadnya bisa menggunakan panel kaca reflektif yang bisa bergerak otomatis mengikuti pergerakan matahari, menciptakan efek cahaya dan bayangan yang dinamis. Lalu, di bagian interior, kita bisa memasukkan taman vertikal raksasa di lobi utama. Itu tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tapi juga filter udara alami dan pengatur suhu. Ini akan menciptakan pengalaman ruang yang hidup dan bernapas."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang