Garis Batas 13 (End)

547 76 22
                                        

Pagi itu, ​sejak tiba di kantor, Hyunwoo merasakan tatapan aneh dari rekan-rekan kerjanya. Mereka menyapanya dengan senyum yang dipaksakan, dan obrolan yang biasanya riuh mendadak hening saat ia lewat. Firasat buruknya menjadi kenyataan saat ia melihat Tuan Kim, atasannya yang biasanya ramah, berdiri di depan pintu ruangannya, raut wajahnya terlihat masam.

​"Tuan Baek, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Tuan Kim, suaranya dingin.

​Hyunwoo mengangguk, hatinya berdebar tak karuan. Ia mengikuti Tuan Kim ke dalam ruangan. Tuan Kim menutup pintu, lalu duduk di kursinya, menyilangkan tangan di dada. Di depannya, ada tumpukan berkas yang tidak rapi.

​"Kau tahu, Tuan Baek," kata Tuan Kim, matanya menatap Hyunwoo tajam. "Aku sangat kecewa padamu."

​Hyunwoo menelan ludah. "Maaf, Tuan Kim. Saya tahu saya absen beberapa hari. Istri saya.."

​"Aku tahu istrimu sakit," potong Tuan Kim. "Aku mengerti. Tapi kau juga punya tanggung jawab di sini. Kau menghilang tanpa kabar, tidak bisa dihubungi, dan banyak proyek yang molor."

​Tuan Kim menunjuk tumpukan berkas di mejanya. "Ini adalah berkas proyek pembangunan apartemen mewah di Gangnam. Salah satu proyek terbesar kita. Rapat dengan investor harus diundur tiga kali karena kau tidak ada. Kami kehilangan waktu yang sangat berharga. Dan kau adalah kepala arsitek di proyek ini. Aku menaruh kepercayaan besar padamu."

​Hyunwoo menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Maaf, Tuan Kim. Saya akan segera menyelesaikannya. Saya akan lembur jika perlu."

​"Lembur?" Tuan Kim mendengus. "Ini bukan hanya masalah lembur, Tuan Baek. Ini tentang profesionalisme. Proyek sebesar ini seharusnya tidak mengalami penundaan. Kepercayaan klien adalah segalanya bagi kita."

​Hyunwoo mengangkat kepalanya, mencoba menjelaskan. "Saya mengerti, Tuan Kim. Tapi Haein.."

​"Cukup, Tuan Baek," Tuan Kim menginterupsi. "Aku tidak ingin mendengar alasanmu. Aku ingin mendengar pertanggungjawabanmu." Ia menjeda, lalu menatap Hyunwoo dengan tatapan yang membuat Hyunwoo merinding. "Kau harus bertanggung jawab atas ini. Proyek Gangnam itu akan kuberikan kepada Arsitek Lee. Aku akan memindahkannya dari timmu."

​Hyunwoo membelalakkan matanya, terkejut. "Tuan Kim, jangan. Tolong berikan saya kesempatan. Saya bisa menyelesaikannya."

​"Tidak," Tuan Kim menggeleng. "Keputusanku sudah bulat. Dan bukan hanya itu. Aku akan memotong gajimu bulan ini."

​Hyunwoo merasakan darahnya mendidih. "Apa?! Gaji?" Ia tidak peduli pada gaji, ia hanya peduli pada proyeknya. Namun, memotong gaji adalah penghinaan.

​"Anggap saja itu denda," kata Tuan Kim dengan dingin. "Itu adalah konsekuensi dari ketidakprofesionalanmu. Kau terlalu fokus pada kehidupan pribadimu, sampai-sampai melupakan tanggung jawabmu di kantor."

​Hyunwoo terdiam. Kata-kata Tuan Kim menghantamnya telak. Ia tidak bisa membantah. Semua yang Tuan Kim katakan ada benarnya. Ia memang terlalu fokus pada Haein, sampai-sampai mengabaikan pekerjaannya. Ia telah membuat kesalahan besar.

​"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir," kata Tuan Kim, menatap Hyunwoo dengan tatapan meremehkan. "Kau bisa keluar sekarang."

​Hyunwoo bangkit dari kursinya, berjalan keluar dari ruangan Tuan Kim dengan kepala tertunduk. Ia kembali ke mejanya, melihat berkas-berkas proyek Gangnam yang masih tergeletak di sana. Ia tahu, ia telah kehilangan proyek itu. Ia telah kehilangan kepercayaan Tuan Kim.

​Saat Hyunwoo melihat Arsitek Lee, salah satu rekan kerjanya, mengambil berkas-berkas dari mejanya dengan senyum penuh kemenangan, Hyunwoo menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan proyek. Ia juga kehilangan posisinya. Ia telah membuat kesalahan yang sangat besar, dan ia harus menanggung konsekuensinya sendirian.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang