Setelah pengakuan yang mengguncang dan ciuman pertama yang manis, dinding es Hyunwoo tidak hanya retak, tapi benar-benar meleleh menjadi genangan air. Ia telah jatuh cinta pada Hong Haein, wanita yang dulu ia hindari. Dan ketika seorang Baek Hyunwoo jatuh cinta, ia tidak tanggung-tanggung. Sikapnya berubah drastis, dari seorang yang kaku, penyendiri, dan sangat menjaga jarak, menjadi pribadi yang hangat, perhatian, dan sangat-sangat mencurahkan segalanya. Ia menemukan dirinya terpikat oleh setiap detail Haein, dari tawa riangnya yang seperti lonceng, hingga kerutan keningnya yang menggemaskan saat berpikir keras. Haein, di sisi lain, menikmati perubahan ini sepenuhnya. Kelelahan dan frustrasi yang dulu ia rasakan berganti dengan kebahagiaan dan kehangatan melihat Hyunwoo yang baru ini—Hyunwoo yang mencintainya tanpa syarat.
Malam itu, setelah seharian penuh berkencan, mereka berdua mendapati diri mereka berdiri di ambang pintu kamar utama. Pintu yang sejak awal pernikahan mereka tetap menjadi batas tak terlihat, kini terbuka lebar, mengundang mereka masuk ke dalam sebuah fase baru. Keheningan yang manis menyelimuti, berbeda jauh dari keheningan kaku di awal pernikahan paksa mereka. Ini adalah keheningan yang penuh kebahagiaan, penuh harapan.
Haein menatap Hyunwoo, matanya yang indah memantulkan keraguan dan harapan yang bercampur aduk. Cahaya lampu koridor menyinari siluet mereka. "Kau yakin?" tanyanya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. Pertanyaan itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri dan keraguan yang masih tersisa, daripada pada Hyunwoo. Ini adalah langkah besar, sebuah simbol penerimaan penuh terhadap realitas baru mereka.
Hyunwoo tersenyum, senyum yang kini jauh lebih tulus dan lembut, senyum yang hanya ia tunjukkan untuk Haein. Ia meraih tangan Haein, jemarinya membelai punggung tangan wanita itu, meremasnya lembut. "Sangat yakin, Haein. Aku ingin kau di sini bersamaku. Malam ini, dan setiap malam yang tersisa dalam hidup kita." Ada nada keyakinan mutlak dalam suaranya, sebuah janji yang tak terucapkan.
Haein mengangguk, hatinya dipenuhi kebahagiaan yang meluap. Mereka melangkah masuk bersama ke kamar utama itu, kamar yang selama ini terasa seperti tempat asing, kini tiba-tiba terasa seperti rumah yang sesungguhnya. Hyunwoo segera berbalik, menutup pintu dengan lembut di belakang mereka, seolah menutup dunia luar dan semua kegaduhannya.
"Ada banyak barangmu di kamar sebelah," kata Haein, memecah keheningan, meskipun suaranya masih sedikit canggung. Ia menunjuk ke arah kamar tidur Hyunwoo sebelumnya.
"Aku akan memindahkannya," jawab Hyunwoo cepat, antusias.
"Aku akan membantumu,"
Mereka mulai memindahkan barang-barang Hyunwoo. Haein dengan telaten membantu Hyunwoo melipat pakaian, menyusun buku-buku di rak, dan menata meja rias. Ada tawa dan sentuhan-sentuhan kecil sepanjang proses itu. Hyunwoo sesekali akan sengaja menyentuh tangan Haein saat mereka meraih baju yang sama, atau membelai rambutnya saat ia membungkuk untuk mengambil sesuatu. Setiap sentuhan itu mengirimkan sengatan listrik yang menyenangkan bagi Haein.
"Ini.. terasa aneh," kata Haein, saat ia memegang piyama baru yang ia letakkan di bantal Hyunwoo. Ia memutar piyama itu di tangannya, matanya menatap Hyunwoo. "Dulu, aku selalu berharap bisa melakukan ini, bisa berbagi ruang yang sama denganmu, tapi sekarang.. ini nyata. Sungguh nyata." Ada nada kerentanan dalam suaranya yang jarang ia tunjukkan.
Hyunwoo mendekat, memeluk Haein dari belakang, dagunya bersandar di bahu Haein. Aroma rambut Haein yang lembut, wangi vanila yang menenangkan, memenuhi indranya. Ia merasakan detak jantung Haein yang cepat di dadanya. "Ya, nyata," bisik Hyunwoo, suaranya serak karena kedekatan mereka. "Dan aku tidak akan menukarnya dengan ketenangan apa pun di dunia ini, Haein. Tidak akan." Ia mempererat pelukannya, seolah ingin sepenuhnya menyerap kehadiran Haein. "Aku tidak pernah tahu kehangatan seperti ini bisa ada."
