Ignited Touch 11

491 93 27
                                        

Kim Soohyun menyesap kopinya, puas setelah makan siang yang produktif dan percakapan dengan Kim Jiwon. Kini saatnya ia beraksi. Ada satu orang lagi yang harus ia beritahu tentang rencananya yang tiba-tiba ini, sekaligus mendelegasikan tanggung jawab.

Ia mengangkat interkom. "Panggil Nona Kim Dahyun ke ruangan saya," Soohyun memerintah.

Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka dan Dahyun masuk dengan senyum ceria. "Ada apa, Oppa?"

Soohyun menunjuk kursi di depannya. "Duduklah. Ada kabar penting."

Dahyun duduk, alisnya terangkat penasaran. "Penting? Apa itu? Proyek baru yang kau sembunyikan?"

Soohyun menatap adiknya dengan tatapan serius. "Jiwon.. Jiwon hamil."

Mata Dahyun langsung membelalak. Mulutnya sedikit terbuka karena terkejut. "APA?!" serunya, nadanya campuran antara kaget dan gembira luar biasa. "Benarkah?! Aku tidak salah dengar?"

Soohyun mengangguk tipis. "Ya. Kemarin kami pergi ke rumah sakit. Usia kandungannya lima minggu."

Dahyun langsung melompat dari kursinya, mendekati Soohyun, senyum lebarnya tak bisa disembunyikan. "Astaga, Oppa! Ini.. ini luar biasa! Selamat! Kau akan punya anak! Dan dengan Nona Kim! Aku sudah bilang kan, dia itu wanita yang luar biasa!"

Soohyun hanya menatap adiknya, sedikit terkejut dengan luapan emosi Dahyun. Sedangkan Dahyun, masih pada euforianya yang begitu kentara. Padahal beberapa waktu lalu kakaknya sangat keras kepala pada idenya untuk menikahi Jiwon, bahkan terkesan menolak mentah-mentah saat Dahyun menyarankan untuk menikahi wanita itu. Tapi, sekarang bahkan Kim Jiwon hamil.

"Karena ini semua," Soohyun melanjutkan, "aku berencana untuk ke Jeju akhir pekan ini. Menemui orang tua Jiwon untuk melamarnya."

Dahyun berteriak kecil, girang. "Ya ampun, Oppa! Ini jauh lebih cepat dari yang kubayangkan! Aku tahu kau bisa melakukannya! Ini akan menyelesaikan semua masalah kita!" Dahyun memeluk Soohyun dengan erat, sebuah pelukan jarang yang Soohyun terima dari adiknya yang biasanya energik namun menjaga jarak profesional.

Soohyun membiarkan Dahyun melepaskan pelukannya. "Itu sebabnya aku memanggilmu ke sini," Soohyun berkata, nadanya kembali datar. "Selama aku di Jeju, kaulah yang harus mengawasi perusahaan. Aku akan mendelegasikan semua hal penting padamu. Sekretaris Choi akan membantumu dengan jadwal dan dokumen."

Dahyun mengangguk cepat, wajahnya serius. "Tentu saja, Oppa! Aku akan mengurusnya. Jangan khawatir! Ini juga demi kita, demi masa depan perusahaan dan keluarga kita. Aku akan memastikan semuanya berjalan lancar di sini."

Soohyun merasa sedikit lega. Ia tahu Dahyun adalah orang yang cakap dan bisa diandalkan. "Bagus." Ia kemudian teringat satu hal lagi, hal yang ia anggap remeh namun penting dalam tradisi. "Satu hal lagi. Aku akan melamar secara formal pada orang tua Jiwon. Mereka sangat menjunjung tinggi tradisi."

Dahyun mengerutkan dahi, bingung. "Maksudmu, secara tradisional? Dengan membawa hadiah dan segala macamnya?"

Soohyun mengangguk. "Ya. Aku tidak tahu apa yang harus kubawa sebagai oleh-oleh. Saranmu? Apa yang biasanya disukai orang tua di daerah pedesaan?"

Dahyun tersenyum, menyadari kakaknya yang selalu pragmatis ini benar-benar tidak paham soal hal-hal seperti ini. "Hmm, kalau orang tua tradisional, mereka biasanya suka hadiah yang menunjukkan ketulusan dan rasa hormat, Oppa."

Dahyun berpikir sejenak. "Mungkin ginseng merah Korea berkualitas tinggi? Atau satu set keramik tradisional yang indah? Kalau untuk Ibu Nona Kim, mungkin syal sutra mahal atau perhiasan sederhana yang elegan. Untuk Ayah-nya, mungkin satu set minuman soju premium atau tongkat golf edisi terbatas jika beliau suka golf. Tapi yang paling penting, Oppa, adalah sikapmu. Tunjukkan rasa hormat dan keseriusanmu."

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang