Kim Soohyun duduk di kursinya. Di depan matanya terhampar tumpukan dokumen dan laporan yang harus ia selesaikan. Namun, ia tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang. Ia mencoba membaca, tetapi setiap kata seolah menari-nari di depannya. Ia mengambil pulpen, mencoba menulis, tetapi tangannya gemetar.
Ia menghela napas panjang, lalu bersandar di kursinya. Pikirannya kini hanya tertuju pada satu orang, Kim Jiwon. Ia membayangkan Jiwon yang kini tengah berada di penthouse bersama Dahyun. Ia membayangkan Jiwon yang sedang beristirahat di sofa, menonton televisi, atau membaca buku. Ia membayangkan Jiwon yang tersenyum, tertawa, dan bahagia.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada rasa takut yang menggerogoti hatinya. Ia tidak bisa melupakan apa yang terjadi. Ia tidak bisa melupakan bagaimana Jiwon terjatuh, bagaimana ia berteriak, bagaimana ia memegangi perutnya. Dan yang lebih parah, ia tidak bisa melupakan pamannya yang kini mencoba mencelakai Jiwon.
Soohyun mengepalkan tangannya. Amarahnya membara. Ia tidak bisa memaafkan Dohoon. Ia tidak bisa memaafkan Pamannya yang berani-beraninya menyakiti Jiwon, yang tidak bersalah.
Soohyun mengambil ponselnya. Ia menekan tombol panggilan, dan suara Jiwon terdengar dari seberang. "Oppa? Ada apa?" Jiwon bertanya.
"Tidak ada," Soohyun membalas. "Aku hanya.. ingin mendengar suaramu. Apa kau baik-baik saja? Apa kau sudah makan?"
"Aku baik-baik saja, Oppa," Jiwon membalas. "Dahyun sedang membuatkanku sup rumput laut. Kami akan makan nanti."
Soohyun tersenyum. "Aku akan segera pulang, sayang," Soohyun berbisik. "Tunggu aku, ya?"
"Tentu," Jiwon membalas. "Aku akan menunggumu."
Soohyun menutup telepon. Ia merasa lebih baik. Ia tahu, ia harus menyelesaikan pekerjaannya. Agar ia bisa segera bertemu dengan Jiwon.
###
Setelah percakapan telepon dengan Kim Soohyun, Kim Jiwon meletakkan ponselnya di meja. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Mendengar suara Soohyun saja sudah cukup untuk menenangkan hatinya. Ia tahu, Soohyun pasti sangat sibuk, tapi pria itu tetap meluangkan waktu untuk meneleponnya. Hal kecil seperti ini membuat Jiwon merasa begitu dicintai dan dihargai.
Ia melirik ke arah Kim Dahyun, yang kini sedang sibuk menyiapkan sup di dapur. Dahyun bersenandung pelan, suasananya begitu hangat. Jiwon merasa sangat bersyukur memiliki adik ipar seperti Dahyun. Dahyun tidak pernah menghakiminya, justru selalu mendukungnya.
Jiwon berjalan ke dapur, lalu duduk di kursi. "Kau tidak perlu repot-repot, Dahyun," Jiwon berkata. "Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tentu saja aku harus repot, Eonnie," Dahyun membalas, ia tersenyum. "Kau adalah kakak iparku. Dan kau sedang hamil. Kau tidak boleh lelah."
Jiwon ikut tersenyum. "Terima kasih, Dahyun," Jiwon berbisik.
"Sama-sama, Eonnie," Dahyun membalas. Ia menaruh semangkuk sup di depan Jiwon. "Ini, makanlah. Aku tahu kau pasti lapar."
Jiwon mulai makan sup itu, rasanya begitu hangat dan menenangkan. Di tengah-tengah kehangatan itu, Jiwon tidak bisa melupakan apa yang terjadi kemarin. Ia teringat bagaimana ia terjatuh, bagaimana ia panik, dan bagaimana Soohyun menggendongnya. Ia tahu, Soohyun pasti sangat khawatir.
Jiwon menghela napas panjang. Ia tahu, ada sesuatu yang tidak beres. Kecelakaan itu bukanlah sebuah kecelakaan. Namun, ia tidak berani bertanya pada Soohyun. Ia tidak ingin Soohyun khawatir. Ia akan menunggu, sampai Soohyun siap untuk memberitahunya.
Setelah makan, Jiwon dan Dahyun duduk di sofa, menonton televisi. Mereka berdua tertawa, dan saling bercanda. Di luar, hari semakin gelap. Jiwon melirik jam di dinding. Sudah hampir pukul delapan malam, dan Soohyun belum juga pulang. Jiwon merasa cemas. Ia mengambil ponselnya, tetapi ia tidak berani menelepon Soohyun. Ia tidak ingin mengganggu Soohyun. Ia akan menunggu. Ia akan percaya pada Soohyun.
