Baek Hyunwoo tidak bisa tidur malam itu. Bau muntah di karpet sudah hilang, tetapi ingatan tentang Hong Haein yang rapuh di pelukannya tetap kuat, menghantui setiap sudut sayap barat. Ia tahu Haein menyembunyikan sesuatu. Mual yang parah, penolakan terhadap makanan, dan yang paling penting, air mata yang tulus yang membasahi kemejanya.
Ratu Es menangis.
Keesokan paginya, Hyunwoo seharusnya bertemu teman-teman lamanya di bar pribadi di Gangnam. Ia sudah membuat janji dengan seorang model yang sering ia kencani sebelum menikah. Itu adalah kebiasaan yang selama ini ia gunakan untuk menegaskan kebebasannya dari kontrak pernikahan dan untuk membuktikan bahwa ia masih 'bebas'.
Namun, saat ia bersiap, Hyunwoo berhenti. Ia menatap jas yang tergantung di lemari. Ia tidak merasakan dorongan itu. Ia tidak ingin menghabiskan malam dengan tawa palsu dan perhatian dangkal. Ia hanya memikirkan Haein, sendirian di kamar utama, mempertahankan rahasia yang jelas-jelas menguras tenaganya.
Ia meraih ponselnya. Batalkan janji hari ini. Saya memiliki urusan mendesak di kantor pusat. Ia mengirimkan pesan singkat kepada asistennya.
Hyunwoo memutuskan untuk menghabiskan malam itu di rumah. Ia memilih untuk bekerja di perpustakaan di sayap barat. Ia membaca laporan, tetapi pikirannya terus menyimpang. Ia membayangkan Haein di kamar utama. Apakah dia makan? Apakah dia minum teh yang tepat?
Ia ingat betapa dinginnya Haein saat ia menolak perhatiannya. Anda hanya perlu tahu bahwa saya tidak sakit. Saya.. saya hanya lelah. Sangat lelah.
Hyunwoo menyadari, kekejaman Haein adalah bentuk perlindungan. Jika dia lemah, dia akan ditinggalkan—seperti yang dilakukan keluarganya sendiri terhadapnya. Ia telah menyaksikan hal itu di panti asuhan—kehangatan yang tersembunyi.
Malam itu, Hyunwoo tidak pergi ke bar. Ia bahkan tidak membalas pesan dari model yang bertanya tentang pembatalannya. Ia duduk sendirian, merenungkan pernikahannya.
Ia tidak tahu persis mengapa, tetapi dorongan untuk menjaga jarak dari Haein telah digantikan oleh keinginan untuk melindunginya. Ia mulai menghilangkan kebiasaannya sebagai playboy, bukan karena Haein memintanya, tetapi karena ia tiba-tiba merasa muak dengan kehidupan lama yang dangkal.
Ini adalah pertama kalinya ia melepaskan kendali dan keangkuhan demi seseorang—bahkan jika Haein sendiri tidak menyadarinya. Ia hanya bisa menunggu, memperhatikan, dan berharap Haein akan menurunkan pertahanannya.
###
Setelah insiden di ruang tamu, Hong Haein menghabiskan sisa malam itu dalam keadaan syok emosional. Ia telah menangis dan muntah di depan Baek Hyunwoo. Ia telah menunjukkan kelemahannya. Sekarang, ia hanya menunggu. Menunggu serangan Hyunwoo, menunggu penghinaan, menunggu permintaan cerai, atau ancaman bisnis.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya: Keheningan yang Aneh.
Keesokan paginya, Hyunwoo tidak muncul di ruang makan, tetapi dia juga tidak mengirim pesan sinis. Ia hanya mengirimkan pesan bisnis formal melalui Sekretarisnya tentang perubahan jadwal rapat dewan.
Haein tahu Hyunwoo seharusnya menghadiri pesta penting dan bertemu dengan teman-teman lamanya pada hari itu. Ia sering mendengar bisikan tentang kebiasaan Hyunwoo di bar pribadi itu. Haein berasumsi ia hanya sibuk dengan "urusan playboy"-nya.
Namun, Tuan Park melaporkan bahwa Tuan Baek menghabiskan sepanjang sore dan malam di perpustakaan sayap barat, bekerja.
Bekerja? Sepanjang hari? Itu sangat tidak biasa.
Minggu itu, keanehan terus berlanjut. Hyunwoo tidak terlambat pulang. Tidak ada panggilan telepon larut malam yang harus dijawab oleh Sekretarisnya. Tidak ada foto gosip dirinya di majalah hiburan. Pria yang seharusnya menjadi benalu dalam hidupnya, tiba-tiba menjadi suami yang sangat tertutup dan, ironisnya, profesional.
