Laa Famiglia (Sequel Truth)

830 75 24
                                        

Pagi itu, rumah di Seongbuk-dong dipenuhi aroma jjigae dan roti panggang buatan Ibu Soohyun, Nyonya Lee. Cahaya pagi menyaring masuk melalui jendela, menerangi meja makan kecil yang hangat.

​Kim Jisoo sudah duduk dengan riang, mengenakan seragam sekolahnya, sambil mengayunkan kaki. Nyonya Lee tersenyum lembut, menuangkan air. Kim Jiwon duduk di sebelah Soohyun, hatinya berdebar-debar. Cincin olive branch yang sederhana terasa berat dan nyata di jarinya.

​Soohyun membersihkan tenggorokannya. Ia menatap Jiwon, memberikan senyum penuh dukungan, sebelum menoleh ke putrinya.

​“Hey, Putri kecil,” panggil Soohyun dengan nada formal yang dibuat-buat, menarik perhatian Jisoo. “Ayah dan Tante Cantik punya kabar sangat, sangat penting untukmu pagi ini.”

​Jisoo menghentikan kunyahannya. Matanya yang besar memandang Ayah dan Jiwon bergantian. “Kabar apa? Apa Ayah punya resep tteokbokki terbaru?”

​Jiwon tertawa kecil. Ia meraih tangan Soohyun di bawah meja.

​“Dengar, Sayang,” kata Soohyun, suaranya melembut. Ia meraih tangan Jiwon dan mengangkatnya di atas meja. “Lihat jari Tante Cantik.”

​Jisoo mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya fokus pada tangan Jiwon. Ia melihat cincin emas putih yang bersinar lembut.

​“Wah! Cincin! Indah sekali!” seru Jisoo. “Apa itu hadiah dari Ayah karena Tante membantu memotong sayuran kemarin?”

​Nyonya Lee tersenyum tipis, menikmati drama pagi itu.

​“Bukan, Sayang,” jawab Jiwon lembut. Ia membawa tangannya lebih dekat ke Jisoo. “Ini bukan hadiah biasa. Ini adalah janji.”

​Soohyun menyambung, “Tante Cantik berjanji akan tinggal bersama kita, selamanya. Tante Cantik bilang Iya saat Ayah memintanya menikah dengan Ayah.”

​Mata Jisoo melebar. Ia menatap cincin itu, lalu menatap wajah Jiwon, kemudian Ayahnya, dan akhirnya ke cincin lagi. Ekspresinya berubah dari terkejut menjadi kegembiraan yang eksplosif.

​“Benarkah? Benarkah, Tante Cantik?!” teriak Jisoo, bangkit dari kursinya. Ia berlari ke Jiwon dan memeluknya erat-erat di leher.

​Jiwon membalas pelukan itu, merasakan napas putrinya di lehernya. “Benar, Sayang. Janji ini nyata.”

​Jisoo melepaskan pelukan Jiwon, lalu ia tiba-tiba berlari kembali ke kursinya. Ia merogoh saku ranselnya dan mengeluarkan sesuatu—batu kecil yang kusam.

​“Batu Keberuntungan!” seru Jisoo, memegang batu itu dengan kedua tangan kecilnya. “Ayah, Ayah ingat? Janji batu keberuntungan kita terkabul! Aku berharap Ayah, Nenek, dan Tante Cantik tinggal bersama selamanya! Sekarang Tante Cantik mau menikah dengan Ayah!”

​Jisoo berlari kembali ke Jiwon, ia meraih tangan Jiwon, memegang cincin itu, dan mengusapnya dengan batu keberuntungannya.

​“Nah, sekarang harapannya pasti lebih kuat!” katanya puas.

​Jiwon merasa hatinya meleleh. Air mata tipis menggenang di matanya, air mata kelegaan yang manis. Pengakuan lamaran itu bukan dari Soohyun, melainkan dari putrinya sendiri, melalui batu kecil yang penuh harapan.

​“Kami akan menikah segera, Sayang,” kata Soohyun, mendekat dan mencium kepala Jisoo. “Hanya upacara kecil. Hanya kita, Nenek, dan beberapa teman terdekat.”

​“Upacara kecil?” tanya Jisoo, tampak berpikir keras. “Tidak ada gaun putri yang besar?”

​“Tentu saja ada gaun putri yang besar,” balas Jiwon cepat. “Mama—uh, Tante Cantik akan mendesain gaun yang paling indah untukmu. Gaun flower girl paling cantik di dunia. Dan Ayahmu akan membuat kue pernikahan yang paling lezat!”

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang