Jerat 23 End

405 72 21
                                        

​Malam menjelang hari perkiraan lahir. Udara di apartemen penthouse terasa tenang, namun diselimuti ketegangan manis yang tak terucapkan, seperti senandung sebelum sebuah simfoni besar dimulai. Kim Jiwon hari itu sudah diinstruksikan oleh dokternya untuk benar-benar beristirahat total, tidak bergerak kecuali untuk keperluan mendesak. Ia duduk di sofa besar ruang tamu, tubuhnya bersandar nyaman pada tumpukan bantal.

Kim ​Soohyun duduk di sebelahnya, mengenakan kaus rumahan yang lembut. Matanya tak pernah lepas dari Jiwon, selalu siaga untuk panggilan darurat sekecil apa pun, tangannya siap menangkap, memijat, atau memanggil Jungwoo. Ia bahkan sengaja mematikan notifikasi kantor agar fokusnya tidak terpecah.

Kim ​Sarang, yang sudah mengerti bahwa "adik bayi akan keluar besok," ikut bergabung dalam momen keheningan yang intim ini. Ia memanjat ke sofa di antara kedua orang tuanya, menyandarkan kepalanya di pangkuan Jiwon yang terasa seperti bukit lembut.

​"Ayah, Ibu," kata Sarang, matanya menatap langit-langit, suaranya kecil dan penuh pemikiran. "Nanti kalau adik bayi sudah di rumah, Sarang tidur di mana?"

​Soohyun tertawa kecil, mengusap rambut Sarang yang halus. "Tentu saja kau tidur di kamarmu sendiri, Sayang. Kenapa? Apa kau mau tidur bersama adik bayi?"

​"Tidak mau!" jawab Sarang cepat, ekspresi jijik muncul di wajahnya. "Mereka pasti menangis keras sekali! Nyonya Park bilang bayi itu suka menangis. Sarang kan sudah besar, tidak menangis lagi, jadi Sarang tidur di kamar sendiri!"

​"Pintar!" puji Jiwon, mencium kepala putrinya dengan sayang. "Kau memang sudah besar, sudah siap jadi kakak hebat."

​Jiwon kemudian meraih tangan Soohyun yang siaga, dan tangan Sarang yang kecil, meletakkannya di antara mereka di atas perut besarnya. Tiga tangan yang terjalin erat, membentuk lingkaran perlindungan di sekitar si kembar.

​"Lihat, Sayang," kata Jiwon, tatapannya lembut, penuh makna. "Mulai besok, kita akan jadi keluarga berlima. Ruangan kita akan lebih ramai, dan tawa kita akan lebih nyaring."

​Sarang mendongak, matanya yang besar berbinar seperti bintang. "Sarang senang sekali!" Ia menoleh ke perut Jiwon, kemudian berbisik serius. "Sarang janji akan jadi kakak yang baik! Akan meminjamkan semua mobil-mobilan Sarang pada adik laki-laki, dan boneka cantik pada adik perempuan! Sarang tidak akan cemburu!"

​Soohyun tersenyum, hatinya menghangat dan matanya berkaca-kaca melihat kepolosan dan kemurahan hati putrinya. "Itu janji yang sangat besar, Sarang-ah. Kau harus menepatinya, ya."

​"Tentu saja!" Sarang menegakkan badannya, bangga dan bersemangat.

​Soohyun membelai rambut Jiwon yang bersandar di bahunya. "Kau tahu, Jiwon, rasanya seperti baru kemarin kita berdua. Lalu Sarang lahir, dan hidup kita sudah terasa lengkap. Dan sekarang.. dua lagi akan datang. Rasanya seperti hadiah yang tidak pernah berhenti. Cinta yang melimpah."

​"Aku setuju," balas Jiwon, suaranya sedikit emosional. Ia menyandarkan kepalanya lebih erat pada bahu suaminya, menghirup aroma khas Soohyun. "Ini adalah momen terakhir kita bertiga, Soohyun. Hanya kita berdua, Sarang, dan si kembar yang masih aman di dalam sini. Mari kita nikmati keheningan ini sebelum rumah kita menjadi taman kanak-kanak."

​Soohyun mengamati Sarang, yang kini sedang berbicara dengan perut Jiwon, memberikan instruksi-instruksi lucu kepada adik-adiknya tentang mainan apa saja yang harus mereka mainkan terlebih dahulu.

​"Sarang, bilang ke adik bayi," kata Soohyun, suaranya jahil, mencoba menarik perhatian Jiwon dari keharuan. "Bilang, Ayah berharap mereka tidak terlalu mirip dengan Ibu. Nanti di rumah jadi banyak yang keras kepala dan suka mengomel"

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang