Keesokan paginya, suasana di antara Hyunwoo dan Haein masih terasa tegang dan canggung. Mereka sarapan dalam diam, pikiran masing-masing dipenuhi dengan rencana untuk mencari informasi tentang prosedur aborsi. Setelah sarapan, Hyunwoo mengatakan bahwa ia harus pergi ke kantor lebih awal, meninggalkan Haein sendirian di rumah dengan pikiran yang berkecamuk.
Haein menghabiskan pagi itu dengan mencari informasi secara daring tentang klinik kandungan dan prosedur terminasi kehamilan di Seoul. Setiap artikel dan forum yang ia baca membuatnya semakin tidak nyaman. Meskipun secara logika ia tahu bahwa ini adalah pilihan yang paling rasional, hatinya terasa berat.
Siang harinya, Haein memutuskan untuk pergi ke sebuah klinik kandungan yang direkomendasikan oleh salah satu temannya. Ia membuat janji temu dengan alasan ingin melakukan pemeriksaan rutin. Ia tidak memberitahu Hyunwoo tentang keputusannya ini. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya sebelum membuat keputusan final.
Klinik itu terletak di sebuah gedung perkantoran modern di kawasan Gangnam. Ruang tunggunya terasa tenang dan nyaman, dihiasi dengan lukisan-lukisan bernuansa ibu dan anak. Haein duduk di salah satu kursi, merasa gugup dan cemas. Ia memperhatikan ibu-ibu hamil lain yang sedang menunggu giliran, membelai perut mereka dengan penuh kasih sayang. Pemandangan itu membuatnya semakin bimbang.
Setelah menunggu beberapa saat, seorang perawat memanggil namanya. Haein mengikuti perawat itu menuju sebuah ruangan pemeriksaan yang dilengkapi dengan peralatan medis modern dan layar monitor USG. Seorang dokter wanita dengan senyum ramah menyambutnya.
"Selamat siang, Nyonya Hong," sapa dokter itu dengan lembut. "Ada keluhan apa?"
"Saya.. saya hanya ingin melakukan pemeriksaan rutin," jawab Haein, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Dokter itu mengangguk dan meminta Haein berbaring di ranjang pemeriksaan. Ia mengoleskan gel dingin di perut Haein dan mulai menggerakkan alat USG di atasnya. Haein menatap kosong ke arah langit-langit ruangan, merasa tegang dan tidak sabar.
Tiba-tiba, dokter itu tersenyum dan menunjuk ke arah layar monitor. "Lihat ini, Nyonya Hong. Ini dia bayi Anda."
Haein mengalihkan pandangannya ke layar. Awalnya, ia hanya melihat gambar abu-abu yang samar-samar. Namun, kemudian dokter itu memperbesar gambar dan menunjuk pada sebuah titik kecil yang berkedip-kedip.
"Ini detak jantungnya," kata dokter itu dengan nada lembut.
Suara lemah namun pasti dari detak jantung bayi Haein tiba-tiba terdengar melalui speaker kecil di ruangan itu. Duk.. duk.. duk.. Suara itu sederhana, namun memiliki kekuatan yang luar biasa.
Haein terpaku menatap layar monitor. Air mata tiba-tiba mengalir tanpa bisa ia tahan. Ia melihat janin kecil yang ada di dalam perutnya, sebuah kehidupan yang baru saja dimulai. Suara detak jantung itu terasa begitu nyata, begitu kuat, hingga menusuk jauh ke dalam hatinya yang selama ini terasa dingin dan beku.
"Semuanya terlihat baik-baik saja," lanjut dokter itu sambil tersenyum. "Usia kehamilan Anda sekitar enam minggu."
Haein tidak menjawab. Ia terus menatap layar, terhipnotis oleh gambar janinnya dan suara detak jantung yang memenuhi ruangan. Tiba-tiba, semua keraguan dan pertimbangan rasional yang selama ini ia pikirkan seolah menghilang begitu saja. Ada perasaan hangat dan lembut yang menjalar di dalam dirinya, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Anda ingin mendengar detak jantungnya lagi?" tanya dokter itu dengan penuh pengertian.
Haein mengangguk pelan, air matanya terus mengalir. Dokter itu kembali memperdengarkan suara detak jantung bayi Haein. Duk.. duk.. duk.. Setiap detakan terasa seperti panggilan, seperti bisikan kecil yang memintanya untuk tetap bertahan.
