Finding Truth in Lies 7

358 71 14
                                        

Setelah keluar dari klinik psikolog, Hyunwoo merasa ada beban yang sedikit terangkat dari pundaknya. Ia segera menghubungi sekretarisnya, mengabarkan bahwa ia tidak akan kembali ke kantor hari ini. Ia ingin segera pulang dan berbicara dengan Haein.

Sesampainya di apartemen, Hyunwoo langsung mencari Haein. Ia menemukannya sedang duduk di ruang tamu, membaca buku.

"Haein," sapa Hyunwoo lembut.

Haein mendongak, melihat Hyunwoo. "Kamu sudah pulang?" tanyanya datar.

"Ya," jawab Hyunwoo sambil menghampirinya dan duduk di sofa yang berlawanan. "Aku.. aku baru selesai dari sesi terapi pertamaku."

Haein menutup bukunya dan menatap Hyunwoo dengan tatapan ingin tahu. "Bagaimana?" tanyanya singkat.

Hyunwoo menghela napas pelan. "Awalnya aku sangat gugup, seperti yang kamu duga. Menceritakan semua ini kepada orang asing terasa sangat sulit. Tapi.. Tuan Lee sangat baik dan pengertian. Aku merasa sedikit lebih lega setelah berbicara dengannya."

"Apa yang dia katakan?" tanya Haein, nada suaranya sedikit lebih lembut.

"Dia menyarankan beberapa hal untuk langkah awal," jawab Hyunwoo. "Dia bilang aku harus mencoba mengenali dan menerima emosiku tanpa menghakiminya. Dan dia juga menyuruhku untuk fokus pada kualitas-kualitas positif dalam dirimu, Haein."

Haein terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Itu bagus kalau begitu."

"Ya," lanjut Hyunwoo. "Dan dia juga menjadwalkan pertemuan lagi minggu depan."

Hyunwoo menatap Haein dengan tatapan penuh harap. "Aku ingin kamu tahu, Haein, aku serius dengan ini. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk berubah. Aku ingin kita bisa bahagia bersama."

Haein menghela napas panjang. "Aku harap begitu, Hyunwoo. Aku benar-benar harap begitu."

Setelah beberapa saat berbincang tentang sesi terapinya, Haein berdiri. "Kamu sudah makan malam?" tanyanya pada Hyunwoo.

Hyunwoo menggelengkan kepalanya. "Belum. Aku langsung pulang setelah dari klinik."

"Baiklah," kata Haein. "Aku akan membuatkan sesuatu. Kamu mau makan apa?"

Hyunwoo menatap Haein, merasa terharu dengan tawaran sederhana itu. Ini adalah pertama kalinya Haein menawarkan untuk memasak untuknya sejak pertengkaran mereka.

"Apa saja, Haein," jawab Hyunwoo lembut. "Terima kasih."

Haein mengangguk dan berjalan menuju dapur. Hyunwoo mengikutinya, berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Haein yang mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Ada kehangatan yang tiba-tiba terasa di apartemen mereka, kehangatan yang sudah lama hilang.

Mereka berdua bekerja sama di dapur, Haein menyiapkan nasi dan lauk sederhana, sementara Hyunwoo membantunya mencuci sayuran. Tidak banyak percakapan yang terjadi, namun kebersamaan itu terasa nyaman dan alami.

Saat makanan sudah siap, mereka duduk bersama di meja makan. Haein menyendokkan nasi ke piring Hyunwoo, dan Hyunwoo melakukan hal yang sama untuk Haein. Mereka makan dalam diam, namun kali ini keheningan itu tidak terasa canggung atau tegang. Ada rasa damai yang perlahan menyelimuti mereka.

Setelah selesai makan, Hyunwoo membantu Haein membereskan meja dan mencuci piring. Mereka bekerja sama dengan tenang, tanpa ada kata-kata yang terucap. Namun, bagi Hyunwoo, momen-momen sederhana seperti ini terasa begitu berharga. Ini adalah tanda bahwa Haein mungkin memang benar-benar memberikan mereka kesempatan kedua. Ia bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan terus berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik bagi Haein.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang