Penebusan 3

335 71 8
                                        

Setelah mengantar Gunwoo ke Taman Kanak-kanak 'Bintang Kecil', Jiwon melangkah kembali menuju Sweet Corner. Jalanan yang tadi ramai dengan celotehan dan tawa renyah Gunwoo kini terasa sunyi, seolah dunia ikut menahan napas bersamanya. Keheningan itu, bagi Jiwon, bukan lagi hal yang menakutkan, melainkan sebuah ruang sakral. Ruang untuk bernapas, untuk memfokuskan pikirannya, mengumpulkan setiap keping tekad pada apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 08.15 pagi. Waktu terbaik untuk memulai adonan roti hari ini, saat udara masih sejuk dan energinya baru terisi penuh.

Saat jari-jarinya menyentuh kenop pintu dan mendorongnya perlahan, aroma manis dari roti yang baru selesai dipanggang semalam, berpadu dengan wangi kopi yang baru diseduh, menyeruak menyambutnya. Aroma itu, seperti pelukan hangat, selalu berhasil mengusir sisa-sisa kegelisahan yang mungkin masih menempel. Di dalam toko, dua karyawannya sudah memulai pekerjaan mereka dengan cekatan.

Minjun, yang dikenal dengan kecepatan dan keramahannya di bagian kasir, sedang membersihkan meja display kaca hingga berkilau, mengelap remah-remah halus dengan kain bersih. Sementara itu, Hana, sibuk mengatur adonan awal untuk kue-kue hari ini, gerakannya ritmis dan terampil.

"Selamat pagi, Minjun, Hana!" sapa Jiwon, senyumnya cerah, memantulkan cahaya pagi yang masuk dari jendela toko. Ia meletakkan tas tangannya di balik meja kasir, tempatnya yang selalu sama setiap pagi.

Minjun mendongak, senyum lebar terlukis di wajahnya. "Selamat pagi, Bos! Wah, Bos terlihat segar sekali hari ini!" serunya ceria, suaranya memenuhi ruangan.

Hana menoleh dari dapur, rambutnya sudah terikat rapi dengan bandana bermotif, senyumnya tak kalah lebar. "Selamat pagi, Bos! Siap untuk menggempur dapur lagi?" gurau Hana, yang selalu tahu bagaimana cara membangkitkan semangat Jiwon.

Jiwon tertawa kecil. "Tentu saja! Siapkan mental kalian, hari ini kita akan membuat keajaiban!" Ia segera mengenakan apron linennya yang bersih, mengikat rambutnya lebih erat dengan gerakan cepat, dan menggulung lengan bajunya hingga siku, memperlihatkan lengan yang terbentuk dari bertahun-tahun menguleni adonan. "Bagaimana stok hari ini? Ada pesanan khusus yang perlu perhatian ekstra?" tanyanya, sembari memeriksa catatan pesanan di tablet yang tergantung di dinding dekat kasir.

"Stok aman, Bos. Roti gandum kemarin laku keras, tapi sudah dihitung ulang persiapannya untuk hari ini. Ada pesanan kue ulang tahun untuk sore nanti, tapi Hana sudah mengurus detail decorating-nya. Tinggal dipanggang sesuai jadwal," lapor Minjun, jari-jarinya menari di atas keyboard tablet, mengecek data inventaris.

Jiwon mengangguk puas. "Bagus! Pertahankan kecepatan itu." Ia melangkah menuju dapur, sebuah ruangan yang dulunya hanya dapur sewaan kecil, kini menjadi jantung berdenyut Sweet Corner. Di sana, di antara aroma ragi, tepung, dan mentega, ia merasa paling hidup. Adonan-adonan roti mengembang sempurna di nampan-nampan besar, siap untuk masuk oven. Meja stainless steel berkilau bersih, mencerminkan cahaya lampu dapur, dan rak-rak dinding penuh dengan berbagai jenis tepung premium, biji-bijian, dan bahan-bahan organik, tertata rapi dalam wadah kaca.

"Hana, sudah sampai mana adonan croissant?" tanya Jiwon, tangannya sudah meraih mixer besar yang mengkilap, seolah alat itu adalah perpanjangan tubuhnya.

"Sudah siap digilas, Bos! Saya sudah siapkan mentega dinginnya, dipotong dadu presisi seperti yang Bos ajarkan!" jawab Hana, mengambil balok-balok mentega dari kulkas khusus adonan.

Jiwon tersenyum. "Bagus, Hana. Ketepatan adalah kunci croissant yang sempurna." Ia mulai bekerja. Gerakannya lincah, penuh tenaga, namun tetap terkontrol. Ia memasukkan tepung protein tinggi, gula pasir yang berkilau seperti kristal, ragi aktif, dan air dingin ke dalam mangkuk mixer raksasa. Mengamati adonan yang berputar perlahan, lalu semakin cepat, membentuk gumpalan elastis yang sempurna, adalah pemandangan yang tak pernah membosankan baginya. Tangannya yang dulu lembut dan rentan, kini kuat dan terlatih, penuh kapalan kecil yang menjadi saksi bisu perjuangannya, dari gesekan adonan panas dan dingin, dari jam-jam panjang berdiri. Setiap kali ia menguleni adonan, ia merasakan koneksi mendalam. Ini bukan hanya sekadar membuat roti, ini adalah terapi, pengingat akan perjuangannya yang tak kenal lelah, dan janji untuk masa depan Gunwoo yang lebih baik.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang