Baek Hyunwoo berdiri di tengah Grand Ballroom Hotel Shilla, sebuah permata arsitektur yang malam itu disinari ribuan lampu gantung kristal dan pijar lampu kota Seoul yang berkilauan. Pesta tahunan Asosiasi Pengusaha Muda Korea sedang mencapai klimaksnya—dentuman musik jazz yang halus, hiruk-pikuk tawa sopan, dan clinking gelas kristal Baccarat yang tak terhitung. Sebagai Wakil Presiden Direktur KS Group, Hyunwoo adalah pusat gravitasi yang tak terbantahkan.
Tuksedo navy dari Tom Ford memeluk bahunya yang lebar, memancarkan aura kekuasaan yang elegan. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, matanya yang tajam dan cerdas menyiratkan kebosanan yang mendalam, sebuah ekspresi yang sangat ia kenali dari rutinitas sosialitas chaebol yang munafik.
Di sampingnya, Lee Haneul, pewaris perusahaan kosmetik terkemuka, tertawa kecil, melingkarkan jemarinya yang terawat di lengan Hyunwoo. "Oppa, kau tampak tidak menikmati malam ini. Wajahmu seolah sedang menghitung laba rugi kuartal," godanya dengan nada manja yang dibuat-buat.
Hyunwoo menyesap single malt whiskey di tangannya, rasa asap yang hangat menggelitik tenggorokannya. Ia menjauhkan diri sedikit dari sentuhan Haneul dengan gerakan yang hampir tak terlihat. "Haneul-ssi, aku lebih suka berhadapan dengan angka daripada wajah-wajah bertopeng. Malam ini hanya formalitas yang membuang waktu. Jika saja aku bisa melarikan diri ke kantor dan memproses data.." Suaranya terdengar datar, nyaris sinis.
Saat itulah, pandangannya yang lelah terhenti.
Di ujung ruangan, dekat sebuah jendela besar yang menawarkan pemandangan Seoul yang spektakuler, berdiri satu-satunya sosok yang tidak berusaha menyatu dengan keramaian. Hong Haein.
Ia mengenakan gaun sutra hitam rancangan haute couture yang sederhana namun mematikan. Potongan busana itu menonjolkan lekuk tubuhnya tanpa perlu ornamen berlebihan. Wajahnya yang sangat cantik dan aristokratik tidak menampilkan senyum, tidak pula kemarahan. Hanya kekosongan yang angkuh. Ia tampak seperti patung yang terbuat dari es dan berlian, terisolasi seolah-olah ia sengaja membangun dinding kaca antipeluru di sekelilingnya.
"Astaga, Ratu Es datang," bisik Haneul, suaranya tiba-tiba penuh kekaguman dan kecemburuan. Ia menghentikan tawanya.
Hyunwoo menyipitkan matanya. "Ratu Es?" Meskipun ia sering mendengar julukan itu dalam obrolan para konglomerat, ini pertama kalinya ia melihatnya secara langsung.
"Tentu saja. Hong Haein. Satu-satunya pewaris Queens Group yang sesungguhnya. Semua orang memanggilnya begitu," sahut Haneul, menyentuh kalung berliannya dengan gugup. "Kudengar dia baru saja memecat Direktur Pemasaran yang sudah mengabdi selama tiga puluh tahun hanya karena direktur itu salah memilih warna font dalam presentasi dewan direksi. Sangat kejam."
Choi Mina, teman Haneul yang berdiri di dekatnya, menambahkan dengan suara gemetar, "Kejam? Itu bahkan belum seberapa. Bibiku bekerja di kantor pusat Queens. Katanya, tidak ada yang berani berpapasan mata dengannya di lorong. Dia tidak pernah berteriak, tapi tatapannya.. Dingin, tanpa emosi, seperti pisau es."
Direktur Park, seorang eksekutif menengah yang mencoba menjilat Hyunwoo, merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Saya pernah berada di rapat bersamanya. Dia berbicara kepada para eksekutif senior, pria-pria tua berpengalaman, seolah-olah mereka adalah debu di sepatunya. Saya rasa.. dia memiliki sociopathy tingkat ringan. Hanya peduli pada kekuasaan. Tidak ada yang lain."
Hyunwoo menyimak, rasa kebosanan yang menusuknya kini tergantikan oleh rasa penasaran yang gelap dan berbahaya. Ia telah mengenal banyak wanita ambisius di kalangan chaebol, tetapi wanita yang satu ini memiliki reputasi yang melampaui batas kewajaran. Ia memegang kendali atas emosi sekitarnya dengan ketiadaan emosinya sendiri.
