Penebusan 12

429 63 23
                                        

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membelai wajah Kim Jiwon yang masih terlelap. Ia mengerjapkan matanya perlahan, merasakan kehangatan yang berbeda dari biasanya. Sebuah lengan kekar melingkar nyaman di pinggangnya, dan aroma maskulin yang dikenalnya memenuhi indra penciumannya. Jiwon tersenyum tipis. Ini bukan mimpi. Ini adalah pagi pertama ia terbangun sebagai istri Kim Soohyun.

Ia berbalik pelan, menghadap Soohyun yang masih terlelap di sampingnya. Wajah Soohyun terlihat damai, rambutnya sedikit berantakan, dan napasnya teratur. Jiwon mengamati setiap detail wajah pria itu, mengingat kembali semua perjalanan yang telah mereka lalui untuk sampai pada titik ini. Ada rasa haru yang tak terkira memenuhi hatinya.

Jiwon mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pipi Soohyun. Sentuhan itu cukup untuk membuat Soohyun sedikit menggeliat. Matanya perlahan terbuka, menampakkan pupil hitam yang indah. Sebuah senyum mengembang di wajah Soohyun begitu matanya menangkap Jiwon.

"Selamat pagi, istriku," bisik Soohyun, suaranya serak, namun penuh kehangatan. Ia tersenyum nakal. "Kau bangun lebih dulu, ya?"

Wajah Jiwon merona. "Selamat pagi, suamiku," balasnya, dengan suara pelan. "Aku.. aku tidak menyangka akan terbangun seperti ini."

Soohyun terkekeh pelan. Ia menarik Jiwon mendekat, hingga tubuh mereka saling menempel. Aroma vanilla dari rambut Jiwon dan kulitnya yang lembut langsung memenuhi indera penciuman Soohyun. Ia membiarkan kepalanya bersandar di bantal, menatap Jiwon dengan mata penuh cinta.

"Aku juga," Soohyun mengakui. "Tapi ini adalah pemandangan terbaik yang pernah kulihat saat bangun tidur."

Jiwon membalas tatapan Soohyun, hatinya berdesir. Ada kebahagiaan yang terpancar dari mata pria itu.

Soohyun perlahan mendekatkan wajahnya. Hidung mereka bersentuhan, dan Jiwon bisa merasakan napas hangat Soohyun menerpa bibirnya. Jantungnya berdegup kencang.

"Morning kiss," bisik Soohyun, lalu bibirnya menyentuh bibir Jiwon dengan lembut. Ciuman itu lambat, penuh kelembutan, dan sarat akan perasaan yang mendalam. Soohyun mencium Jiwon seolah waktu berhenti, seolah tidak ada hal lain di dunia selain mereka berdua. Tangan Jiwon naik, melingkar di leher Soohyun, membalas ciuman itu dengan segenap perasaannya.

Ciuman itu semakin dalam, membawa mereka pada gelombang emosi yang kuat. Ini adalah ciuman yang mengukuhkan janji mereka, ciuman yang merayakan kebersamaan yang telah lama hilang dan kini kembali ditemukan. Jiwon bisa merasakan cinta Soohyun yang tulus, dan ia membalasnya dengan cinta yang sama besarnya.

Ketika Soohyun melepaskan ciuman mereka, Jiwon terengah, pipinya sangat merah. Ia menatap Soohyun, matanya berbinar. "Morning kiss?" ia mengulang, suaranya sedikit serak.

Soohyun tersenyum puas, mengusap bibir Jiwon dengan ibu jarinya. "Tentu saja. Ritual baru kita setiap pagi, Nyonya Kim." Ia terkekeh. "Bagaimana? Enak?"

Jiwon memukul pelan dada Soohyun, malu. "Dasar!" Namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.

Soohyun menarik Jiwon lebih dekat, mendekapnya erat seolah ingin menghapus semua jarak dan waktu yang pernah memisahkan mereka. Bibir mereka kembali bertaut, lebih menuntut, lebih lapar. Jiwon membalas ciuman Soohyun dengan intensitas yang sama, tangannya menelusuri punggung pria itu, merasakan otot-otot di bawah kaus piyamanya.

Napas mereka berpadu, hangat dan terengah. Tangan Soohyun bergerak naik dari pinggang Jiwon, menyusuri lekuk tubuhnya dengan perlahan, menciptakan jejak geli di kulit Jiwon. Jari-jarinya menyentuh sisi gaun piyama Jiwon, lalu perlahan naik, membelai punggung dan bahunya. Jiwon mengerang pelan dalam ciuman, dorongan hasrat yang telah lama terkunci kini kembali membara.

Oneshoot!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang